Connect with us

Hiburan

Banyak Inovasi Pelaku Seni dan Budaya Ngaco, Eros Djarot Serukan Para Budayawan Memikirkan Perlawanan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Banyak Inovasi Pelaku Seni dan Budaya Ngaco, Eros Djarot Serukan Para Budayawan Memikirkan Perlawanan

 Budayawan Eros Djarot, tugas budayawan itu harusnya sebagai messenger, pembawa pencerahan bukan untuk mencari ketenaran

FAKTUAL INDONESIA: Para budayawan perlu memikirkan perlawanan budaya (control culture) agar budaya bangsa Indonesia kembali pada koridornya.

Pasalnya, saat ini sebenarnya banyak pelaku seni dan budaya yang mengembangkan berbagai inovasi yang bagus tetapi ngaco.

Demikian dikemukakan oleh Budayawan Soegeng Rahardjo Djarot yang akrab disapa Eros Djarot usai acara “Ngobrol Santai Bareng Mas Eros Djarot” di Sanggar Dalang Nawan, Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu.

Bahkan Eros menekankan, berbagai inovasi yang bagus tersebut justru berpotensi menghancurkan budaya bangsa Indonesia.

Baca Juga : Festival Lima Gunung 2022, Kemandirian Pelaku Seni Budaya

“Dia jadi terkenal, hebat, petantang-petenteng, tetapi yang dihancurkan bangsanya. Bayangkan para selebgram bisa mencapai sukses dengan sekejap mata, proses hilang, kedalaman hilang, pemaknaan hilang, ketekunan hilang,” katanya.

Advertisement

Oleh karena itu, kata dia, para budayawan perlu memikirkan perlawanan budaya (control culture) agar budaya bangsa Indonesia kembali pada koridornya. Dia mengajak seluruh budayawan di Tanah Air untuk tetap berpijak pada koridor sebagai bangsa Indonesia.

“Tugas budayawan, satu, budayawan itu harusnya sebagai messenger, pembawa pencerahan,” kata Eros Djarot

Dalam hal ini, kata dia, pembawa pencerahan merupakan tugas budayawan yang paling utama dan bukan untuk mencari ketenaran.

Sementara tugas kedua, lanjut dia, budayawan harus mencoba mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan inovasi.

“Tapi tetap berpijak pada koridor sebagai bangsa Indonesia, seperti apa yang diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Cobalah pelajari itu, masukkan ke ruang ini, koridornya ke sana,” katanya.

Advertisement
Baca Juga : Festival Krakatau Lampung, Andalkan Gunung Krakatau dan Potensi Adat

Menurut dia, seperti dilansir antaranews.com lebih lanjut,  budayawan jangan hanya mengurusi tari-tarian karena hal itu cukup ditangani oleh para seniman.

“Jangan dibilang budayawan kalau dia itu wedi (takut), tari-menari tok (saja). Tapi bagaimana tarian itu bagi bangunan utuh kebudayaan, itu baru ada sense of budayawan,” katanya.

Eros Djarot juga mengajak budayawan, seniman, serta pelaku seni dan budaya, yang hadir di tempat itu untuk meningkatkan kreativitas karena kreativitas merupakan senjata yang paling hebat yang dapat menjadikan sesuatu bermanfaat bagi umat manusia.

“Juga imajinasi. Dua itu (kreativitas dan imajinasi) jangan pernah dihilangkan,” katanya.

Baca Juga : Lestarikan Seni Budaya, Kolaborasi TNI AL-Laskar Indonesia Pusaka Suguhkan Lakon ‘Pandowo Boyong’

Selain Eros Djarot, acara ngobrol santai tersebut juga menghadirkan dua pembicara lain yang merupakan jurnalis senior yakni Farid Gaban dan Lukas Luwarso. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement