Politik
Arifin Panigoro Berpulang di Amerika, Sosok Kontroversi Dituduh Gagalkan Pelantikan Presiden Soeharto

Arifin Panigoro menerima Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Joko Widodo
FAKTUAL-INDONESIA: Raja minyak dan gas bumi Indonesia Arifin Panigoro meninggal dunia di Amerika Serikat, Minggu (27/2) pukul 02.29 waktu Rochester Minneapolis atau Senin (28/2) pukul 03.29 waktu Indonesia Barat.
Arifin yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 14 Maret 1945 menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 77 tahun.
Pengusaha berdarah Gorontalo ini meninggal setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Alamat rumah duka berada di Jalan Jenggala I Nomor 2, Jakarta.
Selama ini Arifin lebih terkenal sebagai pengusaha sukses pendiri dan pemilik MedcoEnergi yang merupakan perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi swasta terbesar di Indonesia.
Namun sebenarnya perjalanan Alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung itu memiliki kisah yang penuh kontroversi dan bahkan menyerempet dengan bahaya karena bersebrangan dengan penguasa.
Langkah yang mengejutkan Arifin di luar urusan bisnisnya yang cemerlang tentunya terjadi di bidang politik dan olahraga.
Di kancah politik dia mencuat karena dituduh menggagalkan pelantikan Soeharto sebagai Presiden untuk masa jabatan yang ketujuh pada Sidang Umum MPR tahun 1998.
Artifin juga membuat geger dunia olahraga dengan langkahnya membuat kompetisi liga Indonesia tandingan ketika pemerintah menggoyang posisi Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI. Orang terkaya ke-47 di Indonesia menurut Majalah Forbes ini menggelar kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) yang akhirnya kandas di tengah jalan.
Dekat dengan Mahasiswa
Sejarah hidup Arifin juga dihiasi dengan jabatan Dewan Pertimbangan Presiden. Selain itu dia pernah menjadi anggota DPR dan pendiri partai.
“Petualangan politiknya” menjadi kontroversi ketika ia dituduh berupaya menggagalkan Sidang Umum MPR 1998 pelantikan Presiden Soeharto untuk ketujuh kalinya, karena ia melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh politik di Hotel Radisson, Yogyakarta pada tahun 1998. Sebuah memo dari asisten Wakil Presiden kala itu, Sofian Effendi, menuduhnya berencana melakukan makar.
Selanjutnya, ketika aksi mahasiswa semakin memanas, Arifin memberi bantuan konsumsi kepada para demonstran yang melakukan aksi di Gedung DPR. Ribuan kotak makanan dikirim. Tak heran jika kemudian muncul opini bahwa Arifin adalah tokoh di belakang aksi atau cukong para mahasiswa.
Tentang hal itu, dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa ia ingin mencegah terjadinya kekacauan.
“Saya katakan, salah satu yang membuat keadaan kita makin buruk adalah naiknya harga sembilan bahan pokok, sehingga muncul kerusuhan-kerusuhan. Kepedulian saya adalah jangan sampai hal itu berubah menjadi sentimen anti-China, muncul permusuhan muslim-nonmuslim, dan merebak ke seluruh Indonesia. Kalau itu sampai terjadi, akan timbul situasi chaos dan korbannya bisa sampai jutaan. Hal itu menjadikan kita semua harus peduli dan mengambil langkah-langkah sebelumnya,” kata Arifin Panigoro, dalam wawancara dengan D&R.
Di era Presiden Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999) yaitu BJ Habibie, Arifin Panigoro juga pernah dijerat dengan tuduhan pidana korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai lebih dari Rp 1,8 triliun. Pada waktu itu, sejumlah kalangan percaya dijeratnya Arifin karena kedekatannya dengan gerakan mahasiswa.
Perkenalannya lebih mendalam dengan dunia politik adalah ketika partai-partai baru bermunculan tahun 1998-1999 setelah lengsernya Presiden Soeharto. Pada awalnya, Arifin menjalin hubungan dengan berbagai tokoh politik, baik tokoh masyarakat yang sudah lama dikenal maupun tokoh yang baru muncul. Saat deklarasi partai baru dilangsungkan, Arifin kerap menghadirinya. Bersama Sudirman Said (kini Menteri ESDM), sempat pula ia mencoba menginisiasi gerakan untuk memunculkan Cendekiawan Muslim (alm), Nurcholish Madjid untuk menjadi presiden.
Arifin Panigoro kemudian bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada tahun 1999 untuk daerah pemilihan Kabupaten Tangerang dan terpilih sebagai anggota DPR.[
Ia juga sempat terpilih menjadi Ketua DPP dan Ketua Fraksi PDIP pada tahun 2002-2003. Kemudian, ia terpilih lagi di DPR RI di dapil Banten 1 yang saat itu meliputi Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, dan Kota Cilegon.
Akan tetapi, ia mengundurkan diri dari DPR dan PDIP pada tahun 2005 dan membentuk Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Gerakan Pembaharuan PDIP.
Dia turut bergabung dalam mendirikan partai baru yang bernama Partai Demokrasi Pembaruan bersama dengan Sophan Sophiaan, Laksamana Sukardi, Roy BB Janis, Sukowaluyo Mintorahardjo, Noviantika Nasution, Didi Supriyanto, Tjiandra Wijaya, Postdam Hutasoit, dan RO Tambunan.
Arifin memulai karirnya sebagai kontraktor instalasi listrik. Ia membangun Grup Medco yang bermula dari sebuah perusahaan kontraktor partikelir di bidang jasa pengeboran minyak dan gas bumi di daratan pada 1980.
Salah satu tonggak sejarah Medco adalah membeli Stanvac yang dimenangkan melalui tender yang kemudian namanya diubah menjadi Expan. Melalui pembelian itu, Stanvac tak lagi dimiliki asing, tetapi sudah sepenuhnya dimiliki oleh Medco.
Saat ini, Medco menggarap berbagai bisnis industri hulu berupa eksplorasi dan produksi migas, pertambangan tembaga, pertambangan emas; dan industri hilir di bidang pembangkit listrik.
Pada 13 Agustus 2019, dia menerima Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Joko Widodo***














