Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Rabu 10 Juni 2026: Pasar Bergairah, Indek Melambung ke Level 5.902, Tapi Masih Rawan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

IHSG BEI Rabu 10 Juni 2026: Pasar Bergairah, Indek Melambung ke Level 5.902, Tapi Masih Rawan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (10/6/2026) sempat mengkhawatirkan di pembukaan namun melegakan di penutupan sehingga masih perlu waspada untuk pergerakan esok hari. (Foto AI/Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar modal Indonesia kembali cerah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  hari ini sukses melanjutkan tren reli positifnya pada penutupan perdagangan Rabu sore (10/6/2026).

Indeks acuan domestik tersebut melesat tajam 2,71% atau bertambah 155,73 poin hingga mendarat nyaman di level 5,902,37. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 20,16 poin atau 3,54 persen ke posisi 589,48.

Padahal ketika pembukaan perdagangan saham pagi hari, IHSG sempat mengkhawatirkan ketika dibuka melemah 2,59 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.744,06. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,41 poin atau 0,25 persen ke posisi 567,91.

Baca Juga : IHSG BEI Selasa 9 Juni 2026: Melambung Menguat 7,5% Berpotensi Profit Taking

Namun setelah itu IHSG bergerak ke teritori positif sampai penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan.

Aktivitas perdagangan di BEI hari ini terpantau sangat bergairah. Investor tampak agresif melakukan aksi beli (bargain hunting) menyusul pulihnya kepercayaan pasar.

Advertisement

Kombinasi Sentimen Positif Domestik & Global

Para analis menilai, ada dua faktor krusial di balik melambungnya IHSG hari ini:

  • Sinergi Rupiah: Penguatan tajam IHSG berjalan beriringan dengan mata uang rupiah yang juga ditutup perkasa terhadap dolar AS. Hal ini memberikan ketenangan psikologis bagi investor asing untuk menyuntikkan modalnya kembali.
  • Respon Kebijakan Makro: Pasar merespons positif sejumlah bauran kebijakan ekonomi domestik yang dinilai akomodatif serta adanya tanda-tanda pelonggaran kebijakan moneter (dovish) dari bank sentral global.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim seperti dilansir metrotv mengemukakan, menguatnya IHSG seiring para investor memberikan apresiasi atas kebijakan yang telah ditetapkan dalam menghadapi gejolak pasar keuangan di dalam negeri.

Baca Juga : IHSG BEI Senin 8 Juni 2026: Tumbang Dramatis 4,52% Terseret Panic Selling, Selanjutnya Tergantung BI

“Rebound IHSG berlanjut antara lain didukung oleh koreksi harga minyak mentah dunia serta penguatan nilai tukar rupiah. Selain itu investor domestik mengapresiasi mulai adanya respons pemerintah menghadapi gejolak pasar modal Indonesia,” kata Ratna Lim dalam kajiannya, Rabu. Sementara dari dalam negeri, IHSG melanjutkan penguatan seiring dengan respons positif pelaku pasar terhadap kebijakan domestik yang ditetapkan terkait dengan pasar modal dan moneter.

Pada Selasa, 10 Juni 2026, telah dilakukan pembahasan antara DPR RI, Danantara Indonesia, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BPJS, serta asuransi BUMN soal rencana program buyback (pembelian kembali) saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) BUMN.

Pada hari yang sama, Bank Indonesia (BI) menaikkan tingkat suku bunga acuannya sebesar 25 bps ke level 5,50 persen, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan. Kenaikan BI-Rate memberikan dampak terhadap kurs rupiah yang menguat 114,00 poin atau 0,63 persen ke posisi 17.944 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.

Advertisement

Sementara itu, dari mancanegara, bursa kawasan Asia melemah dampak tensi geopolitik, setelah AS melancarkan serangan bela diri terhadap Iran sebagai tanggapan atas jatuhnya helikopter AS.

Baca Juga : IHSG BEI Jumat 5 Juni 2026: Anjlok Gara-gara Asing Lepas Rp3,7 Triliun, Tren Bearish Bisa Berlanjut

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan. Hal itu meningkatkan kekhawatiran atas ketidakstabilan regional yang lebih luas dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Harga energi global yang tinggi akibat konflik regional memicu kekhawatiran tentang inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral. Di sisi lain, pasar juga menunggu data inflasi AS terbaru untuk sinyal baru tentang prospek kebijakan The Fed Federal Reserve.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 1,66 persen ke 64.330,00, indeks Shanghai melemah 0,42 persen ke 3.993,23, indeks Hang Seng melemah 0,64 persen ke 24.407,96, dan indeks Strait Times melemah 1,28 persen ke 4.958,85.

