Kesra
Kick Off Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026, Menag Nasaruddin: Kesemarakan Tanpa Penghayatan Itu Mubazir

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar nenabuh alat musik tradisional tifa sebagai tanda Kick Off Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: “Kesemarakan tanpa penghayatan itu mubazir, tetapi penghayatan tanpa kesemarakan itu tidak meriah,” kata Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meminta agar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 mampu menampilkan dua pilar utama penyelenggaraan, yaitu kesemarakan festival dan pendalaman spiritual (penghayatan).
Menag Nasaruddin menilai perhelatan keagamaan akan menjadi hambar jika kedua aspek tersebut tidak berjalan seimbang.
“Satu sisi harus ada kesemarakannya, pada sisi lain juga harus ada pendalamannya. Jadi dua-duanya harus berbanding lurus,” ujar Menag saat memberikan arahan pada Kick Off Pesparawi Nasional XIV di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Nasaruddin menjabarkan bahwa aspek kesemarakan penting untuk memunculkan kemeriahan, mulai dari umbul-umbul, lampu yang menyala, pakaian seragam, hingga lahirnya pasar kaget yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun, dia mengingatkan agar panitia dan kontingen tidak larut dalam kemeriahan fisik semata, melainkan menjadikan Pesparawi sebagai momentum resakralisasi kehidupan beragama dan sarana menyentuh dimensi batin manusia.
Untuk ituNasaruddin mengajak para pimpinan gereja aras nasional dan tokoh lintas agama yang hadir untuk lebih berfokus mencari titik temu persamaan (encounters) antarumat beragama.
“Moderasi beragama itu adalah biarkan yang berbeda itu tetap berbeda, dan biarkan yang sama itu sama. Toleransi sesungguhnya bukan berusaha memaksakan persamaan pada sesuatu yang berbeda, dan juga bukan memaksakan perbedaan pada sesuatu yang sebenarnya sama,” tegasnya.
Nasaruddin mengibaratkan kemajemukan Indonesia laksana sebuah karya seni atau lukisan kontras yang sangat indah dan mahal dari Tuhan. Keindahan tersebut lahir karena adanya perpaduan berbagai warna yang berbeda, bukan karena keseragaman satu warna semata. Oleh karena itu, melalui momentum Pesparawi Nasional XIV 2026 ini, Nasaruddin berpesan agar seluruh anak bangsa terus merawat kebersamaan dan tidak mengacak-acak “lukisan Tuhan” bernama Indonesia tersebut.
Sukseskan Program Indonesia ASRI
Rangkaian pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 dimulai dengan Kick Off di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta. Mengusung pesan “Pesparawi Nasional Ramah Lingkungan”, perhelatan akbar ini menggemakan kerukunan dari ufuk timur Indonesia, tepatnya di Kota Manokwari, Provinsi Papua Barat.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan kekuatan seni musik gerejawi sebagai instrumen pemersatu bangsa. Pesparawi bukan sekadar perlombaan paduan suara gerejawi, tetapi ruang mempertemukan generasi muda dalam semangat pelayanan, harmoni, dan cinta tanah air.
“Nyanyian adalah pemersatu umat. Tadinya kita mungkin berbeda latar belakang, tetapi begitu kita bersama-sama bernyanyi, nyanyian itu menyatukan semuanya. Keindahan Indonesia ini laksana lukisan kontras yang paling mahal dari Tuhan, di mana perbedaan warna-warni di dalamnya merajut satu kebersamaan yang sangat indah. Mari kita rawat indahnya perbedaan ini melalui harmoni suara pujian,” ujar Menag.
Pesparawi Nasional XIV tahun ini membawa semangat mendukung program Indonesia ASRI melalui pendekatan Ekoteologi. Bernyanyi memuliakan Tuhan kini diselaraskan secara konkret dengan tanggung jawab menjaga bumi sebagai ciptaan-Nya.
Melalui gerakan ini, Kemenag menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah wujud nyata dari refleksi iman kepada Tuhan. Seluruh elemen yang terlibat dalam Pesparawi 2026, mulai dari panitia hingga ribuan kontingen, diwajibkan melakukan aksi nyata seperti membawa botol minum sendiri (tumbler) untuk mengurangi sampah plastik, melakukan penanaman pohon di area strategis, serta menjaga kebersihan selama perhelatan berlangsung di Tanah Papua.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Jeane Marie Tulung, menyampaikan bahwa harmoni suara dalam Pesparawi harus berbanding lurus dengan harmoni terhadap alam dan sesama manusia.
“Bagi kami, Pesparawi adalah instrumen penguatan mental, spiritual, dan wahana mempererat persaudaraan umat, sekaligus menjadi etalase indahnya moderasi beragama di Indonesia. Melalui alunan nada dan harmoni, kita ingin mengetuk hati seluruh anak bangsa bahwa perbedaan jika dirajut dengan cinta akan melahirkan simfoni yang indah bagi Indonesia,” jelas Jeane Marie Tulung seperti dilansir laman Kemenag.
Rangkaian utama Pesparawi ke-14 dilaksanakan pada 18-28 Juni 2026, dan diperkirakan akan memobilisasi lebih dari 8.000 partisipan resmi yang terdiri dari kontingen 38 provinsi di seluruh Indonesia untuk berkompetisi secara sportif dalam 12 kategori lomba.
Pemerintah Provinsi Papua Barat selaku tuan rumah menyatakan kesiapan mereka untuk menyambut kedatangan puluhan ribu tamu dan penggembira dari seluruh penjuru nusantara. Penataan kota, kesiapan venue, akomodasi, hingga jaminan keamanan berlapis telah dikoordinasikan secara matang.
Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani Sirua, menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat di Papua Barat menyambut mandat nasional ini dengan tangan terbuka dan penuh kedamaian.
“Atas nama seluruh masyarakat Papua Barat, kami menyambut dengan sukacita, antusias, dan siap untuk mensukseskan seluruh rangkaian kegiatan Pesparawi Nasional XIV. Kota Manokwari adalah tempat yang aman dan nyaman bagi semua tamu. Datang dengan senang, kembali pun dengan membawa senyum kebahagiaan,” tegas Wagub Papua Barat.
Kick off Pesparawi 2026 ditandai dengan penabuhan alat musik tradisional Tifa bersama-sama di atas panggung oleh Menteri Agama, Dirjen Bimas Kristen, Wakil Gubernur Papua Barat, dan jajaran Panitia Nasional sebagai tanda dimulainya harmoni Pesparawi XIV tahun 2026. ***














