Politik
Nadiem Makarim Keliru Bandingkan Sekolah dengan Mall, PTM Perlu Ditunda

Mendikbud Ristek Nadiem Makarim ngotot PTM dibuka Juli 2021 (Ist)
FAKTUALid – Sekolah sudah pasti berbeda dengan mall, kantor dan tempat wisata. Karena itu keliru bila Mendikbud Ristek Nadiem Makarim membandingkan hal itu ketika ngotot minta pelajaran tatap muka di sekolah pada Juli 2021 mendatang. Saat Covid-19 masih tinggi PTM perlu ditunda dulu.
Begitu tanggapan beragam yang muncul setelah Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Riset Dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim ngotot agar pelajaran tatap muka di sekolah pada Juli 2021.
Meski keinginan ini diambil di saat kasus pandemic virus corona (Covid-19) sedang melonjak pascalibur Lebaran, namun Nadiem tetap teguh dengan pendiriannya. Bahkan Nadiem membandingkan anatar mall dan tempat belanja kantor yang telah dibuka.
Selain itu, sikap Nadiem yang bersikeras memperbolehkan sekolah tatap muka pada Juli sudah disampaikannya dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Senin (31/5/2021).
“Kenyataannya adalah mal, bioskop, dan semua tempat kerja sudah dibuka untuk tatap muka. Jadinya, sudah saatnya sekolah-sekolah kita melakukan tatap muka terbatas,” kata Nadiem.
Nadiem tidak ingin terus menerus terjadi kegiatan pendidikan terutama sekolah tatap muka belum berjalan 100 persen seiring masih terjadinya pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun.
Dia menegaskan, tidak posisi tawar menawar demi pendidikan, terlebih masa depan Indonesia sangat bergantung pada sumber daya manusia (SDM).
“Tidak ada tawar-menawar untuk pendidikan, terlepas dari situasi yang kita hadapi,” kata Nadiem dalam acara yang disiarkan YouTube Kemendikbud Ristek RI pada Rabu (2/6/2021).
Berbagai pendapat pun muncul menanggapi kengototan Nadiem itu. Ada yang akan mengkaji dulu penegasan Nadiem. Dalam bagian lain ada yang meminta PTM ditunda dulu karena keliru membandingkan sekolah dengan mall.
Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta melalui Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan, akan mengkaji lebih dulu terhadap rencana itu dengan melibatkan berbagai pihak.
Satgas Covid-19 seperti dikatakan Juru Bicara Prof Wiku Adisasmito, pemerintah melalui Kemendikbud Ristek telah meluncurkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka di masa pandemi Covid-19.
Dia menjelaskan, panduan ini diperuntukkan bagi Pendidikan Anak Usia Dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (PAUDdikdasmen).
Panduan ini merupakan alat bantu bagi guru dan tenaga kependidikan, dalam memudahkan persiapan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas
Sebelum penyelenggaraannya, pemerintah daerah harus memastikan bahwa kesehatan, keselamatan dan keamanan siswa menjadi prioritas utama. Dalam penyelenggaraannya kelak, sekolah tatap muka dan sekolah daring bisa dikombinasikan agar kesehatan dan keselamatan warga pendidikan dapat terus menjadi prioritas.
Keliru Dan Tunda
Politikus Partai Gerindra Fadli Zon menilai keputusan menerapak PTM pada Juli mendatang sangat berisiko apabila benar-benar dilakukan di tengah keadaan pandemi covid-19.
Melalui sebuah cuitan di akun Twitter pribadinya, Sabtu (5/6/2021), Fadli memberikan respon cuitan Profesor Zubairi Djoerban yang menilai soal wacana sekolah tatap muka.
Menurut Fadli, wacana pembukaan sekolah tatap muka harus ditunda karena sangat berbahaya. “Membuka sekolah tatap muka harus ditunda. Sangat berbahaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, menurut Fadli, pemerintah lebih baik fokus meredakan pandemi covid-19 daripada membuka peluang penyebaran kasus.
“Lebih baik fokus meredakan pandemi ini ketimbang buka peluang penyebaran massal yang nantinya kita sesali,” ungkapnya.
Sebab menurutnya, keselamatan siswa dan keluarga perlu menjadikan prioritas.
“Lebih baik tunda 3 sampai 6 bulan sampai situasi terukur dan kondusif. Keselamatan siswa dan keluarga harus jadi prioritas,” jelasnya.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menyarankan kepada Mendikbud Ristek Nadiem Makarim sebaiknya sekolah tatap muka ditunda karena covid-19 masih ada. Hendri juga tegaskan bahwa keliru jika Nadiem bandingkan mall yang sudah di buka dengan sekolah yang di buka.
“Keliru bila membandingkan dibukanya sekolah dengan dibukanya Mall atau tempat wisata saat Pandemi. Mall atau tempat wisata adalah pilihan, tidak ada prioritas dalam kunjungan wisata atau mall, sementara pendidikan adalah prioritas,” kata Hendri seperti dikutip dari laman Twitter pribadinya, @satriohendri, Sabtu (5/6/2021).
Menurut dosen komunikasi politik Universitas Paramadina ini bahwa Pendidikan adalah prioritas yang penting dan utama. Apalagi kata dia, hingga saat ini vaksin covid untuk anak-anak belum ada, maka resiko “wajib” tertular akan ada.
“Saat menuju sekolah, saat di sekolah, saat kembali ke rumah, anak-anak kita akan beresiko tertular, sementara orang tua tidak punya pilihan lain selain merelakan anaknya ke sekolah, padahal masih ada pilihan untuk menunda sedikit lagi pendidikan tatap muka dan stay online,” ujarnya.
Founder lembaga survei KedaiKOPI ini menilai, berwisata atau ke Mall sesungguhnya tidak ada kewajiban, itu pilihan dengan resiko yang ditanggung setiap orang tua.
“Bila ingin keluarganya tetap sehat ya tetap di rumah aja dulu atau kalau pun pengen banget wisata dan ngemall cari waktu tepat dan prokes ketat,” tegasnya. ***









