Ekonomi
Rupiah Jumat 26 Juni 2026: Tertekan, Melawan dan Menguat Namun Awas Volatil

Rupiah pada perdagangan valuta asing Jumat (26/6/2026) mampu membalik posisi dari melemah menjadi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses membalikkan keadaan pada penutupan perdagangan akhir pekan. Sempat loyo di sesi pagi, mata uang Garuda mampu bangkit melawan hingga akhirnya menutup hari di zona hijau seiring menguatnya respons positif pasar terhadap stabilitas fiskal domestik.
Berdasarkan data pasar pada Jumat (26/6/2026), kurs rupiah ditutup menguat 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.922 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.943 per dolar AS.
Performa impresif di akhir sesi ini menjadi angin segar setelah rupiah sempat dibayangi tekanan berat dari sentimen global.
Namun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak melemah di level Rp17.962 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.942 per dolar AS.
Disisi lain, tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi namun cenderung ikut menguat tipis menjelang sore hari seiring dengan indeks dolar AS yang sedikit tergerus sekitar 0,1 persen ke level 101,33.
Penguatan rupiah sebesar 0,12 persen ini menempatkan mata uang Garuda sejajar dengan tren positif mata uang regional lainnya seperti Ringgit Malaysia dan Won Korea Selatan yang juga berhasil bangkit ke zona hijau.
Goyang Mendekati Level Psikologis Baru
Pada awal perdagangan Jumat pagi, nilai tukar rupiah sebenarnya sempat dibuka melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.988 per dolar AS. Pasar sempat dibuat ketar-ketir lantaran posisi tersebut kian mendekati ambang psikologis baru, yakni Rp18.000.
Tekanan utama pada paruh pertama hari ini didominasi oleh sikap hawkish dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Sejumlah pejabat The Fed mengindikasikan bahwa tingkat inflasi di Amerika Serikat masih cukup tinggi, memicu ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate) akan dipertahankan di level tinggi lebih lama (higher for longer).
Kondisi tersebut sempat memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, menuju aset safe-haven dolar AS.
Penyelamat Bisa Menguat
Penguatan rupiah di akhir pekan ini tidak lepas dari kombinasi respons taktis Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing serta optimisme pelaku pasar terhadap kondisi fiskal dalam negeri yang dinilai tetap solid.
Berikut beberapa faktor pendorong di balik pulihnya nilai tukar rupiah hari ini:
- Intervensi Pasar Bank Indonesia: BI secara konsisten mengawal stabilitas nilai tukar melalui triple intervention di pasar spot maupun pasar domestic non-deliverable forward (DNDF).
- Lelang Instrumen Moneter: Operasi moneter melalui penyerapan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terbukti ampuh meredam volatilitas dan menarik minat investor.
- Resiliensi Ekonomi Nasional: Data stabilitas fiskal dan pertumbuhan ekonomi domestik yang kuat memberikan pondasi bagi investor untuk kembali masuk ke pasar keuangan RI.
Sementara itu Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, seperti dilansir TradingView, mengatakan penguatan rupiah didorong oleh penurunan indeks dolar AS. Pelemahan dolar terjadi seiring berkurangnya ekspektasi investor terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Sore ini, indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,251 atai melemah 0,33% dalam sehari.
“Penguatan hari ini didukung oleh penurunan pada indeks dolar AS, dengan investor mengurangi harapan pada prospek kenaikan suku bunga The Fed seiring harga minyak mentah dunia yang terus menurun,” kata Lukman, Jumat (26/6/2026).
Kemudian, mengutip metrotv, Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipicu respons positif terhadap pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal.
“Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun,” katanya.
Pekan Depan Volatil
Para analis memproyeksikan pergerakan kurs rupiah pada awal pekan depan masih akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi global terbaru serta kelanjutan strategi intervensi Bank Indonesia dalam menjaga batas psikologis mata uang nasional.
Lukman menilai pergerakan rupiah pada awal pekan depan masih berpotensi berfluktuasi. Investor diperkirakan akan bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun Amerika Serikat.
Dari domestik, pelaku pasar akan mencermati data neraca perdagangan, inflasi, dan aktivitas manufaktur yang dijadwalkan rilis pada Rabu. Sementara dari AS, perhatian akan tertuju pada data aktivitas manufaktur yang juga dirilis Rabu, disusul laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) pada Kamis.
Selain data ekonomi, pergerakan pasar saham global juga diperkirakan menjadi faktor yang memengaruhi sentimen di pasar keuangan. Menurut Lukman, volatilitas saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) masih akan menjadi perhatian investor.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada sepekan ke depan masih akan cenderung volatil. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.750 hingga Rp 18.100 per dolar AS hingga akhir pekan.
Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (26/6/2026), rupiah diprediksi kembali melemah setelah ketegangan di Timur Tengah kembali memanas, di mana sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di dekat Oman, yang mendorong badan pelayaran PBB untuk menangguhkan skema evakuasi sukarela.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.920 – Rp 17.960,” ujar Ibrahim. “Sedangkan untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp 17.880 – Rp 18.100,” tambahnya. ***














