Connect with us

Ekonomi

Rupiah Selasa 11 Agustus 2026: Anjlok Drastis 106 Poin, Besok Masih Dibayangi Tekanan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

FAKTUAL INDONESIA: Mata uang rupiah ditutup melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS)  pada perdagangan Selasa (11/8/2026).

Perjalanan yang berbalik dari sehari sebelumnya ketika rupiah tampil perkasa menguat signifikan menjauh dari posisi psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Memang hari ini masih tetap berada di bawah Rp18.000 namun pelemahan rupiah bisa makin terseret ke arah itu mengingat esok, Selasa (12/8/2026), diperkirakan masih berada dalam tekanan.

Hari ini rupiah sudah melemah sejak pembukaan perdagangan valuta asing Selasa pagi ketika bergerak turun 40 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.795 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.755 per dolar AS.

Advertisement

Rupiah tidak beranjak dari zona merah ketika kemudian ditutup terkoreksi sebesar 106 poin atau 0,60 persen ke level Rp17.861 per dolar AS, berbalik makin dalam dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.755 per dolar AS.

Rupiah juga masuk zona merah pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia dengan  melemah di level Rp17.824 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.795 per dolar AS.

Mata uang Garuda melemah karena didorong kombinasi tekanan ketegangan geopolitik global dan penantian agenda ekonomi penting membuat investor cenderung mengambil sikap waspada.

Pelemahan rupiah menambah deretan mata uang di kawasan Asia yang didominasi pelemahan terhadap dolar AS. Tercatat won Korea Selatan yang menguat  terhadap doalr AS dengan naik 0,01% ke 1.417,34 sedangkan yuan China bergerak stagnan di level 6,74.

Deretan mata uang regional yang melemah terhadap dolar AS, diantaranya, peso Filipina melemah 0,84% ke 61,26 per dolar AS,  baht Thailand juga turun 0,41% menjadi 33,14 per dolar AS. Kemudian dolar Taiwan melemah 0,22% ke 32,28, rupe India turun 0,15% ke 95,43 per dolar AS, Yen Jepang melemah 0,01% ke 159,31 per dolar AS, ringgit Malaysia turun 0,03% menjadi 4,09 per dolar AS, dan dolar Singapura melemah 0,07% ke 1,28.

Advertisement

Deretan Sentimen Pemicu Pelemahan Rupiah

Pelemahan mata uang garuda pada perdagangan hari ini dipicu oleh sejumlah faktor utama dari dalam maupun luar negeri:

  • Tensi Geopolitik dan Kenaikan Harga Minyak: Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara AS dan Iran terkait status Selat Hormuz, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali menekan mata uang berkembang.
  • Sikap Wait and See MSCI Review: Pelaku pasar mengantisipasi pengumuman tinjauan ulang indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026. Rebalancing ini kerap memicu penyesuaian alokasi portofolio arus modal asing.
  • Rilis Data Inflasi AS: Investor menantikan rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat untuk mengukur arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
  • Kondisi Keyakinan Konsumen Domestik: Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Juli 2026 menjadi 116,8. Angka ini turun dari posisi Juni sebesar 117,8.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni AS dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini; hal ini memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

“Keduanya juga melontarkan klaim yang bertentangan mengenai status Selat Hormuz; Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone),” tulis Ibrahim dalam risetnya, seperti dilansir RCTI+.

Menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi sebelumnya telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi di wilayah Laut Merah pada bulan lalu.

Dari sentimen dalam negeri, pasar bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk bulan Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026, di mana perubahan penyeimbangan ulang (rebalancing) akan mulai berlaku setelah 31 Agustus.

Advertisement

Kendati demikian, tekanan penurunan pasar sedikit tertahan oleh langkah Presiden Prabowo yang menunjuk Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo, sehingga meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan.

Pasar juga merespon negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. IKK Juli 2026 di level 116,8 ini merupakan yang terendah sejak September 2025 (115). Sementara apabila dibandingkan dengan posisi awal tahun atau Januari 2026 (127), IKK sudah mengalami penurunan 10,2 poin.

Di sisi lain, data penjualan eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia meningkat sebesar 0,7 persen secara bulanan (MtM) pada Juni, mengakhiri tren kontraksi pada dua bulan sebelumnya atau April 2026 (-11,6 persen) dan Mei 2026 (-1,5 persen). Perbaikan penjualan eceran tersebut dipengaruhi oleh siklus musiman yang terjadi setiap Juni.

Prediksi Kurs Rupiah Besok

Pergerakan nilai tukar rupiah untuk perdagangan Rabu (12/8/2026) diproyeksikan masih dibayangi tekanan. Analis memperkirakan pergerakan rupiah akan berlangsung fluktuatif namun berpotensi kembali ditutup melemah di rentang Rp17.860 hingga Rp17.970 per dolar AS.

Advertisement

Investor disarankan cermat mengamati rilis hasil review MSCI serta pergerakan harga komoditas global yang menjadi penentu arah arus modal di pasar keuangan domestik.

Namun Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.860-Rp17.970 per dolar AS. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement