Kesra
Demi Bertahan Hidup, Nenek Turi Cari Ceceran Beras di Pasar Induk Cipinang

Nenek Turi memisahkan ceceran beras yang didapat dari kotoran. (Farhanzuhdi)
FAKTUALid – Bimas Turi atau kerap disapa Nenek Turi terlihat setiap harinya berlalu lalang di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, untuk beburu butiran beras yang berceceran. Kegiatan tersebut dilakukan setiap harinya demi untuk bertahan hidup.
Padahal, sudah selayaknya usia senja menjadi waktu terbaik bagi seseorang untuk menikmati masa tuanya. Sayangnya, hal ini tidak bisa dirasakan oleh Nenek Turi.
Nenek 66 tahun ini harus berjuang mencari nafkah dengan memungut beras yang tercecer di sekitaran Pasar Induk Beras Cipinang untuk memenuhi kebutuhan hariannya.
Nenek Turi sudah melakoni profesi tersebut selama 40 tahun. Dari yang awalnya tukang sapu, perlahan berubah mencari beras yang berceceran di bawah. “Saya udah ada dari tahun 80an, mula-mula nyapu yang kotor-kotor, lama kelamaan saya telateni mungutin ceceran beras. Alhamdulillah bisa sekolahin anak dan kasih makan dari sini,” kata perempuan 66 tahun tersebut saat ditemui disela-sela memisahkan beras yang dipungutnya dari kotoran.
Dalam mencari ceceran beras di kawasan pasar, diakuinya profesi ini dilakukan untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan kesehariannya. Selama satu hari, ia mengaku bisa memperoleh 4-5 liter beras.
“Sehari biasanya dapet beras 4-5 liter, kadang engga tentu juga,” aku Nenek Turi. “Mulai cari beras tuh dari jam 6 pagi hingga 5 sore” kata nenek Turi saat ditemui disela-sela memilah beras,” imbuhnya.
Ceceran beras yang berhasil dikumpulkannya dijual dengan harga Rp 4 ribu per liter. Beras tersebut terkadang tidak langsung dijual setiap hari, melainkan dikumpulkan terlebih dulu selama satu minggu.
“Hasil jual beras sehari paling Rp 30 ribu, seringnya dikumpulin dulu selama seminggu kan dapet sekitar 50 liter baru dijual.” ucap Nenek Turi.
Beras yang biasa dipungut olehnya bukanlah beras bersih yang bisa dikonsumsi, tetapi beras kotor yang biasa dijual kepada salah seorang untuk pakan ternaknya.
“Beras ini (beras kotor) gabisa dimakan, biasanya yang beli (beras kotor) bapak-bapak dari Tanjung Priuk buat pakan ayam,” ungkapnya.
Untuk mensiasati pengeluaran harian, dirinya juga mencari beras bersih yang layak untuk dikonsumsi setiap harinya. “Ini yang dipungut buat dijual beras kotor, kalo yang ini (beras bersih) saya pilihin buat dimakan,nanti dimasak di rumah,” tutur Nenek Turi.
Dalam mendapatkan penghasilan tambahan, ia menerima jasa memilah dan memberikan beras yang ditawarkan oleh salah satu toko penjual beras di Pasar Induk Beras Cipinang. Diakuinya upah yang diberikan untuk satu karung beras sebesar Rp 25 ribu. (Farhanzuhdi)














