Connect with us

Internasional

Bundesbank: Embargo Energi Terhadap Rusia Bisa Lumpuhkan Ekonomi Jerman

Diterbitkan

pada

Sejumlah kendaraan terlihat di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum di Berlin, ibu kota Jerman, pada 11 Maret 2022. (antaranews.com)

FAKTUAL-INDONESIA: Jika Jerman bergabung dengan embargo energi terhadap Rusia, maka perekonomiannya dapat melemah secara signifikan, demikian diungkapkan sebuah laporan bulanan yang dipublikasikan oleh bank sentral Jerman Deutsche Bundesbank pada Jumat (22/4/2022).

Dalam skenario krisis yang intensif, Produk Domestik Bruto (PDB) riil Jerman akan turun di bawah dua persen pada tahun berjalan dibandingkan dengan 2021, menurut laporan itu, yang menganalisis kemungkinan konsekuensi ekonomi makro dari eskalasi konflik Rusia-Ukraina.

Dalam hal ini, PDB riil Jerman, dalam jangka pendek, dapat lebih rendah hingga lima persen dari yang diproyeksikan oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) pada Maret, papar laporan tersebut.

Inflasi juga akan “sekali lagi melonjak secara signifikan,” sebut laporan itu. Tingkat inflasi di Jerman bisa menjadi 1,5 poin persentase lebih tinggi pada 2022 dan dua poin persentase lebih tinggi pada 2023 dari perkiraan ECB.

Menurut bank tersebut, alasan utamanya adalah “kenaikan signifikan harga energi jika terjadi eskalasi lebih lanjut.” Kendati demikian, semua hasil itu “penuh dengan ketidakpastian” karena sifat konflik yang kompleks.

Advertisement

Antaranews.com melansir, tingkat inflasi Jerman naik menjadi 7,3 persen pada Maret, mencapai level tertinggi dalam 40 tahun, menurut Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis). Harga energi rumah tangga dan bahan bakar kendaraan bermotor melonjak 39,5 persen secara tahunan (year on year).

Rubel Menguat

Informasi lain menyebutkan bahwa Rubel Rusia menguat melewati 74 terhadap dolar di perdagangan Moskow pada Jumat, dibantu oleh perusahaan-perusahaan yang bersiap untuk membayar pajak dalam jumlah besar, sementara indeks saham naik tipis.

Pada pukul 07.29 GMT, rubel menguat 1,7 persen terhadap dolar pada 73,58 dan telah naik 1,4 persen untuk diperdagangkan pada 79,05 versus euro di Moscow Exchange.

Rubel telah sepenuhnya memulihkan kerugian yang dideritanya setelah Rusia memulai apa yang disebutnya “operasi militer khusus” di Ukraina pada 24 Februari.

Advertisement

Tetapi pergerakan dalam rubel yang dulunya mengambang bebas agak dibuat-buat setelah Rusia memberlakukan kontrol modal untuk mendukung mata uang tersebut. Di pasar antar bank, rubel melemah: bank menawarkan untuk membeli dolar seharga 78,61 rubel dan menjualnya seharga 79,25.

Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mengatakan Rusia sedang melihat penyesuaian pada kontrol valuta asing untuk menghindari situasi di mana nilai tukar rubel menyimpang di pasar bayangan dari kurs resmi.

Saat dia memulai tugas barunya selama lima tahun sebagai penanggung jawab kebijakan moneter, Nabiullina harus menghadapi krisis ekonomi skala penuh, mengatasi ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya yang berasal dari sanksi Barat.

Rubel didukung oleh rekor 3 triliun rubel (39,22 miliar dolar AS) yang harus dibayar perusahaan-perusahaan dalam pajak bulan ini, menurut analis yang disurvei oleh Reuters. Untuk melakukan pembayaran, beberapa perusahaan yang berfokus pada ekspor perlu menjual mata uang asing.

Hal ini menciptakan ketidakseimbangan di pasar karena volume perdagangan tetap rendah, seperti halnya permintaan mata uang asing dari importir.

Advertisement

Indeks saham Rusia naik tetapi tidak memiliki momentum dan ide perdagangan baru. Indeks RTS berdenominasi dolar (IRTS) naik 1,1 persen menjadi 972,3 poin. Indeks MOEX Rusia berbasis rubel (IMOEX) naik 0,5 persen menjadi 2.281,2 poin. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement