Connect with us

Ekonomi

Rupiah Jumat 29 Mei 2026: Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Lagi, Overshooting Apalagi Rp18.000 Menanti

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Nilai tukar (kurs) rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sehingga Jumat (29/5/2026) kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah sebagai cermin sudah masuk fase overshooting. (AI/Ist)

Nilai tukar (kurs) rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sehingga Jumat (29/5/2026) kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah sebagai cermin sudah masuk fase overshooting. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Aduh….duh….mengapa begini nasib rupiahku? Menjelang akhir pekan dan di penghujung bulan Mei 2026, mata uang kebanggaan bangsa Indonesia ini bukan saja kembali melemah namun juga mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah lagi terhadap dolar Amerika Serikat.

Pada perdagangan valuta asing Jumat (29/5/2026), rupiah sebenarnya sempat memberi harapan akan mampu memberi perlawanan setelah dibuka menguat 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.814 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.846 per dolar AS.

Namun berbagai tekanan tidak mampu membuat rupiah makin menguat tetapi malah loyo sehingga harus rela terjerembab kembali ke zona merah saat penutupan perdagangan.

Bahkan di tengah perjalanan sebelum penutupan, rupiah sempat tertekan lebih dalam hingga menyentuh angka Rp 17.905 perdolar AS.

Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda akhirnya ditutup melemah 35 poin atau 0,20 persen jadi Rp17.881 per dolar AS.

Advertisement

Senada, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga ikut merosot 0,53% dan nangkring di level Rp 17.883 dari sebelumnya Rp17.789 per dolar AS.

Kembaliah rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejara terhadap dolar AS dimana ini terjadi di era reformasi yang dulu datang antara lain untuk memperbaiki nilai tukar (kurs) rupiah setelah terpuruk di masa akhir pemerintahan orde baru. Nayatanya rupiah bukan makin menguat namun justru makin parah melemah.

Kondisi ini menobatkan performa sepanjang Mei 2026 sebagai salah satu rapor bulanan terburuk bagi rupiah dalam beberapa tahun terakhir.

Tak pelak lagi ada pengamat keuangan yang berteriak kondisi pelemahan nilai tukar rupiah bergerak lebih dalam dibandingkan kondisi fundamental jangka panjang ekonomi nasional.

Seperti dilansir investortrust, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menyebut kondisi rupiah tengah memasuki overshooting. Pelemahan ini sudah bergerak lebih dalam dibandingkan justifikasi fundamental jangka panjang Indonesia.

Advertisement

“Pelemahan saat ini dinilai sudah memasuki fase overshooting, di mana penurunan harga bergerak lebih dalam dari yang seharusnya dijustifikasi oleh fundamental ekonomi kita,” ungkapnya di Jakarta.

Fakhrul mengatakan kondisi rupiah saat ini bukan tentang fundamental ekonomi yang buruk, melainkan bagaimana pasar melihat kombinasi tekanan global, arah kebijakan domestik, dan ketidakpastian penyesuaian ekonomi.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respon, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” ujar Fakhrul.

Fakhrul menilai bahwa rupiah saat ini seperti menjadi titik penyesuaian utama dari berbagai tekanan yang sebenarnya seharusnya tersebar ke banyak sektor ekonomi lain. Menurut Fakhrul, saat ini terlalu banyak tekanan ekonomi yang akhirnya ditanggung oleh nilai tukar.

Dikepung Sentimen Musiman dan Global

Advertisement

Para analis menilai ambruknya nilai tukar Rupiah hingga mendekati level psikologis baru di Rp 17.900 dipicu oleh kombinasi hantaman dari dalam dan luar negeri:

  • Tingginya Permintaan Valas Domestik: Akhir Mei menjadi periode puncak bagi korporasi di dalam negeri untuk berburu Dolar AS. Kebutuhan ini melonjak drastis secara musiman guna pembayaran utang luar negeri (ULN) yang jatuh tempo serta repatriasi dividen ke luar negeri.
  • Efek Domino Pasar Saham (MSCI): Aksi lego saham masif oleh investor asing terkait penataan ulang (rebalancing) indeks MSCI ikut menguras pasokan Dolar di pasar domestik, memicu aliran modal keluar (capital outflow) yang signifikan.
  • Beban Impor Energi: Harga minyak mentah dunia yang masih bergejolak dan tertahan di level tinggi ikut memperlebar kebutuhan valas untuk impor energi, yang berpotensi menekan surplus neraca perdagangan.

Dari sisi eksternal, kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang masih enggan menurunkan suku bunga acuan dari level tinggi terus menjadi magnet kuat yang menarik dana global kembali ke Negeri Paman Sam. Akibatnya, aset-aset di negara berkembang, termasuk pasar obligasi dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, menjadi kurang berkilau di mata investor asing.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal yang mempengaruhi datang dari setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sementara negosiasi terus berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional. Usulan kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump.

“Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal. Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap tertanam di pasar minyak,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata. Minyak mentah sempat pulih pada hari Kamis setelah laporan tentang pertukaran militer baru antara pasukan AS dan Iran, meskipun kenaikan tersebut memudar kemudian karena optimisme diplomatik muncul kembali.

Investor juga menilai latar belakang makroekonomi yang lebih luas setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Advertisement

Pada saat yang sama, data pertumbuhan ekonomi AS tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan pada kuartal pertama tahun 2026, dengan PDB hanya meningkat sebesar 1,6, direvisi turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2, menurut Biro Analisis Ekonomi AS. Pada saat yang sama, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal meningkat menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui perkiraan 211.000.

Dari sentimen domestik, Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Kemudian, prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Modyst dan Fith Rating, yang turut membebani kepercayaan pasar

Tingginya harga minyak global meningkatkan biaya impor energi Indonesia, yang kemudian memicu lonjakan permintaan valuta asing (dolar AS) untuk pembayaran impor, sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas.

Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi (seperti pembayaran dividen) dan kebutuhan impor rutin menekan pergerakan rupiah. Ditambah sentimen pasar terhadap kebijakan dan aset Indonesia.

Advertisement

Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN.

Selanjutnya Tidak Kebablasan

Kini, harapan pasar tertuju pada awal Juni. Pelaku pasar menanti taji dari pengetatan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang baru, serta agresivitas Bank Indonesia dalam melakukan intervensi di pasar valas demi meredam gejolak mata uang Garuda agar tidak kebablasan menembus batas psikologis berikutnya.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.880-Rp17.940 per dolar AS dan untuk sepekan berada di Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS.

Bahkan, diperkirakan bisa tembus level Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. “Kemungkinan besar antara hari Senin pada saat libur atau Selasa, kemungkinan besar Rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS,” ujar Ibrahim. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement