Kesehatan
Ginjal babi untuk Manusia, MUI Ingatkan Boleh Dilakukan jika Keadaan Darurat

Foto: Istimewa
FAKTUAL-INDONESIA: Transplantasi ginjal babi ke manusia oleh para dokter dan ilmuwan di Amerika Serikat menjadi perhatian dunia. Terobosan ini dinilai mampu jadi alternatif transplantasi ginjal manusia yang sulit didapatkan untuk pasien gagal ginjal.
Di Tanah Air, para penderita gagal ginjal diobati dengan cuci darah. Ahli urologi di RSCM dr Agus Rizal mengatakan pengobatan cuci darah atau hemodialisis bisa secara rutin setiap minggu. Hemodialisis dapat menggantikan fungsi ginjal.
Selain hemodialisis, pasien gagal ginjal juga bisa menjalani transplantasi ginjal. Biasanya transplantasi ginjal didapat dari donor ginjal orang lain, biasanya keluarga.
Transplantasi ginjal mempunyai kelebihan yaitu berkurangnya kunjungan rutin pasien ke rumah sakit untuk cuci darah,” kata Agus seperti dikutip dari cnnindonesia.com, Selasa (2/11/2021).
Dibanding prosedur cuci darah, transplantasi ginjal disebut lebih menguntungkan. Namun, saat ini transplantasi ginjal masih sangat tergantung pada donor ginjal orang lain.
Jumlah penderita gagal ginjal, titurnya, lebih banyak dibanding donor ginjal yang tersedia. Dia pun menilai keberhasilan transplantasi ginjal babi ke manusia dapat dijadikan sebagai alternatif solusi untuk menjawab persoalan ini.
“Alternatif seperti transplantasi menggunakan donor ginjal babi ini bisa menjadi terobosan untuk ketersediaan donor ginjal bagi pasien gagal ginjal,” kata Agus.
Di sisi lain, Agus menjelaskan masih perlu evaluasi lebih lanjut mengenai transplantasi ginjal babi ke manusia karena terdapat perbedaan jaringan pada dua makhluk hidup ini.
Prosedur transplantasi ginjal sama seperti prosedur operasi lain. Prosedur ini juga memiliki risiko seperti pendarahan dan cedera organ di sekitar area operasi. Namun, kata Agus, risiko bisa diminimalisasi dengan evaluasi sebelum operasi untuk menilai kelayakan seseorang untuk operasi.
Pasien yang menjalani prosedur transplantasi ginjal juga perlu cermat menjaga kondisi tubuh. Pada prinsipnya, kata Agus, pasien harus menerapkan pola hidup sehat yakni lewat pola makan sehat dan olahraga.
Pasien juga musti berhati-hati melakukan aktivitas yang berisiko cedera di area ginjal hasil transplantasi atau di area perut bagian bawah. Di samping itu pasien harus disiplin mengonsumsi obat imunosupresan yang menjaga agar sistem imun tidak merusak ginjal baru.
“Selain itu pertimbangan agama juga perlu didiskusikan karena penggunaan organ babi ini,” ujar Agus.
Berkaitan dengan penggunaan ginjal babi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut transplantasi ginjal babi ke manusia hukumnya boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat.
“Kalau tidak ada lagi jalan lain yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan jiwa dari orang yang bersangkutan selain dari melakukan hal (transplantasi) tersebut maka hukumnya adalah boleh,” kata Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas saat dihubungi pada Minggu (31/10/2021).***














