Ekonomi

IHSG Memerah, Rupiah Masih Loyo Makin Dekati Rp17.000 Perdolar Amerika Serikat

Published

on

IHSG Memerah, Rupiah Masih Loyo Makin Dekati Rp17.000 Perdolar Amerika Serikat

Bikin dahi berkerut melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat menguat berbalik arah melemah pada penutupan perdagangan saham Kamis (19/2/2026), dan rupiah loyo terus hingga nyaris masuk Rp17.000 perdolar Amerika Serikat (AS)

FAKTUAL INDONESIA: Perdagangan saham dan valuta hari ini Kamis (19/2/2026) termasuk suram untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Memang IHSG BEI sempat memberikan harapan ketika dibuka menguat dalam perdagangan pagi hari namun kemudian putar balik memerah ketika melemah saat penutupan perdagangan sore harinya.

Sementara nilai tukar (kurs) rupiah yang beberapa hari terakhir loyo, belum mampu bangkit dalam perdagangan hari ini. Bukan saja terus melemah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan hari ini namun juga sudah mendekati Rp17.000 terhadap dolar AS.

IHSG Melemah Sendirian

Baca Juga : IHSG Terbang Pasca – Imlek, Rupiah Terpeleset Tertekan Ketegangan Selat Hormuz

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampaknya sedang ingin tampil “beda” hari ini. Di saat bursa saham utama Asia menghijau menyambut euforia sektor teknologi global, IHSG justru harus rela parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Kamis.

Advertisement

Indeks ditutup melemah 0,43% atau turun sekitar 36 poin ke level 8.274,08. Padahal, pagi tadi IHSG sempat memberikan harapan dengan dibuka menguat hingga menyentuh level 8.376.

Sempat melaju di jalur hijau dan dibuka optimistis di level 8.376, IHSG berbalik arah dan mendarat di zona merah, terkoreksi 36,146 poin atau 0,43% ke posisi 8.274.

Penyebab utama IHSG loyo bukan karena kurangnya modal, melainkan respon pasar terhadap kebijakan moneter dalam negeri.

  • Efek BI Rate: Bank Indonesia resmi mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%. Meski langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian global, investor tampaknya berharap ada stimulus lebih atau setidaknya sentimen yang lebih segar.
  • Aksi Jual Saham Perbankan: Segera setelah pengumuman BI Rate, saham-saham “raksasa” perbankan langsung tertekan. Bank Mandiri (BMRI) terkoreksi cukup dalam sebesar 3,79%, diikuti oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang turun 1,56%.
  • Kontras dengan Asia: Sementara Nikkei (Jepang) dan Kospi (Korea Selatan) melonjak karena sentimen chip AI dari Wall Street, sektor teknologi di Indonesia justru memble dengan penurunan mencapai 1,16%.

Dapur Perdagangan dalam Angka

Baca Juga : Rupiah dan IHSG Masih Loyo Jelang Long Weekend Imlek, Tertekan Aksi Ambil Untung

Meskipun indeks melemah, aktivitas pasar tetap “panas” dengan nilai transaksi mencapai Rp26,23 triliun.

Saham Turun: 366 emiten

Advertisement

Saham Naik: 326 emiten

Saham Stagnan: 127 emiten

Di balik lesunya indeks, sektor Industri Dasar justru tampil sebagai pahlawan kesiangan dengan kenaikan 2,85%, ditopang oleh saham-saham kertas seperti TKIM dan INKP.

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan eksternal dan domestik, terutama pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta respons investor terhadap risalah FOMC dan keputusan Bank Indonesia yang kembali mempertahankan suku bunga acuan.

“Pergerakan IHSG hari ini sejalan dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan investor merespons FOMC Minutes serta keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuannya,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (19/2/2026).

Advertisement

Baca Juga : IHSG dan Rupiah Hari Ini Harus Sama-sama Masuk Zona Merah

Untuk perdagangan Jumat (20/2/2026), ia memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak terkoreksi dengan area support di level 8.227 dan resistance 8.333. Sentimen pasar diperkirakan masih dipengaruhi pergerakan rupiah yang rentan melemah serta perhatian investor terhadap data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Untuk perdagangan Jumat (20/2/2026), Herditya merekomendasikan saham AMMN pada area Rp7.875-Rp8.050, TINS di kisaran Rp4.440-Rp4.670, serta TKIM pada Rp7.625-Rp7.825.

