Ekonomi
Harga Kedelai Mencekik! Perajin di Jateng Perkecil Ukuran Tempe Tahu

Foto: Istimewa
FAKTUAL-INDONESIA: Harga kedelai impor di pasaran naik tak terkendali. Para perajin tempe tahu pun merasa tercekik. Banyak diantara mereka yang menutup usaha, lantaran harga kulakan kedelai tidak impas dengan hasil jual produk tempe dan tahu.
Namun demikian tidak sedikit pula, perajin tempe tahu kreatif yang mengkreasi produk-produk mereka, dengan cara membuat tempe tahu dalam ukuran lebih mini, tapi harga tidak dinaikkan.
Menurut Ketua Pusat Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro, para perajin tahu tempe di wilayahnya saat ini memang cenderung memilih mengurangi ukuran produk ketimbang harus menaikkan harga.
“Perajin selama ini sulit juga kalau harus menaikkan harga. Jadi jalan tengahnya, mengurangi ukuran produk. Yang semula besar sekarang dikecilkan,” kata Sutrisno, awal pekan ini.
Dijelaskan, Gabungan Pusat Koperasi Tempe Tahu Indonesia telah menyampaikan imbauan kepada para perajin untuk tetap berproduksi dan tidak usah melakukan aksi mogok. Ini sebagai tindak lanjut dari pertemuan dengan Menteri Perdagangan.
Sutrisno mengaku, ada beberapa.hal yang telah disepakati. Seperti subsidi harga kedelai sebesar Rp1.000 per kilogram.
Kesepakatan lain, adanya kepastian persediaan kedelai untuk tiga bulan ke depan.
Diakui pula, hal tersebut salah satunya berkaitan dengan persiapan menghadapi Ramadan. Ia menambahkan, kepastian persediaan diharapkan juga tidak berpengaruh terhadap fluktuasi harga.
Sampai sekarang, harga kedelai bervariasi antara daerah satu dengan yang lain. Yakni berkisar antara Rp11.000 hingga Rp11.500 per kilogram.
“Tingginya harga kedelai sudah berlangsung sejak Januari. Sebelumnya harga hanya Rp7.500 per kilogram,” katanya.
Menyikapi lonjakan harga kedelai di pasaran, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah sendiri telah dorong pemerintah pusat agar melakukan swasembada.
Menurut Kepala Disperindag Jateng, Arif Sambodo, sejauh ini untuk kedelai, masyarakat cenderung masih menggunakan kedelai impor.
Karena itu, penting adanya pemahaman terlebih dulu kepada masyarakat. Sembari pemerintah pusat bisa mengusahakan untuk mengadakan swasembada kedelai, hendaknya masyarakat tidak tergantung terus dengan kedelai impor.
“Kita perlu mengupayakan dari sektor hulunya secara masif, dan hendaknya masalah kedelai ini oleh pemerintah pusat bisa diswasembadakan. Untuk menghindari ketergantungan impor,” ujar Arif.
Para perajin tempe tahu sendiri, hingga saat ini memang cenderung memilih kedelai impor. Dengan satu alasan, harga lebih terjangkau dan rasa juga berbeda.***