Masih Rawan Terkoreski

Advertisement

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menjelaskan rebound IHSG berlanjut antara lain didukung koreksi harga minyak mentah dunia serta penguatan nilai tukar rupiah.

“Selain itu investor domestik mengapresiasi mulai adanya respon pemerintah menghadapi gejolak pasar modal Indonesia,” jelasnya kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).

Secara teknikal, kata Alrich, IHSG bertahan di atas MA5 dan ditutup di level MA10 dengan stochastic RSI berlanjut menguat di area pivot.

Baca Juga : IHSG BEI Kamis 4 Juni 2026: Sudah Merosot Cetak Rekor Terendah Baru, Berpotensi Melemah Lagi

“Penyempitan histogram MACD berlanjut dan berpotensi membentuk Golden Cross sehingga IHSG berpeluang menguji level psikologis di level 6.000,” kata dia.

VP of Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi memproyeksikan IHSG bergerak mixed cenderung menguat terbatas dengan level support 5.688 dan resistance 6.131 indikator MACDberpotensi terjadi golden cross.

Advertisement

Menurutnya, pasar saham akan dipengaruhi oleh normalisasi nilai Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung akan direspon positif oleh pasar. Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.944 per dolar AS.

“Sentimen juga datang dari pembagian dividen khususnya emiten yang memberikan dividend yield tinggi seperti UNVR sebesar 7% hingga AMRT sekitar 3% dengan data penutupan 10 Juni 2026,” kata Audi.

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan IHSG rawan terkoreksi dengan area support di level 5.849 dan level resistance di 5.964.

“Untuk sentimen diperkirakan akan adanya profit taking setelah dua hari beruntun menguat cukup signifikan. Investor juga masih mencermati data CPI dan PPI AS,” jelasnya.

Baca Juga : IHSG BEI Rabu 3 Juni 2026: Badai Besar, Sudah Anjlok 4 Persen Terancam Terus Tertekan Pula

Sektor Transportasi dan Teknologi Pimpin Penguatan

Advertisement

Performa gemilang IHSG sore ini disokong oleh seluruh indeks sektoral yang kompak parkir di zona hijau. Tidak ada satu pun sektor yang memerah pada penutupan sesi II.

Tiga sektor dengan lonjakan tertinggi hari ini dipimpin oleh:

  1. Sektor Transportasi: Melejit 4,51%
  2. Sektor Teknologi: Melesat 4,37%
  3. Sektor Properti: Naik 3,39%

Aksi borong saham oleh investor juga teercermin dari nilai transaksi bursa yang menembus angka fantastis, yakni Rp31,17 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 42,34 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 3,02 juta kali. Kapitalisasi pasar (market cap) bursa pun ikut terkerek hingga menyentuh Rp10.344 triliun.

Sebanyak 600 saham bergerak menguat, 156 saham melemah, dan 203 saham lainnya stagnan.

Baca Juga : IHSG BEI Selasa 2 Juni 2026: Awal Mengesankan Rebound 1,11%, Sinyal Teknikal yang Positif

Saham Perbankan Big Cap Jadi Motor Utama

Sektor keuangan domestik menguat sebesar 3,21%, di mana jajaran saham blue chip bermodal jumbo (big caps) sukses menjadi tulang punggung penguatan indeks.

Advertisement
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Menjadi penggerak utama (top movers) dengan menyumbang kenaikan hingga 30,54 indeks poin.
  • Bank Himbara: Tiga emiten bank milik negara, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) kompak melesat. Sentimen positif seputar opsi buyback saham menjadi bahan bakar utama yang memicu reli ketiga saham pelat merah ini.
  • Saham Konglomerasi: Sejumlah emiten besar seperti BRPT, BREN, dan TPIA turut menyumbang poin penting bagi keperkasaan bursa.

Bagi  yang ingin mencermati pergerakan pasar secara kilat, berikut ringkasan datanya:

Indikator PasarHasil Penutupan (10 Juni 2026)
Posisi Akhir IHSG5.902,37 (Menguat 2,71%)
Nilai TransaksiRp31,17 Triliun
Saham Menguat : Melemah600 Saham : 156 Saham
Top SectorTransportasi (+4,51%) & Teknologi (+4,37%)

Lanjutkan Membaca
Advertisement