Home News Kapal Induk Inggris Akan Bawa 18 Jet Tempur Siluman F-35

Kapal Induk Inggris Akan Bawa 18 Jet Tempur Siluman F-35

oleh Joko Ham
Jet Tempur Siluman F-35. (Ist)

Jet Tempur Siluman F-35. (Ist)

FAKTUALid –  Kapal Induk Inggris akan membawa sebanyak 18 jet tempur Siluman F-35 menyambangi Pelabuhan Busan, Korea Selatan.

Lho memangnya ada apa? Apa hubungan militer Inggris dengan Korsel sedang bersitegang? Bukan, ini hanya latihan gabungan antara Inggris, Korsel, dan Amerika Serikat.

Ya, kapal induk HMS Queen Elizabeth militer Inggris akan mengunjungi  pelabuhan di Busan, Korea Selatan, Agustus mendatang. Kapal militer raksasa itu akan membawa 18 jet tempur siluman F-35B .

Selama kunjungan nanti, militer kedua negara bersama Amerika Serikat (AS) diharapkan melakukan latihan militer gabungan.

Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan 18 jet tempur siluman F-35B yang akan dibawa terdiri dari sepuluh unit dari Skuadron Serangan Tempur VMFA-211 Marinir AS dan delapan unit dari Skuadron Nomor 617 Angkatan Udara Kerajaan Inggris.

“Kapal induk Kelas Queen Elizabeth dirancang secara internasional dan fakta bahwa mereka dapat mengoperasikan grup tempur udara campuran [AS-Inggris] adalah keuntungan strategis, menawarkan pilihan dan fleksibilitas bagi kedua negara,” kata kementerian itu, seperti dikutip dari berbagai sumber, Rabu (9/6/2021).

Departemen Pertahanan AS mengatakan tidak ada yang spesifik tentang kunjungan kapal induk ke Korea Selatan pada bulan Agustus, ketika Seoul dan Washington diperkirakan akan mengadakan latihan militer gabungan.

Bruce Bennett, seorang peneliti pertahanan senior di RAND Corporation, mengatakan kepada kantor berita tersebut bahwa pesawat tempur siluman F-35B pernah dikerahkan selama latihan skala besar di Korea pada tahun 2017.

Bennett mengatakan kemungkinan jet-jet tempur F-35B itu akan dikerahkan dalam latihan dengan 24 unit F-35 yang sudah ada di Korea.

Amerika Serikat dan Korea Selatan mengurangi latihan militer selama pemerintahan Presiden Donald Trump, karena Washington berusaha meningkatkan hubungan dengan Pyongyang.

Korea Utara telah menuntut diakhirinya latihan militer gabungan tersebut dan mengeklaim bahwa itu adalah “latihan untuk invasi”.

Selama sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat AS pada 18 Mei, Jenderal Paul LaCamera, yang akan memimpin Komando PBB dan Pasukan AS-Korea, mengatakan bahwa ia menyadari “risiko” bahwa latihan langsung dapat menjadi “potensi tawar-menawar”.

“Tugas saya adalah mengidentifikasi risiko itu dan kemudian mencari cara untuk menguranginya,” kata LaCamera.

Anggota Kabinet Presiden Korea Selatan Moon Jae-in telah menyatakan reaksi beragam terhadap latihan skala besar.

Menteri Unifikasi Korea Selatan Lee In-young mengatakan pada hari Minggu di sebuah program berita di jaringan KBS; “Latihan gabungan tidak boleh bekerja dengan cara yang menyebabkan atau semakin meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.”***

You may also like

Tinggalkan Komentar