Politik
Siti Latifah Herawati Diah, Wartawati yang Merasa Malu setiap 17 Agustus

Google Doodle tampilkan Siti Latifah Herawati Diah, jurnalis wanita Indonesia yang diakui dunia
FAKTA-INDONESIA: Siti Latifah Herawati Diah tampil di Google Doodle Hari Ini, 3 April 2022.
Google menampilkan Siti Latifah Herawati Diah dalam rangka perayaan ulang tahun ke-105 anak ketiga dari empat bersaudara buah cinta pasangan Siti Alimah binti Djojodikromo dan Raden Latip.
Siti Latifah Herawati Diah wafat Jumat (30 September 2016) di Rumah Sakit Medistra Jakarta, dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata usai Shalat Jumat.
Lahir pada 3 April 1917 di Tanjung Pandan, Belitung, Hera demikian nama panggilan akrabnya menikah dengan Burhanuddin Muhammad Diah pada 18 Agustus 1942.
Baik Hera maupun BM Diah adalah wartawan dan pengusaha pers terkemuka Indonesia.
Pada 1955, Hera ikut mendirikan The Indonesian Observer, surat kabar berbahasa Inggris pertama di Indonesia.
BM Diah yang mantan Duta Besar dan Menteri Penerangan pada 1968.
Selain itu Hera mempunyai andil besar dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia.
Hera adalah penerjemah teks Proklamasi Kemerdekaan RI ke dalam bahasa Inggris dan Belanda sehingga bisa disebarkan ke luar negeri untuk mengabarkan Kemerdekaan Indonesia kepada dunia.
Hera, itulah nama panggilannya di kalangan keluarga, menceritakan bahwa sang ibunda sangat berpengaruh dalam menentukan pendidikan di keluarga.
Siti Halimah, yang lahir dan dibesarkan dari lingkungan bangsawan (priyayi), menekankan pendidikan agama Islam dan tradisi Indonesia, serta mendorong anak-anaknya untuk merangkul gaya hidup Barat yang bertujuan mengimbangi intelektual kaum penjajah Belanda.
Stelah lulus dari Europeesche Lagere School (ELS) di Salemba, Jakarta, Hera dikirim ke American High School di Tokyo, Jepang. Berlanjut ke Amerika Serikat (AS), dan pada 1941 dia menjadi wanita pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar sarjana dari luar negeri.
Dia menjalani studi di Barnard College, Universitas Columbia, New York. Pada musim panas ia belajar jurnalistik di Universitas Berkeley, California.
“Wawasan saya menjadi sangat terbuka dan berada di tengah budaya perdebatan egaliter maupun gender yang setara, lelaki dan perempuan di tingkat yang sama. Lima tahun selesai studi, kembali ke Indonesia. Jepang menyerbu ke selatan dan menggulingkan semua pemerintahan jajahan Eropa di Asia Tenggara. Nasib saya pun terbawa sejarah dunia ini,” ujar aktivis di jurnal pers Universitas Berkeley pada akhir 1930-an itu.
Dari sana dia pun menjumpai kebenaran dari keteguhan hati ibundanya, yakni memutuskan Herawati harus menuntut ilmu ke AS sebagai negara yang tidak punya jajahan, sangat berbeda dengan sejumlah negara Eropa, seperti Belanda, Jerman maupun Inggris yang notabene adalah penjajah.
Hera menggunakan koneksi diplomatiknya untuk melindungi monumen kebudayaan warisan leluhur bangsa Indonesia.
Dia memimpin upaya mendeklarasikan Kompleks Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Siti Latifah Herawati Diah juga merupakan pegiat hak-hak perempuan. Dia mendirikan beberapa organisasi perempuan, termasuk Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan, yang mendorong perempuan Indonesia untuk memilih.
Teks Proklamasi
Gambar yang jadi Google doodle hari ini dipersembahkan sebagai pengingat warisan yang ditinggalkan Siti Latifah Herawati Diah serta jalan yang dia buka untuk perempuan di Indonesia.
Hera termasuk salah seorang pekerja di jawatan radio Jepang (Hoso Kyoku) di bawah penguasaan militer penjajahan Negeri Sakura itu. Ia bertugas di program berbahasa Inggris untuk keperluan propagandanya penguasa Jepang (Dai Nippon). Hoso Kyoku menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945.
Ia mengemukakan, dirinya sebetulnya dipaksa bekerja di sana. Sepulang belajar jurnalistik di Amerika, rasanya namanya termasuk yang diamati tentara pendudukan Jepang.
“Namun, ada hikmahnya karena saya punya banyak akses informasi internasional dan internal Jepang yang bisa dibagikan untuk teman-teman pergerakan menuju kemerdekaan Republik Indonesia,” katanya.
