Connect with us

Ekonomi

Pendapatan Negara Tembus Rp574,9 Triliun hingga Maret 2026, Tumbuh 10,5 Persen

Diterbitkan

pada

Pendapatan Negara Tembus Rp574,9 Triliun hingga Maret 2026, Tumbuh 10,5 Persen

Menteri Purbaya bilang pendapatan negara naik 10 persen. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun. Angka tersebut tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan setara dengan 18,2 persen dari target dalam APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.

Dalam keterangan di Jakarta, Senin, Purbaya menyebut capaian tersebut ditopang oleh kinerja penerimaan pajak pada triwulan I 2026 yang menunjukkan tren positif. Ia menegaskan bahwa baik penerimaan bruto maupun neto mengalami pertumbuhan dengan realisasi bulanan yang konsisten meningkat sejak awal tahun.

Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan tercatat Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen yoy. Angka tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp67,9 triliun.

Baca Juga : Penerimaan Pajak Melonjak, Menkeu Sri Mulyani: Maret Saja, Pendapatan Negara Mengalami Kenaikan Rp200 Triliun

“Peningkatan ini mencerminkan perbaikan aktivitas ekonomi serta semakin efektifnya implementasi Coretax. Kenaikan pajak tersebut mengonfirmasi bahwa ekonomi sedang mengalami perbaikan,” ujar Purbaya.

Rincian penerimaan pajak menunjukkan Pajak Penghasilan (PPh) Badan mencapai Rp43,3 triliun atau naik 5,4 persen yoy. Sementara itu, PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 tercatat Rp61,3 triliun, tumbuh 15,8 persen yoy. Adapun PPh Final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 menyumbang Rp76,7 triliun atau meningkat 5,1 persen yoy.

Advertisement

Kontribusi signifikan juga datang dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang mencapai Rp155,6 triliun atau melonjak 57,7 persen yoy. Menurut Purbaya, lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, kelompok pajak lainnya tercatat Rp57,9 triliun atau mengalami kontraksi 5,7 persen yoy.

Baca Juga : Keputusan WFH Bakal Diumumkan dalam Waktu Dekat, Kata Purbaya

Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat Rp67,9 triliun, turun 12,6 persen yoy. Penurunan terutama berasal dari cukai yang mencapai Rp51 triliun (turun 11,2 persen yoy) serta bea keluar Rp5,4 triliun (turun 38,9 persen yoy). Namun, bea masuk masih tumbuh 0,9 persen yoy menjadi Rp11,5 triliun.

Purbaya menjelaskan bahwa kontraksi pada penerimaan cukai dipengaruhi oleh penurunan produksi pada akhir 2025 serta pemanfaatan fasilitas penundaan pembayaran cukai. Di sisi lain, pertumbuhan bea masuk didorong oleh peningkatan nilai impor dan pergerakan nilai tukar.

Selain dari perpajakan, pendapatan negara hingga akhir Maret juga berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun serta hibah senilai Rp100 miliar.

Pemerintah optimistis tren positif ini dapat terus berlanjut seiring pemulihan ekonomi domestik yang semakin kuat sepanjang 2026.***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement