Home NasionalNusantara PPKM Darurat, Jawa Tengah Catat 1.706 Pelanggaran

PPKM Darurat, Jawa Tengah Catat 1.706 Pelanggaran

oleh Ki Pujo Pandunung

 

Warung makan langgar prokes. (Istimewa)

FAKTUAL: Sebanyak 1.706 pelanggar terjaring operasi justisi penegakan peraturan PPKM Mikro Darurat di Jawa Tengah. Pelanggaran tertinggi terjadi di pedagang kaki lima (PKL), area publik hingga pertokoan.

Hal itu dilaporkan Pj Sekda Provinsi Jateng, Prasetyo Aribowo, kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat rapat evaluasi penanganan Covid-19 di Gedung A lantai 2 Pemprov Jateng, Senin (5/7/2021).

“Selama PPKM Mikro Darurat diterapkan, ada 1.706 pelanggaran terjadi. Pelanggaran terbanyak di pedagang kaki lima sebanyak 713, area publik 350 pelanggar dan pertokoan 269 pelanggar,” katanya.

Pelanggaran lain juga dijumpai di pasar tradisional, mall, kafe, karaoke, tempat ibadah, tempat seni budaya, olahraga, hajatan dan tempat wisata.
Untuk daerah yang paling banyak pelanggaran adalah Kabupaten Wonosobo (238 pelanggar), Purbalingga (216 pelanggar) dan Kendal (203 pelanggar).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan penerapan PPKM Mikro Darurat dalam tiga hari ini memang belum optimal. Masih banyak masyarakat melanggar aturan yang sudah ditetapkan.

“Saya memantau terus, hari pertama belum taat, hari kedua lumayan baik. Tadi pagi saya sepedaan sudah lumayan, warung-warung kursinya sudah dibalik. Saya senang masyarakat membantu,” ucapnya.

Ganjar mengatakan selalu mendapatkan laporan terkait penerapan PPKM Mikro Darurat di Jateng. Operasi-operasi justisi terus dilakukan, dan pelanggar terus diberikan arahan dan teguran keras. Rata-rata tidak pakai masker dan kerumunan di tempat-tempat keramaian. Petugas sudah tegas dengan mengambil tindakan berupa pembubaran. Ada bahkan yang disemprot dan sebagainya.

Pihaknya berharap, masyarakat sadar dan mendukung kebijakan pemerintah. Sebab jika ke depan pelanggaran masih tinggi, bukan tidak mungkin pemerintah akan mengambil tindakan lebih tega. Kalau nanti masih tinggi, kita gunakan yang lebih tegas. Contohnya, Perda yang beberapa waktu lalu digunakan di Banyumas. Yang melanggar bisa didenda.

Meski begitu, Ganjar meminta agar seluruh Bupati/Wali Kota aktif turun ke lapangan untuk memberikan edukasi dan sosialisasi. Tokoh agama dan tokoh masyarakat diminta diajak agar masyarakat patuh.

“Semua kepala daerah harus taat dan mengikuti aturan ini dengan baik. Sosialisasi dan edukasi harus terus dilakukan, sehingga harapannya masyarakat sadar. Kalau semua bergerak dalam frekuensi yang sama, maka kita bisa menyelesaikan persoalan ini juga dengan cara bersama-sama,” pungkasnya.***

Tinggalkan Komentar