Politik
Indonesia Hadapi Tantantang dari Luar, Pancasila Harus Dipertahankan

Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Andreas Anangguru Yewangoe mengemukakan, Pancasila adalah warisan ideologis yang harus dipertahankan.
FAKTUAL INDONESIA: Indonesia yang telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara
kini menghadapi tantangan dari luar setelah di masa lalu menghadpi cobaan dalam perjalanan ideologi kebangsaan.
Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Andreas Anangguru Yewangoe mengemukakan, sejauh ini menurutnya perjalanan rasa kebangsaan tidak selalu mulus.
Terbukti dari sejarah yang telah mencatat gangguan ideologis, baik ideologi kiri dan kanan.
Karena itu menurut Andreas Anangguru Yewangoe, Pancasila adalah warisan ideologis yang harus dipertahankan.
“Dan sekarang Indonesia juga menghadapi tantangan dari luar,” kata Andreas dalam webinar tentang Pancasila dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang dipantau dari Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan, awalnya ideologi nasionalisme digunakan oleh bangsa-bangsa di barat untuk memperluas dan memperkuat imperialisme.
Namun Presiden Soekarno, membuat ideologi nasionalisme dengan Pancasila di dalamnya untuk mempersatukan bangsa Indonesia.
Dia pun mencontohkan, di masa lalu negara Yugoslavia bubar karena tidak memiliki warisan ideologis seperti yang dimiliki Indonesia. Menurutnya pemimpin di negara itu hanya memikirkan persenjataan untuk diwariskan ke penerus-nya.
“Semua sudah mengetahui Pancasila, tapi bagaimana kita mengamalkannya di kehidupan bersama,” katanya.
Sementara itu, Pemerhati Keberagaman Agama dari Universitas Washington Chris Seiple mengatakan pendidikan Pancasila menjadi hal yang penting agar generasi muda bisa memahami keberagaman di Indonesia.
Baca Juga : Bingung dengan Konsep Pembangunan Jangka Panjang, Megawati Minta KD Bikin Lagu ‘Poco-Poco Kepemimpinan’
Dia mengatakan setiap daerah memiliki langgam atau budaya yang berbeda-beda. Maka jika memiliki pemahaman tentang budaya lain, maka seseorang akan bisa menyeberang melintasi konteks yang berbeda-beda.
“Guru adalah pembangun jembatan, dengan membekali mereka tentang keragaman lintas budaya,” ujar Chris yang juga mengikuti webinar tersebut.
Menurutnya literasi keragaman lintas budaya itu bisa menciptakan hubungan dan kepercayaan di tengah masyarakat heterogen.
Ketika kepercayaan muncul di sekolah atau juga di lingkungan sekitar, maka hal itu pun akan terjadi secara keseluruhan di satu negara.
“Jika itu terjadi, ada saling menghormati, ada ketahanan, kita bisa mengatasi ekstrimisme,” ucapnya. ***














