Kesra
Ironi! Buruh Tani di Klaten Menolak Bansos dari Pemerintah

Beberapa warga yang menolak BST. (Istimewa)
FAKTUALid – Ini sebuah ironi. Disaat warga yang lain saling berebut untuk bisa menerima bantuan sosial tunai (BST). Bahkan di beberapa daerah, ada perangkat desa dan pegawai SPBU yang ikut menikmati, seorang buruh tani di Klaten justru menolak BST dari pemerintah.
Sikap buruh tani di Desa Kotesan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten ini, tentu cukup mengejutkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Betapa tidak, meski hanya buruh tani, namun pria bernama Tukul Subagiyono tersebut dengan tegas berani mengembalikan BST yang diterimanya.
Tukul memang pria jujur, ia menolak BST lantaran telah menerima bantuan dari dana desa. Hal itu terkuak ketika Ganjar Pranowo berkunjung ke Desa Kotesan untuk mengecek pembagian BST. Beberapa hari ini, ia memang rajin ke desa-desa mengecek pembagian BST setelah mendapat banyak laporan, bantuan tersebut banyak yang tidak tepat sasaran.
“Ini sudah dapat bantuan bapak, ibu? Njenengan juga sudah dapat?” tanya Ganjar pada warga Kotesan.
Beberapa warga pun mengatakan sudah menerima bantuan. Namun tiba-tiba, seorang pria paruh baya mengangkat tangan dan memanggil Gubernur. Dengan tegas ia mengemukakan bantuan yang diterimanya akan dikembalikan.
“Ini punya saya mau saya kembalikan Pak. Saya sudah mendapat bantuan kok dikasih lagi. Kasihan yang lain Pak. Biar ini untuk yang lain saja,” kata Tukul Subagiyono.
Ganjar sangat tertarik dengan pernyataan Tukul. Ia pun mendekat dan bertanya alasan Tukul mengembalikan, padahal orang lain pada rebutan. Gubernur juga bertanya Tukul sehari-hari bekerja sebagai apa.
“Saya cuma buruh tani Pak. Ini saya kembalikan, karena saya sudah dapat. Satu bantuan sudah cukup Pak, masa mau dapat lagi. Walaupun saya butuh sebenarnya, tapi kan saya sudah dapat. Yang lain masih banyak yang membutuhkan malah tidak dapat,” terangnya.
Ternyata tidak hanya Tukul. Ada dua warga lain di tempat itu yang juga ingin mengembalikan bantuan. Mereka adalah Jannah dan Yoga Pratama. Jannah, seorang ibu rumah tangga yang suaminya bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara Yoga adalah seorang mahasiswa.
“Suami saya sudah dapat bantuan dari dana desa Pak, jumlahnya juga sama Rp300 ribu perbulan. Nggak tahu kok ini dapat bantuan lagi, makanya saya kembalikan. Mudah-mudahan berguna untuk orang lain yang membutuhkan,” kata Jannah.
Sementara Yoga, dia mengatakan bantuan dana desa sudah diterima ayahnya. Sementara BST diterima atas namanya. “Kan menurut aturan undang-undang, katanya satu kepala keluarga dapat satu bantuan saja. Tapi keluarga saya dapat dua. Makanya saya berinisiatif mengembalikan. Mungkin bisa digunakan masyarakat yang membutuhkan,” tegasnya.
Yoga juga berpesan kepada semua masyarakat yang merasa mampu atau mendapatkan bantuan dobel untuk mengembalikan. Sebab di luar sana, masih banyak orang yang membutuhkan.
“Kalau bisa pemerintah juga memperbaiki data agar bantuan tepat sasaran. Sama yang kaya, jangan rebutan bantuan. Kasihan warga lain, banyak yang kerja sehari untuk makan hari itu. Kalau sekarang tidak kerja karena Covid, mereka tidak makan,” tegasnya.
Tidak hanya di Klaten, saat cek pembagian BST di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Ganjar juga menemukan ada warga yang mengembalikan bantuan. Warga yang mengembalikan itu adalah Dobby Sholeh, seorang perangkat desa di Banyudono.
“Saya kembalikan Pak, karena saya merasa tidak berhak. Sebagai aparatur desa, saya seharusnya memastikan warga saya dapat, kok malah saya yang dapat,” katanya.
Ganjar merasa bangga pada warganya yang mau mengembalikan bantuan itu karena memang tidak berhak. Menurutnya, itu adalah contoh moralitas yang harus menjadi diteladani masyarakat lain sekaligus menjadi acuan pemerintah untuk melakukan perbaikan data.
“Dari sisi moralitas, ini sangat bagus. Ini konkret, mereka datang dengan moralitas bagus, mau mengembalikan karena merasa sudah menerima,” katanya.
Banyak orang, lanjut Ganjar, tak memiliki moralitas sebagus keempat orang itu. Bahkan dirinya sendiri melihat, beberapa penerima bantuan yang memakai jam tangan bagus, hanphone bagus dan sepatu bagus. Ia juga mendapati fakta, ada penerima yang masih bekerja di pabrik dan ada juga yang punya usaha sendiri.
“Jadi ini soal moralitas saja. Ada yang lebih mampu tapi tidak berkeinginan mengembalikan. Mohon maaf, dengan segala hormat bapak dan ibu yang hari ini mengembalikan. Meskipun hanya buruh tani, tapi moralitasnya luar biasa. Ini ada juga ibu rumah tangga dan mahasiswa. Dia kritis, karena merasa tidak berhak, ya dikembalikan,” paparnya.
Ganjar berharap apa yang dilakukan Tukul, Jannah, Yoga dan Dobby, menjadi inspirasi banyak orang. Sebab saat ini, bantuan memang banyak yang tidak tepat sasaran, sehingga menimbulkan kecemburuan. Karena kejujurannya, tiga orang warga Klaten yang mengembalikan bantuan tadi langsung mendapat hadiah uang tunai dari Gubernur. Khusus Dobby, warga Boyolali, tidak diberi hadiah karena ia seorang perangkat desa.***













