Connect with us

Politik

May Day, Buruh Gelar Aksi Tuntut Pemilu Jurdil, Harga Turun dan Tolak UU Cipta Kerja

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Aksi para buruh dalam memperingati Hari Buruh Dunia atau May Day beberapa waktu lalu

Aksi para buruh dalam memperingati Hari Buruh Dunia atau May Day beberapa waktu lalu

FAKTUAL-INDONESIA: Memperingati Hari Buruh Internasional, Minggu, 1 Mei 2022, para buruh akan menggelar aksi di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI dan  Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.

Dalam aksi May Day itu sejumlah serikat pekerja akan menuntut pemilihan umum yang jujur dan adil (jurdil), pemerintah menurunkan harga-harga barang dan membuat kebijakan yang menyejahterakan kelompok pekerja.

Tentang aksi May Day di Kantor KPU dan Buderan HI itu Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyampaikan, hal itu merupakan bukti kelompok buruh punya kesadaran politik.

Oleh karena itu, aksi di depan KPU RI jadi penting, karena lembaga itu yang memastikan pemilihan umum dapat berjalan tepat waktu, jujur, dan adil, kata Said Iqbal, yang saat ini turut menjabat sebagai Presiden Partai Buruh.

“Untuk pemilihan presiden dan pemilihan (anggota) legislatif menjadi penting bagi buruh, karena buruh sudah sadar politik. Banyak produk-produk politik yang diputuskan Presiden dan DPR yang merugikan buruh,” kata dia sebagaimana disiarkan di kanal YouTube resmi Partai Buruh di Jakarta, Jumat.

Advertisement

Dalam aksinya itu, serikat buruh meminta KPU memastikan pemilihan umum berjalan bersih, jujur, dan adil.

“Pemilu yang tidak jujur dan adil berimplikasi pada kemenangan partai oligarki yang dikuasai pemilik modal. (Oleh) karena itu, kebijakan yang dihasilkan pun akan cenderung menguntungkan kepentingan bisnis. Produk undang-undangnya akan berpihak pada pemilik modal,” katanya.

Serikat buruh juga akan memberi dukungan langsung kepada KPU untuk terus menolak politik uang.

“Buruh meminta tidak ada money politic (politik uang, Red.). Jika ada politik uang, KPU harus berani memberi sanksi tegas, kalau perlu bagi partai yang menggunakan politik uang (agar) didiskualifikasi,” katanya.

Ia menjelaskan politik uang merupakan cara berpolitik yang curang. Jika cara itu dibiarkan, maka hasil pemilu akan merugikan masyarakat.

Advertisement

Kelompok buruh juga kembali menyuarakan penolakan terhadap Undang-Undang Cipta Kerja serta revisi UU Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (PPP).

“Buruh akan mengkampanyekan (kepada masyarakat) agar tidak memilih partai yang menyetujui (revisi) UU PPP dan menyetujui pembahasan ulang UU Cipta Kerja,” ujar dia saat jumpa pers. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement