Ekonomi
IHSG BEI Jumat 31 Juli 2026: Ceria di Akhir Pekan dan Bulan, Berpeluang Teruskan Tren Penguatan

Pada perdagangan akhir bulan Juli yang bertepatan dengan penutupan akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sukses tetap berada di zona hijau sehingga IHSG BEI ceria pada Jumat (31/7/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Akhir bulan dan jelang akhir pekan yang ceria untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada perdagangan akhir bulan Juli yang bertepatan dengan penutupan akhir pekan, IHSG BEI sukses tetap berada di zona hijau.
Pasar saham domestik mencatatkan kinerja positif setelah IHSG ditutup menguat 49,77 poin atau 0,80 persen ke level 6.236,13 pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026).
Sepanjang hari perdagangan, indeks bergerak bervariasi di rentang 6.186 hingga 6.236 setelah sempat dibuka pada level 6.186.
Indeks kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 juga mencatatkan kenaikan sebesar 2,38 poin atau 0,38 persen ke level 621,24.
Tren penguatan juga mewarnai bursa saham regional Asia. Hampir semua menguat seperti indeks Nikkei menguat 3,86 persen ke 64,354,00, indeks Shanghai menguat 0,72 persen ke 3.832,26, indeks Hang Seng menguat 0,10 persen ke 25.884,43, indeks Kospi menguat 17,91 persen ke 6.595,453. Namun indeks Strait Times melemah 0,79 persen ke 5.628,50.
Sentimen Positif Dalam Negeri
Pergerakan pasar hari ini dipengaruhi oleh kombinasi data ekonomi Amerika Serikat (AS), kebijakan fiskal China, serta sentimen positif dari dalam negeri terkait tata kelola anggaran dan kepemimpinan bank sentral.
Seperti dipantau dari lansiran Media Indonesia, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pelaku pasar merespons positif melandainya inflasi PCE AS Juni 2026 ke angka 3,7 persen (yoy). Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026 yang melambat di level 1,5 persen (yoy) memicu spekulasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada September mendatang untuk memitigasi kelesuan ekonomi.
“Kondisi itu memicu spekulasi investor bahwa The Fed akan mengalihkan fokusnya dari pengendalian inflasi ke mitigasi kelesuan ekonomi. Sehingga pasar berekspektasi bahwa The Fed akan kembali menahan suku bunga pada rapat kebijakan di bulan September 2026,” ujar Nico.
Dari Asia, hasil pertemuan Politbiro China memberikan kepastian mengenai dukungan ekonomi melalui kebijakan fiskal yang terukur. Meski tidak meluncurkan stimulus besar-besaran, komitmen China untuk menstabilkan sektor properti dan mereformasi pasar modal memberikan ketenangan bagi investor regional.
Di dalam negeri, pasar merespons positif putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menegaskan bahwa pendanaan program makanan gratis tidak boleh memangkas anggaran pendidikan. Langkah ini dinilai memperkuat reformasi tata kelola pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, sinyal penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif memberikan kepastian stabilitas kebijakan moneter.
Sektor Motor Penggerak
Aktivitas perdagangan terbilang semarak dengan total nilai transaksi mencapai Rp 18,26 triliun dan volume perdagangan mencapai 32,45 miliar saham dalam 1,95 juta kali transaksi.
Sebanyak 455 saham tercatat menguat, 205 saham melemah, dan 303 saham bergerak stagnan.
Frekuensi transaksi tercatat 1.938.000 kali dengan volume saham 31,52 miliar lembar yang mencatat nilai transaksi sebesar Rp18,24 triliun
Laju IHSG pada penutupan pekan ini ditopang oleh penguatan di hampir seluruh sektor saham (10 dari 11 sektor menguat). Sektor barang baku (IDXBASIC) memimpin penguatan sebesar 2,54 persen, disusul sektor kesehatan (IDXHEALTH) yang melonjak 2,43 persen, dan sektor teknologi (IDXTECHNO) yang naik 2,23 persen.
Saham top gainers hari ini meliputi IATA, SGRO, TALF, FPNI, dan OPMS. Sebaliknya, saham yang masuk jajaran top losers adalah HATM, ESTI, JSPT, GULA, dan STRK.
Aksi beli investor terdorong oleh sentimen positif rilis kinerja keuangan emiten kuartal II/2026 yang kuat serta kondisi pasar global yang cenderung kondusif usai Bank Sentral AS (The Fed) menahan suku bunga acuan.
Prediksi Senin, 3 Agustus 2026
Memasuki awal bulan Agustus 2026, pergerakan IHSG pada perdagangan Senin (3/8/2026) diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren penguatan terbatas (technical rebound) dengan kecenderungan konsolidasi.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan pada pekan depan. “IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.300 hingga 6.380,” jelasnya.
Sedangkan Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas.
“Kami perkirakan IHSG masih berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas, dengan support di 5.966 dan resistance di 6.377,” ungkapnya.
Seperti dilansir Kontan, Herditya merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati, yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) di kisaran Rp595-Rp605 per saham, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) di rentang Rp1.455-Rp1.610 per saham, serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) pada kisaran Rp540-Rp580 per saham.
Dengan berbagai sentimen tersebut, investor disarankan tetap selektif dalam mengambil keputusan investasi di tengah dinamika pasar yang masih dipengaruhi faktor global dan domestik.
- Support:180 – 6.200
- Resistance:250 – 6.280
Faktor Sentimen Penggerak Pasar:
- Rilis Data Ekonomi Domestik: Investor akan mencermati publikasi data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur serta angka Inflasi Indonesia periode Juli 2026 yang dijadwalkan rilis di awal bulan.
- Musim Laporan Keuangan: Musim rilis laporan keuangan semester I/2026 emiten kelas berat (big caps) diperkirakan masih menjadi katalis utama pergerakan saham sektoral.
- Arus Modal Asing: Minat akumulasi investor asing di pasar reguler berpotensi menjaga rantai likuiditas IHSG di area resistance.
Para pelaku pasar disarankan untuk mencermati saham-saham berkapitalisasi besar yang ditopang kinerja fundamental solid serta emiten di sektor konsumer dan perbankan yang berpotensi memanfaatkan momentum data inflasi domestik. ***














