Connect with us

Internasional

Harga Minyak Dunia Melonjak Hingga 5.7 Persen, di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Diterbitkan

pada

Harga Minyak Dunia Melonjak Hingga 5.7 Persen, di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Ilustrasi pengolahan minyak bumi di Indonesia. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Harga minyak dunia mencatat kenaikan tajam pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta memudarnya harapan penyelesaian konflik dalam waktu dekat.

Minyak mentah jenis Brent tercatat melonjak sebesar US$ 5,79 atau sekitar 5,7 persen ke level US$ 108,01 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat US$ 4,16 atau 4,6 persen menjadi US$ 94,48 per barel.

Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat mengalami koreksi pada sesi perdagangan sebelumnya. Namun, ketidakpastian situasi global kembali mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk komoditas energi.

Baca Juga : PKS Minta Pemerintah Tidak Menaikkan Harga BBM Bersubsidi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Upaya diplomasi sebenarnya mulai dilakukan. Utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengajukan proposal berisi 15 poin kepada Iran sebagai dasar negosiasi. Meski demikian, respons dari Teheran masih belum menunjukkan titik terang.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan proposal tersebut masih dalam tahap peninjauan dan belum mengarah pada pembicaraan damai. Bahkan, seorang pejabat senior Iran menilai proposal itu bersifat sepihak, meski jalur diplomasi tetap terbuka.

Advertisement

Analis pasar menilai kondisi ini menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar energi global. Ekonom Matador Economics, Timothy Snyder, menyebut investor kini cenderung mengamankan nilai investasi di tengah informasi yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkonflik.

Baca Juga : Sinyal Panas Energi: Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) Melonjak ke USD68,79 di Februari 2026

Tekanan terhadap pasar energi juga diperparah oleh meningkatnya aktivitas militer di kawasan, termasuk penempatan pasukan dan serangan baru. Selain itu, pembatasan pergerakan kapal tanker di bawah pengawasan Iran turut menghambat distribusi minyak global.

Dampak paling signifikan terlihat pada jalur strategis Selat Hormuz, yang selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Sejak konflik memanas, distribusi energi melalui jalur tersebut dilaporkan mengalami gangguan serius.

Baca Juga : Harga Minyak Dunia Melambung, PKS Minta Pemerintah Jangan Ambil Jalan Pintas Naikkan BBM

Secara kumulatif, sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, harga minyak Brent telah melonjak hampir 50 persen, sementara WTI meningkat sekitar 41 persen, meskipun sempat terkoreksi dalam beberapa sesi perdagangan.

Gangguan produksi juga terjadi di sejumlah negara produsen. Irak dilaporkan mengalami penurunan produksi akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan, sementara sekitar 40 persen kapasitas ekspor minyak Rusia terganggu akibat serangan drone dan insiden terhadap kapal tanker.

Advertisement

Meski demikian, terdapat sedikit perkembangan positif. Beberapa kapal tanker dari negara seperti Thailand dan Malaysia dilaporkan mulai kembali melintasi Selat Hormuz setelah melakukan koordinasi diplomatik dengan Iran, memberikan harapan terbatas bagi kelancaran distribusi energi global.***

Lanjutkan Membaca
Advertisement