Internasional
Gencatan Senjata Amerika – Iran Rapuh, Israel Terus Gempur Lebanon, Pengaturan Selat Hormuz Membingungkan

Serangan Israel yang dilancarkan beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, menimbulkan kerusakan hebat di Lebanon. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menunjukan kerapuhan. Pada hari Rabu (8/4/2026), kurang dari sehari sejak dimulainya gencatan senjata itu ujian besar sudah menghadang. Mulai dari ketidakpastian mengenai status Selat Hormuz yang vital secara ekonomi dan serangan-serangan keras Israel yang terus berlanjut di Lebanon.
Seperti dilaporkan New York Times dan NBC News, Pakistan, yang menjadi mediator gencatan senjata, dan para pejabat Iran bersikeras bahwa perjanjian tersebut mencakup Lebanon, tempat Israel menargetkan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Namun Amerika menyatakan Lebanon tidak masuk dalam perjanjian gencatan senjata itu.
Tak pelak lagi, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IGRC) mengancam akan melakukan respons militer terhadap “para agresor di kawasan itu” jika serangan tidak segera dihentikan. Dan media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebuah kilang minyak di Lavan, sebuah pulau Iran di Teluk Persia, dihantam oleh musuh yang tidak disebutkan namanya. Makin menjadi runyam karena Iran masih terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk.
Karoline Leavitt, sekretaris pers Gedung Putih, mengatakan kepada wartawan bahwa Lebanon tidak tercakup dalam perjanjian tersebut. Leavitt juga membantah laporan bahwa Selat Hormuz, yang oleh Presiden AS Donald Trump diminta dibuka kembali sebagai syarat gencatan senjata, telah ditutup oleh Iran. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati jalur air yang sempit itu, dan Leavitt menegaskan bahwa lebih banyak kapal yang berhasil melewatinya sejak dimulainya gencatan senjata, meskipun monitor perkapalan tidak menunjukkan peningkatan lalu lintas pada hari Rabu.
Terlepas dari komplikasi yang signifikan tersebut, Gedung Putih tampaknya bertekad untuk melanjutkan proses diplomatik yang telah mereka gambarkan sebagai kemenangan total. Wakil Presiden JD Vance akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk pembicaraan perdamaian yang dimulai Sabtu pagi, kata Leavitt. Steve Witkoff, utusan khusus presiden, dan Jared Kushner, menantu Trump, akan mendampinginya.
Serangan Besar-besaran Israel
Militer Israel mengatakan telah melancarkan gelombang serangan terbesar di Lebanon sejak awal invasinya, menyerang lebih dari seratus pusat komando dan situs militer milik Hizbullah yang didukung Iran.
NBCNews melansir, dalam unggahan yang dibagikan di Telegram, Pasukan Pertahanan Israel mengatakan bahwa serangan tersebut, yang direncanakan dengan cermat selama berminggu-minggu untuk memperdalam kerusakan, melibatkan wilayah Beirut, Beqaa, dan Lebanon selatan, dan dilakukan dalam waktu 10 menit serta di beberapa wilayah secara bersamaan.
Sebagian besar infrastruktur yang terkena serangan terletak di jantung populasi sipil, kata IDF, menuduh Hizbullah menggunakan warga sipil Lebanon sebagai perisai manusia. IDF menambahkan bahwa langkah-langkah telah diambil untuk meminimalkan kerugian terhadap individu yang tidak terlibat sebisa mungkin sebelum serangan, tanpa memberikan penjelasan
“Ini bukanlah akhir”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa gencatan senjata bukanlah akhir dari konflik Iran dan Israel siap untuk melanjutkan serangan jika perlu.
“Ini bukanlah akhir dari kampanye,” kata Netanyahu dalam konferensi pers Rabu. “Kita masih memiliki beberapa tujuan yang harus dicapai, dan kita akan mencapai tujuan-tujuan ini, baik melalui kesepakatan dan konsensus, atau melalui pembaruan perang, karena kita siap melakukannya kapan pun diperlukan. Jari kita sudah berada di pelatuk.”
Netanyahu menggunakan pidatonya untuk membantah bahwa AS telah mengejutkan Israel di saat-saat terakhir dengan kesepakatan itu dan membantah laporan tentang keretakan hubungan dengan Trump terkait perang tersebut. “Kami berbicara setiap hari, kami tersenyum ketika mendengar komentar-komentar ini.”
Netanyahu kembali menegaskan niatnya untuk melanjutkan serangan di Lebanon, menyatakan bahwa serangan di sana tidak tercakup dalam kesepakatan gencatan senjata, sementara IRGC Iran mengancam akan membalas serangan yang terus berlanjut tersebut.
“Kami telah mengubah wajah Timur Tengah dengan cara yang sangat menguntungkan bagi Negara Israel, dan kami akan terus melakukannya karena kamilah yang mengambil inisiatif, atau proaktif, dan berjuang, dan insya Allah, kamilah pihak yang menang,” katanya. ***