Ia menjalani studi di Barnard College, Universitas Columbia, New York. Pada musim panas ia belajar jurnalistik di Universitas Berkeley, California.
“Wawasan saya menjadi sangat terbuka dan berada di tengah budaya perdebatan egaliter maupun gender yang setara, lelaki dan perempuan di tingkat yang sama. Lima tahun selesai studi, kembali ke Indonesia. Jepang menyerbu ke selatan dan menggulingkan semua pemerintahan jajahan Eropa di Asia Tenggara. Nasib saya pun terbawa sejarah dunia ini,” ujar aktivis di jurnal pers Universitas Berkeley pada akhir 1930-an itu.
Jurnalisme dan latar pendidikan Amerika tersebut langsung membawa Hera ke berbagai peristiwa bersejarah jelang kemerdekaan Indonesia. Melalui sejumlah lobi dan berbagai sarana telekomunikasi saat itu memantapkannya menjalani tugas-tugas jurnalisme.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada medio Agustus 1945, dan Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan RI, Hera sempat menjadi sekretaris pribadi menteri luar negeri pertama RI, Mr. Achmad Soebardjo, yang juga pamannya.
Berkaitan dengan teks Proklamasi Kemerdekaan RI, Hera mendapatkan naskahnya langsung dari Burhanuddin Muhammad Diah (1917–1996), yang tak lain dan tak bukan adalah sesama rekan kerja di Hoso Kyoku, kemudian menjadi wartawan Asia Raya dan menikahinya pada 18 Agustus 1942. BM Diah mendapatkan naskah rancangan proklamasi tulisan tangan Soekarno (Bung Karno).
Ia menuturkan, “Naskah draft itu sempat diremas dan dibuang Bung Karno setelah Bung Sajuti Melik mengetik naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Suami saya mengambil naskah draft itu, dirapikan dan diselipkan ke buku catatan yang dibawanya.”
“Keesokan hari saya mendapati naskah itu, dan was was saat menerjemahkan sambil menyampaikan ke teman-teman wartawan asing, setelah Bung Karno membacakan teks bersejarah berdirinya Republik Indonesia,” kata Hera.
Saat menyebarkan terjemahan teks Proklamasi Kemerdekaan RI, ia mengemukakan banyak mendapatkan bantuan dari sang suami dan teman sejawat pers, terutama Adam Malik (1917–1984).
Pada 1 Oktober 1945 Herawati membantu suaminya menerbitkan koran pro-Indonesia Merdeka sehingga dinamakan Merdeka.
Mereka sepakat menyuarakan Republik Indonesia sebagai negara baru dalam arena politik internasional yang belum teruji, sehingga membutuhkan media komunikasi untuk melawan Belanda dan Sekutu yang ingin memulihkan rezim Hindia Belanda.
Perjalanan jurnalisme Hera kian kuat pada Oktober 1954 memimpin harian Indonesian Observer sebagai kampanye aspirasi kemerdekaan RI dan negara-negara masih terjajah melalui Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung, Jawa Barat. Indonesian Observer menjadi media mitra penyelenggara sekaligus referensi peserta KAA 1955.
“Saat Konferensi Asia Afrika 1955 dan Dasa Sila Bandung memperlihatkan bahwa Indonesia sudah tidak sendirian memperjuangkan hak asasi manusia menuju kemerdekaan satu bangsa dan negara. Kita sudah memimpin aspirasi bangsa Asia dan Afrika,” kata Hera.
Hingga akhir hayatnya, Hera tetap rajin menulis dan membaca media massa berbahasa Indonesia maupun asing, serta bermain bridge. “Biar tidak cepat pikun,” kata penerima Bintang Mahaputra pada 1978 itu.
Ia menulis buku perjalanan jurnalisme An Endless Journey, dan juga tetap aktif menjadi inspirator jurnalisme nasional, termasuk bagi perempuan jurnalis Indonesia.
Dengan segudang pengalaman dan jasanya menerjemahkan serta menginformasikan Kemerdekaan Indonesia ke manca negara, Hera mengaku diliputi rasa malu setiap tanggal 17 Agustus.
“Setiap peringatan 17 Agustus ada perasaan malu bagi saya. Banyak sahabat, kerabat dan orang Indonesia saat itu berjuang bertaruh nyawa, sedangkan saya hanya menerjemahkan teks proklamasi ke bahasa Inggris dan Belanda untuk disiarkan teman-teman pers asing.”
Begitulah sosok Siti Latifah Herawati Diah yang tetap merendah meskipun sudah berjaya pada bangsa dan negara serta menjadi pelopor kaum wanita Indonesia mengarungi dan menekuni dunia wartawan. ***














