Olahraga
Petenis Putra Masa Depan Indonesia Rifqi Butuh Jam Terbang Internasional dan Perlu Difasilitasi

Petenis nomer satu Merah Putih, M. Rifqi Fitriadi. (Foto: Pelti)
FAKTUAL- INDONESIA: Bintang muda tenis putra Indonesia, M. Rifqi Fitriadi (23 tahun), butuh jam terbang internasional untuk memantapkan kemampuan dan mental guna siap jadi andalan menggantikan Christopher Rungkat jasi andalan Merah Putih di masa mendatang.
Sudah saatnya berkelana, mengembara ke segala arah ikut turnamen, meski sebnenarnya sudah relatif terlambat. Tapi lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali.
Rifqi, pasca meraup medali emas tunggal putra dan beregu PON Papua, seharusnya petenis kelahiran Banjarmasin (Kalimantan Selatan) yang punya panggilan Tole ini mulai merambah ITF World Tennis Tour. Bukan Piala Pangdam atau Mandiri Tennis Open sekalipun karena di tingkat nasional dia telah buktikan sebagai nomer satu.
“Saya terkendala karena belum punya peringkat internasional,” aku Rifqi usai sukses antar tim Davis Indonesia melumat Venezuela 3-0.
Sebagai petenis yang meniti karir tenis di Jawa Timur, sudah selayaknya Tole punya mental Bonek. Artinya, dia meski berani ikut serta di turnamen itf level M15K dimana pun bergulir. Sharm El Sheikh, Mesir dan Monastir, Tunisia bisa jadi pilihan lantaran hampir tiap pekan ada pertandingan.
Pekan ini, dua turnamen ITF level M15K di tempat itu punya empat slot kosong dari 64 kualifikasi dimana cut off unranked baik ATP maupun ITF. Artinya tetap besar kemungkinan bisa bermain kualifikasi meskipun tidak memiliki peringkat internasional sama sekali.
Hanya butuh kesungguhan hati untuk berani meniti jalan yang pasti tak akan pernah mudah.
Menunggu wild card yang diupayakan induk organisasi PP Pelti adalah sia-sia. Permintaan kartu sakti itu adalah proses tukar-menukar. Bagaimana mungkin berharap negara penyelenggara memberikan wild card untuk petenis dari sebuah negara yang jadwal turnamen internasionalnya juga belum jelas kapan akan diselengggarakan. Mending Rifqi modal bonek tapi bersungguh- sungguh ikut turnamen sambil menunggu ada ‘manusia gila tenis’ yang berkenan memfasilitasinya. ****














