Home Nasional Bamsoet: Spekulan ‘Bermain’ Dibalik Langkanya Oksigen dan Obat Covid-19

Bamsoet: Spekulan ‘Bermain’ Dibalik Langkanya Oksigen dan Obat Covid-19

oleh Bambang

Petinggi Partai Golkar Bambang Soesatyo. (ist)

FAKTUALid – Spekulan di tengah krisis kemanusiaan dituding Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI), Bambang Soesatyo, dikhawatirkan penyebab kelangkaan oksigen, tabung, hingga obat-obatan penyerta Covid-19.

Menyusul maraknya lokasi-lokasi pengisian oksigen, berkelilingnya ambulans bersirene, raibnya oksigen, & kemunculan tawaran sewa pakai tabung oksigen, hingga lonjakan pasien covid19, di media-media sosial.

Juga, diam-diam, Gubernur Anies Baswedan mengirim mobil petugas Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk mengawal truk bak terbuka berisi tabung-tabung besar oksigen dibeli dari PT Krakatau Steel, Cilegon, untuk disebar ke rumahsakit-rumahsakit Jakarta.

“Kami meminta aparat pemerintah, Pemda, dan keamanan, untuk mengawasi ketat kelancaran distribusi pasokan oksigen & tabung demi mengantisipasi spekulan yang menimbun dengan memanfaatkan situasi kritis & kepanikan masyarakat, yang melanggar hukum,” ujar Bambang Soesatyo, yang juga petinggi Golkar, menanggapi kondisi kekinian, Kamis (8/7/2021).

Bamsoet, panggilan akrabnya, juga mengimbau masyarakat segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan adanya spekulan penimbun tabung oksigen atau obat-obatan terkait covid19 serta menjual diatas harga yang ditentukan.

Kran Impor

Di tempat terpisah Menteri Perdagangan, M. Luthfi, memastikan impor produk oksigen lancar masuk Indonesia. Sementara Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan telah berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, untuk impor tabung oksigen ukuran 6 meter, 3 & 1 meter kubik demi memenuhi ruang-ruang darurat di rumah sakit.

“Pengaturan (pasokan oksigen) tidak ada di Kemendag sehingga tidak bisa menyatakan kenaikan impor karena Covid-19,” ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Oke Nurwan. “Sebab (pasokan oksigen) itu untuk kebutuhan Covid-19 diatur oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.”

Kemendag mencatat, sesuai data Badan Pusat Statistik, impor oksigen tren menurun dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 3.631 ton pada 2016, naik menjadi 3.886 ton (2017), lalu turun menjadi 2.319 ton (2018), sebanyak 1.724 oksigen (2019) dan 2020 turun lagi menjadi 1.258 ton oksigen pada 2020. Disusul Januari-April 2021 Indonesia mengimpor 528 ton oksigen.

Catatan Kemendag menyebut, Singapura menjadi supplier oksigen terbesar ke Indonesia pada 2020 sebesar 99,5 persen sisanya diperoleh dari Amerika Serikat dan China. Sementara kapasitas produksi oksigen nasional sebanyak 866 ribu ton per tahun.

Akan tetapi, utilisasi semua pabrik hanya 75 persen yang mengakibatkan jumlah produksi riil hanya 640 ribu ton per tahun dengan mayoritas atau 75 persen oksigen itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan beberapa industri baja dan nikel dimana sisa kuota kebutuhan medis hanya 25 persen atau 181 ribu ton per tahun.

“Jadi, dari manapun datangnya, kalau barang-barang itu sudah masuk ke dalam list, terutama sekarang ini oksigen, kita memastikan bahwa itu akan berjalan dengan baik,” ujar Mendag Lutfi saat konferensi pers virtual dari Jakarta. ****

Tinggalkan Komentar