Otomotif
Hasil Uji Coba B50 Positif Jadi Trademark RI, Kata Gaikindo

Sekretaris umum Gaikindo Kukuh Kumara dukung penggunaan B50. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) optimis dengan hasil uji coba bahan bakar biodiesel campuran 50 persen (B50) yang menunjukkan kinerja yang baik. Hal ini menurut Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara berpotensi menjadi ciri khas (trademark) tersendiri bagi Indonesia di kancah global.
Dia menyampaikan dukungan terhadap Program B50 merupakan bagian dari komitmen industri otomotif dalam mendukung kebijakan pemerintah, khususnya dalam efisiensi energi dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Baca Juga : Gaikindo Bidik Penjualan Mobil 850 Ribu Unit pada 2026
“B50 kita mendukung program pemerintah dan itu sudah dilakukan. Sejauh ini hasil sementara yang menunjukkan hal yang cukup bagus. Dan mudah-mudahan ini juga menjadi alternatif tersendiri, karena mungkin B50 ini yang pertama kali di dunia. Dan dengan hasil yang bagus, ini menjadi salah satu trademark tersendiri buat Indonesia,” ujar Kukuh pada Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, di tengah dinamika geopolitik global yang memicu ketidakpastian harga bahan baku dan logistik, industri otomotif nasional telah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis serupa.
Ia mencontohkan krisis ekonomi 1998 hingga pandemi COVID-19 pada 2020 yang sempat menekan industri, namun mampu dilalui dengan baik.
Ia menambahkan, tantangan akibat konflik geopolitik saat ini, seperti gangguan pasokan bahan baku, kenaikan biaya logistik, hingga fluktuasi nilai tukar, memang menjadi perhatian pelaku industri. Meski demikian, ia menilai kolaborasi seluruh pemangku kepentingan akan menjadi kunci untuk menjaga ketahanan industri.
Baca Juga : Hingga Oktober 2025, Gaikindo Catat Sebanyak 635.844 Unit Mobil Terjual
Lebih lanjut, Kukuh menekankan pentingnya pengembangan teknologi kendaraan yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar. Selain elektrifikasi penuh, opsi teknologi seperti hybrid dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dinilai tetap relevan sebagai solusi transisi.
“PHEV punya potensi untuk terus ditingkatkan, karena itu juga punya peluang untuk menghemat bahan bakar. Jadi sebenarnya, kalau itu kemudian juga dikombinasikan dengan adanya biofuel, itu juga semakin meningkat,” jelasnya.
Kementerian ESDM menyampaikan hasil sementara uji jalan pemakaian biodiesel 50 persen atau B50 di sektor otomotif berjalan dengan baik dan menunjukkan bahan bakar nabati (BBN) tersebut telah sesuai spesifikasi yang dipersyaratkan.
Baca Juga : Padukan Pameran Otomotif dan Lifestyle, Gaikindo Gelar GJAW 2023
Kalau performa mesin, tadi dari laporannya tim teknis itu sesuai spesifikasi,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi ketika ditemui di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).
Eniya menyampaikan laporan tersebut juga berdasarkan klaim dari perusahaan yang mobilnya mengikuti uji coba B50.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kualitas bahan bakar B50 telah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan dengan kandungan FAME 49-50 persen serta parameter kadar air, monogliserida dan stabilitas oksidasi dalam batas yang dipersyaratkan sesuai rekomendasi Komite Teknis Bioenergi Cair, yaitu kadar air menjadi maksimum sebesar 300 ppm, lebih rendah dari 320 ppm yang ditetapkan untuk B40.***