Ada yang memperkirakan pelemahan ini bersifat teknis dan jangka pendek. Menariknya, investor mulai melirik sektor konsumer (Consumer Goods) sebagai antisipasi masuknya Siklus Ramadan 2026 yang jatuh mulai besok. Jadi, bagi Anda para pemburu saham, mungkin ini saatnya memperhatikan emiten ritel dan makanan.

Baca Juga : Rupiah Perkasa, IHSG BEI Melesat Tajam, Awas Ancaman Mengintai

Rupiah Terjepit Tensi Global

Nilai tukar Rupiah tampaknya harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (19/2/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah tipis 10 poin ke level Rp16.894 per dolar AS, setelah sempat terperosok hingga menyentuh angka psikologis Rp16.955 pada perdagangan intraday. Posisi rupiah kini makin mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Advertisement

Pelemahan ini terjadi meski Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan keputusan penting untuk menjaga stabilitas moneter dalam negeri.

Ada “badai” dari luar negeri yang membuat otot rupiah sedikit mengendur:

  • Tensi Geopolitik Memanas: Kabar mengenai ketegangan antara AS dan Iran yang kembali meningkat memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Investor cenderung “main aman” dengan memborong Dolar AS sebagai aset safe haven.
  • Kejutan dari Negeri Paman Sam: Data ekonomi AS yang tetap kokoh dan risalah The Fed yang masih bernada hawkish (ketat) membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga di sana memudar. Hal ini memberikan tenaga ekstra bagi indeks Dolar untuk menekan mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah.
  • Permintaan Valas Korporasi: Di dalam negeri, kenaikan aktivitas ekonomi menjelang siklus Ramadan 2026 memicu peningkatan permintaan valas dari perusahaan domestik, yang menambah tekanan jual pada mata uang lokal.

Baca Juga : IHSG BEI Bangkit Perkasa Tembus Level 8.100, Rupiah Tergelincir Digoyang Dolar

Benteng Pertahanan Bank Indonesia

Di tengah gempuran eksternal, Bank Indonesia tetap berdiri kokoh. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%.

“Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah saat ini sebenarnya masih undervalued (di bawah nilai wajar) jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi kita,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo.

BI berkomitmen untuk terus melakukan intervensi di pasar guna memastikan volatilitas Rupiah tetap terkendali dan tidak liar.

Advertisement

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko di Timur Tengah setelah pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance bahwa Iran belum memenuhi tuntutan utama Washington dalam perundingan nuklir.

“Investor tetap fokus pada risiko Timur Tengah setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran gagal memenuhi tuntutan utama AS dalam pembicaraan. Namun Washington memberi Teheran waktu dua minggu untuk mengatasi kesenjangan,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Baca Juga : IHSG BEI Rebound Fantastis, Rupiah Menguat Pimpin Mayoritan Mata Uang Asia

Selain faktor geopolitik, risalah rapat Federal Reserve juga memberi dukungan pada penguatan dolar AS. Menurut Ibrahim, para pejabat The Fed masih melihat risiko inflasi cenderung meningkat, meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai perlunya kenaikan suku bunga lanjutan.

“Para pembuat kebijakan secara umum sepakat bahwa risiko inflasi tetap cenderung ke atas, tetapi berbeda pendapat tentang seberapa ketat kebijakan yang harus diterapkan dan berapa lama suku bunga harus tetap tinggi,” ungkap Ibrahim.

Dari dalam negeri, sentimen turut dipengaruhi sikap pemerintah yang menolak rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) 21 demi menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap PDB.

Advertisement

Menurut Ibrahim, pemerintah memilih fokus pada perluasan basis pajak dan peningkatan kepatuhan dibanding menaikkan tarif. “Pemerintah saat ini lebih fokus pada perluasan basis pajak dan penutupan kebocoran penerimaan dibanding menaikkan tarif pajak. Selain itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat secara alami dan defisit anggaran dapat ditekan,” jelas Ibrahim.***

Exit mobile version