Ekonomi
IHSG BEI Jumat 26 Juni 2026: Menguat Lalu Amblas ke Level 5.896, Pekan Depan Tetap Rawan

Sentimen negatif global dan regional memicu aksi ambil untung (profit taking) dan aksi jual massal oleh para investor di akhir pekan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup dengan rapor merah yang cukup dalam Jumat (26/6/2026). (AI)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menutup pekan ini dengan rapor merah yang cukup dalam. Sentimen negatif global dan regional memicu aksi ambil untung (profit taking) dan aksi jual massal oleh para investor di akhir pekan.
Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (26/6/2026), IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 102,91 poin atau 1,72 persen ke posisi 5.896,13. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,03 poin atau 0,69 persen ke posisi 583,72.
Kejatuhan ini melempar kembali indeks ke bawah level psikologis 5.900, setelah sepanjang hari bergerak di zona merah tanpa perlawanan berarti dari sentimen beli.
Memang pada awal perdagangan saham Jumat pagi IHSG sempat dibuka menguat menguat 11,30 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.010,34. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,71 poin atau 0,12 persen ke posisi 587,04.
Namun, tekanan jual mulai meningkat sehingga indeks bergerak ke zona negatif sejak sesi pertama dan bertahan di area merah hingga penutupan perdagangan.
Kronologi Pasar
Hampir seluruh sektor saham terkoreksi berjamaah hari ini. Sektor keuangan (finance), teknologi (technology), dan infrastruktur menjadi motor utama pelemahan indeks. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar (blue-chip) atau LQ45 bertumbangan dan mencatatkan penurunan yang cukup tajam.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik 2,49 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non primer dan sektor transpprtasi & logistik yang naik masing-masing naik 0,47 persen dan 0,29 persen.
Sedangkan enam sektor turun yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 1,96 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor kesehatan yang turun masing-masing sebesar 1,32 persen dan 1,07 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BBRM, TRUS, ARTA, BHAT, dan RICY. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni FUJI, CLPI, YUPI, GPSO, UVCR.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.520.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 19,11 miliar lembar saham senilai Rp12,72 triliun. Sebanyak 130 saham naik 590 saham menurun, dan 239 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 4,09 persen ke 71.126,00, indeks Hang Seng melemah 1,76 persen ke 22.671,86, indeks Shanghai melemah 2,26 persen ke 4.027,26, sedangkan indeks Strait Times melemah 0,52 persen ke 5.191,73.
3 Faktor Utama Koreksi Tajam
Para analis menilai ambrolnya IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal yang menekan pasar keuangan negara berkembang (emerging markets) serta dinamika arus modal domestik.
Berikut adalah faktor-faktor di balik kejatuhan IHSG hari ini:
- Sentimen ‘Higher for Longer’ Suku Bunga AS: Kekhawatiran pasar kembali meningkat setelah rilis data inflasi AS yang masih membandel. Hal ini memicu spekulasi bahwa bank sentral AS (The Fed) tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
- Aksi Jual Investor Asing (Net Foreign Sell): Mengikuti tren global, investor asing terpantau melakukan penjualan bersih (net sell) dalam jumlah besar di pasar reguler, mengalihkan dana mereka ke aset yang dinilai lebih aman (safe haven).
- Faktor Akhir Pekan (Weekend Effect): Menjelang libur Sabtu dan Minggu, para pelaku pasar cenderung mengamankan aset atau melakukan profit taking massal guna menghindari risiko ketidakpastian yang mungkin terjadi selama pasar tutup.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, seperti dilansir liputan6, mengatakan, pelemahan IHSG dipengaruhi koreksi yang terjadi di pasar saham global.
“IHSG ditutup melemah terimbas koreksi indeks bursa global,” ujar Ratna.
Tekanan berasal dari melemahnya bursa Asia dan Eropa akibat aksi jual pada saham-saham sektor teknologi. Kekhawatiran investor terhadap meningkatnya biaya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu pemicu utama.
“Tekanan pada saham sektor teknologi ini memicu koreksi pada harga komoditas logam, yang mendorong koreksi saham terkait,” ujar Ratna.
Pekan Depan Akankah Ada Rebound?
Secara teknikal, penutupan IHSG di level 5.896,13 menunjukkan tekanan jual yang masih relatif kuat. Level support terdekat kini berada di kisaran 5.850. Jika level tersebut mampu bertahan, ada peluang bagi indeks untuk melakukan technical rebound (penguatan sesaat) pada perdagangan Senin depan.
Investor disarankan untuk tetap mencermati rilis data ekonomi domestik awal bulan depan serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif ini, strategi wait and see atau masuk secara bertahap pada saham-saham berfundamental kuat (value investing) dinilai menjadi pilihan yang bijak.
Ratna mengatakan perhatian pelaku pasar pada pekan depan akan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi penting dari dalam negeri.
Beberapa data yang dinantikan antara lain Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur, neraca perdagangan, serta data inflasi yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian Indonesia.
“Sehingga, diperkirakan IHSG berpeluang menguji level 5.700-5800 pada pekan depan,” ujar Ratna.
Sementara itu, MNC Sekuritas yang dikutip dari investor.id mengungkap, IHSG rawan melanjutkan koreksinya untuk menguji rentang area 5.723-5.784, adapun penguatan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan untuk menguji 5.912-5.937.
MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham BULL, CUAN, JSMR, dan WIIM untuk trading pada pekan depan, Senin (29/6/2026). ***














