Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Rabu 20 Mei 2026: Merosot Usai Pidato Presiden Prabowo, Ada Apa?

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terjerembap di zona merah pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2026) sehingga sudah enam hari perdagangan berturut-turut melemah. (Ist)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terjerembap di zona merah pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2026) sehingga sudah enam hari perdagangan berturut-turut melemah. (Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) belum mampu keluar dari tekanan. Sempat bergerak sangat volatil hingga melesat ke zona hijau di pagi hari, IHSG akhirnya kembali terjerembap di zona merah pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2026). Ini menandai pelemahan indeks selama enam hari perdagangan berturut-turut.

Pada pembukaan perdagangan saham Rabu pagi, IHSG dibuka melemah 18,48 poin atau 0,29 persen ke posisi 6.352,20. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,19 poin atau 0,03 persen ke posisi 635,01.

Sepanjang hari ini, aktivitas di lantai bursa berlangsung sangat semarak namun dipenuhi drama. Indeks bergerak di rentang yang sangat lebar, sempat menyentuh level tertinggi harian di posisi 6.459,556 sebelum akhirnya terlempar ke titik terendah di level 6.215,562.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG akhirnya ditutup merosot 0,82 persen atau terpangkas 52,18 poin ke level 6.318,50. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,14 poin atau 0,65 persen ke posisi 630,68.

Sentimen Eksportir Tunggal BUMN

Advertisement

Fluktuasi tajam yang dialami IHSG hari ini tak lepas dari respons pelaku pasar terhadap sidang paripurna DPR. Investor bereaksi cepat saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.

Dalam pidatonya, Presiden mengumumkan rencana besar penataan tata kelola ekspor komoditas Sumber Daya Alam (SDA) melalui mekanisme satu pintu (single exporter) yang akan dikelola oleh BUMN yang ditunjuk. Aturan ini menyasar tiga komoditas raksasa: kelapa sawit (CPO), batu bara, dan ferroalloy (paduan besi) yang akan diuji coba per 1 Juni 2026.

Kebijakan ini langsung memicu kekhawatiran para pelaku pasar mengenai potensi intervensi harga jual yang bisa menggerus marjin laba perusahaan komoditas swasta. Akibatnya, aksi lego saham berbasis barang baku dan energi tak terhindarkan.

Selain sentimen komoditas, pasar hari ini juga mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akhirnya memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen. Meski langkah BI ini sukses menyelamatkan rupiah ke zona hijau, bagi pasar saham, kenaikan suku bunga tetap menjadi tantangan tersendiri bagi biaya ekspansi emiten ke depan.

“Pasar merespons pengumuman tata kelola ekspor satu pintu ini dengan sikap wait and see. Ketidakpastian mengenai teknis pelaksanaan regulasi baru tersebut membuat volatilitas indeks hari ini sangat tinggi,” ujar Adityo, analis pasar modal di Jakarta.

Advertisement

Menurut Phintraco Sekuritas, regulasi ini bisa meningkatkan kompleksitas administrasi dan memperpanjang pengurusan transaksi ekspor. Hal ini dapat berdampak pada margin perusahaan akibat kurangnya fleksibilitas dan potensi biaya tambahan selama masa transisi.

Kesimpulannya, kebijakan ini adalah langkah pemerintah untuk memperketat kontrol terhadap transaksi komoditas SDA yang memiliki nilai strategis. Namun, pelaksanaan peraturan ini perlu pengawasan ketat agar tidak menekan kinerja perusahaan.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG ditutup tekoreksi 0,82% setelah selama sesi pertama bergerak volatile di tengah pidato Presiden pada sidang paripurna.

“Di sisi lain nilai tukar Rupiah bergerak menguat di 17.700 terhadap dolar Amerika Serikat dan BI memutuskan menaikkan BI rate di 5,25% untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Secara teknikal, sejumlah analis memperkirakan IHSG masih rawan mengalami fase konsolidasi lanjutan untuk menguji area gap berikutnya di kisaran level 6.100–6.200, sebelum pasar benar-benar mencerna dampak penuh dari kepastian regulasi baru pemerintah.

Advertisement

IHSG masih berpotensi bergerak dalam rentang 6.150 hingga 6.400, dengan level 6.100 menjadi area yang perlu dicermati pelaku pasar.

Adapun rekomendasi saham dari Herditya antara lain AMRT di kisaran Rp 1.555-Rp 1.635, HRTA di Rp 2.240-Rp 2.370, serta MBMA di Rp 478-Rp 520.

“Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak variatif pada kisaran support 6.200-6.250 dan resistance pada 6.400-6.450,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Rabu (20/5/2026).

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi saham LCKM, OASA, MPOW, IRSX, dan PIPA untuk trading, Kamis (21/5/2026).

Sektor Barang Baku Paling Merana

Advertisement

Pelemahan IHSG sore ini terseret oleh tumbangnya 9 dari 12 indeks sektoral, dengan sektor barang baku (basic materials) menjadi yang paling lesu.

Tercatat sebanyak 217 saham bergerak menguat, 510 saham melemah, dan 232 saham lainnya stagnan.

Volume transaksi tercatat mencapai 37,75 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp21,75 triliun. Sedangkan frekuensi perdagangan mencapai 2,44 juta kali transaksi.

Sementara kapitalisasi pasar atau market cap senilai Rp10.963 triliun.

Mayoritas indeks sektoral bergerak di zona merah, kecuali sektor keuangan dan infrastruktur yang naik masing-masing 1,21 persen dan 0,05 persen.

Advertisement

Saham-saham yang masuk top gainers yaitu saham PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) menguat 29,33 persen ke Rp194, PT Super Energy Tbk (SURE) naik 24,89 persen ke Rp2.960, dan PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) menanjak 24,81 persen ke Rp1.610.

Sedangkan saham-saham yang masuk top losers antara lain, PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) melemah 15 persen ke Rp510, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merosot 14,74 persen ke Rp2.660, dan PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) turun 14,67 persen ke Rp785.

Di sisi lain, investor asing justru memanfaatkan momentum koreksi ini dengan melakukan aksi belanja. Asing mencatatkan net buy (aksi beli bersih) yang cukup besar di tengah kejatuhan indeks, terutama pada saham-saham seperti MDKA, ADRO, dan sejumlah saham perbankan seperti BMRI dan BBNI yang menahan IHSG dari kejatuhan yang lebih dalam. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement