Ekonomi
Rupiah Kamis 25 Juni 2026: Balik Arah Menguat Tipis 9 Poin, Waspada Masih Fluktuatif

Sempat mengkhawatirkan di pembukaan perdagangan karena dibuka melemah akhir nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mampu bangkit menguat tipis pada penutupan perdagangan Kamis (25/6/2026). (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil membalikkan arah pada akhir perdagangan sore ini. Setelah sempat tertekan di zona merah pada pembukaan pagi, mata uang Garuda akhirnya ditutup menguat tipis berkat sentimen positif penurunan harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (25/6/2026), kurs rupiah ditutup menguat 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp17.943 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya di Rp17.952 per dolar AS.
Perjuangan rupiah hari ini memang amat berat karena di awal perdagangan sempat dibuka melemah melemah 15 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.967.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.942 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.955 per dolar AS.
Dampak Harga Minyak Merosot
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang menopang kebangkitan rupiah hari ini adalah anjloknya harga minyak mentah global secara tajam. Sentimen ini menyusul adanya kesepakatan awal untuk meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Kesepakatan awal untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran telah memungkinkan lalu lintas distribusi minyak di Selat Hormuz kembali berjalan normal. Hal ini meredakan kekhawatiran pasokan pasar global dan membuat harga minyak mentah dunia merosot tajam pekan ini,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026).
Seperti dilansir okezone, Menteri Energi AS, Chris Wright, juga mengonfirmasi bahwa setidaknya ada 20 juta barel minyak yang berhasil keluar dari Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Lancarnya jalur logistik ini dinilai menjadi angin segar bagi negara-negara importir minyak seperti Indonesia, yang pada gilirannya mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan nasional.
Prediksi Pasar Esok Hari
Meski berhasil menutup hari di zona hijau, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada. Fokus investor saat ini tengah tertuju pada rencana rilis data indikator ekonomi global, khususnya data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar malam ini.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) yang masih diproyeksikan ketat diprediksi akan membuat pergerakan rupiah esok hari berjalan fluktuatif.
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Hal ini karena penurunan harga minyak dinilai belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve (Fed). Sebab bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026, sementara mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil.
Ibrahim memperkirakan rupiah besok (26/6) bergerak fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 17.940 – Rp 17.990 per dolar AS.
Pergerakan Kawasan Asia
Tren penguatan tipis ini tidak hanya dinikmati oleh rupiah. Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau ikut unjuk gigi terhadap dolar AS yang indeksnya cenderung melandai ke level 101,49.
Berikut adalah perbandingan pergerakan beberapa mata uang Asia pada Kamis sore:
| Mata Uang | Perubahan Nilai |
| Ringgit Malaysia | +0,62% |
| Peso Filipina | +0,37% |
| Rupee India | +0,33% |
| Baht Thailand | +0,18% |
| Rupiah Indonesia | +0,05% |
| Dolar Singapura | +0,05% |














