Internasional
21 Pelari Peserta Ultramaraton China Tewas Diterjang Angin Kencang Dan Hujan Es

Penyelamat membawa peralatan untuk membantu upaya pencarian
FaktualID – Cuaca ekstrem telah memporakporandakan lomba lari ultramaraton yang dilaksanakan di Hutan Batu Sungai Kuning, sebuah lokasi wisata di provinsi Gansu, China. Sebanyak 21 orang pelari tewas setelah angin kencang dan hujan es melanda lomba melintasi gunung berjarak 100 km itu.
Menurut laporan AFP yang dilansir bbc.com, Liang Jing, juara ultramarathon, dan Huang Guanjun, yang memenangkan maraton tuna rungu putra di National Paralympic Games 2019 China, termasuk di antara para korban. Para pejabat mengatakan 151 pelari dipastikan aman, dan delapan dari mereka cedera.
Balapan dihentikan ketika beberapa dari 172 pelari hilang, dan operasi penyelamatan diluncurkan. Tim penyelamat membawa peralatan saat mereka mencari pelari yang berkompetisi dalam lomba gunung lintas alam 100 kilometer ketika cuaca ekstrim melanda daerah tersebut.
Perlombaan dimulai pada pukul 09:00 waktu setempat (01:00 GMT) pada hari Sabtu, dengan beberapa pesaing berangkat hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Sekitar tiga jam setelah start, bagian pegunungan dari perlombaan dilanda hujan es, hujan lebat dan angin kencang, yang menyebabkan suhu turun drastis. Banyak pelari dilaporkan tersesat di rute karena cuaca memengaruhi jarak pandang.
Peserta yang selamat mengatakan prakiraan telah menunjukkan beberapa angin dan hujan telah diantisipasi, tapi tidak ada yang ekstrim seperti yang mereka alami. Seorang pelari, Mao Shuzhi, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa dia berbalik ketika cuaca berubah.
Dia memutuskan untuk kembali ke hotelnya, setelah mengalami pengalaman buruk sebelumnya dengan hipotermia, tetapi yang lain melanjutkan atau sudah berada di daerah yang paling parah terkena. “Hujan semakin deras dan lebat,” kata Mao, yang saat itu sedang mengikuti perlombaan sekitar 24 km dan belum mencapai pegunungan.
Kantor berita China Xinhua melaporkan, lebih dari 1.200 penyelamat dikerahkan, dibantu oleh drone pencitraan termal dan detektor radar, menurut media pemerintah. Operasi tersebut berlanjut sepanjang malam hingga Minggu pagi, di mana penurunan suhu lebih lanjut membuat pencarian semakin sulit.
Pada hari Minggu (23/5/2021) pukul tiga dini hari tim penyelamat menemukan 16 orang dalam kondisi meninggal, lima lainnya masih hilang. Peserta terakhir yang hilang ditemukan meninggal pada pukul 9.30 pagi.
Tragedi dalam lomba tersebut telah memicu kemarahan publik di media sosial China, dengan kemarahan terutama ditujukan pada pemerintah Baiyin dan ketidakbahagiaan atas kurangnya perencanaan darurat.
Dalam konferensi pers pada hari Minggu, Walikota Baiyin Zhang Xuchen berkata: “Sebagai penyelenggara acara, kami sangat bersalah dan menyesal. Kami menyampaikan belasungkawa dan simpati yang dalam kepada keluarga para korban dan yang terluka.”
Kabupaten Jingtai terletak di bagian tengah propinsi Gansu, dengan ketinggian tertinggi mencapai 3.321 meter dan ketinggian terendah pada 1.276 meter. ***














