Ekonomi
Rupiah Rabu 12 Agustus 2026: Gawat! Sudah Merosot Makin Dekati Rp18.000, Cendrung Melemah Lagi

Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menekan nilai tukar (kurs) rupiah sehingga ditutup melemah pada perdagangan valuta asing Rabu (12/8/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Dua sentimen utama menekan pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah Rabu (12/8/2026) sehingga merosot lagi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi rupiah bisa semakin gawat karena untuk perdagangan valuta asing esok, Kamis (13/8/2026) diprediksi akan cendrung melemah.
Bila itu terjadi maka rupiah akan makin mendekati dan bahkan bisa melewati angka psikologis Rp18.000 yang selama ini berusaha keras untuk dihindari.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan pada penutupan perdagangan Rabu sehingga melemah 16 poin atau 0,09 persen dan berada di posisi Rp17.877 per dolar AS. Merosot hampir dua kali lipat dari posisi saat pembukaan perdagangan pagi hari ketika rupiah dibuka melemah 8 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.869 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.861 per dolar AS.
Bergerak melemah juga nilai tukar rupiah pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ke level Rp17.876 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.824 per dolar AS.
Tekanan ini terjadi di tengah kehati-hatian investor menghadapi dinamika geopolitik global dan pengumuman data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Sementara pergerakan mata uang Asia berlangsung beragam terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang tercatat melemah, sementara lainnya bergerak menguat berdasarkan data perdagangan yang dipantau pada Rabu.
Mata uang Asia yang melemah antara lain yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Hong Kong, dan dolar Singapura. Sedangkan yang menguat diantaranya rupee India, Yuan China, ringgit Malaysia, bath Thailand, peso Filipina dan dolar Taiwan.
Pemicu Pelemahan Rupiah
Dua sentimen utama—eksternal dan domestik—menjadi penekan pergerakan mata uang rupiah pada perdagangan hari ini:
- Eskalasi Geopolitik Global: Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut di wilayah Selat Hormuz menahan aktivitas pelayaran. Kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global mendorong pelaku pasar mengamankan aset dalam dolar AS.
- Investor Wait and See Data Inflasi AS: Pasar cenderung menahan diri menjelang rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS. Data ini akan menjadi petunjuk utama langkah Suku Bunga Acuan (The Fed) pada September mendatang.
- Tekanan Penjualan Ritel Domestik: Dari dalam negeri, tren perlambatan daya beli masyarakat masih membayangi pasar. Penjualan ritel Juni yang masih terkoreksi memberi sinyal konsumen menahan belanja barang non-esensial.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya, Rabu, mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi ketegangan yang masih berlangsung antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pasar. Selat Hormuz menjadi salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Ibrahim, seperti dilansir metrotv menjelaskan, kekhawatiran terhadap pasokan energi juga meningkat setelah kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Kelompok yang didukung Iran tersebut juga mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Selain perkembangan geopolitik, investor menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat pada Rabu, disusul data harga produsen pada Kamis. Data tersebut menjadi perhatian pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Pelaku pasar juga cenderung menahan posisi agresif menjelang rilis CPI. Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di kisaran 50:50.
Dari dalam negeri, lanjut Ibrahim, pergerakan rupiah turut dipengaruhi kondisi konsumsi domestik. Penjualan ritel Indonesia masih mengalami tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat.
Melemahnya daya beli membuat konsumen cenderung menahan pengeluaran untuk barang nonesensial atau discretionary, seperti pakaian, alat komunikasi, dan perlengkapan rumah tangga.
Sentimen domestik lainnya berasal dari posisi utang pemerintah. Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah pusat mencapai Rp10.293,69 triliun hingga 30 Juni 2026.
Posisi tersebut membuat rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 41,26 persen. Utang pemerintah terdiri atas Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.966,79 triliun dan pinjaman sebesar Rp1.326,90 triliun.
Pelaku pasar juga menantikan pengumuman August 2026 Index Review dari MSCI. Berdasarkan jadwal yang diberikan, daftar penambahan dan penghapusan saham akan dipublikasikan setelah pukul 23.00 CEST pada Rabu, 12 Agustus 2026, atau sekitar pukul 04.00 WIB pada Kamis, 13 Agustus 2026. Perubahan hasil reviu akan diterapkan setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.
Prediksi Kamis, 13 Agustus 2026
Memasuki perdagangan Kamis (13/8/2026), mata uang rupiah diproyeksikan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas.
Analis memperkirakan jika respons pasar global terhadap inflasi AS cenderung moderat, nilai tukar rupiah berpotensi tertahan di rentang support terkini. Namun, memanasnya kembali isu geopolitik bisa memicu dorongan penguatan dolar AS lebih lanjut.
Kemudian pasar domestik masih menghadapi sentimen yang beragam. Penurunan keyakinan konsumen menjadi perhatian, sementara pemulihan penjualan eceran memberikan indikasi perbaikan permintaan pada Juni 2026.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.870 per USD hingga Rp17.940 per USD,” jelas Ibrahim.
| Indikator | Proyeksi Pergerakan |
| Karakteristik | Fluktuatif (Rentang Terbatas) |
| Rentang Perdagangan | Rp17.860 – Rp17.920 per dolar AS |
| Kunci Penggerak | Respon pasar terhadap rilis data CPI/PPI AS & isu Selat Hormuz |














