Home Olahraga Di Jalur Berat, Tunggal Putra Tetap Berpeluang Obati Kerinduan Mendali Emas

Di Jalur Berat, Tunggal Putra Tetap Berpeluang Obati Kerinduan Mendali Emas

oleh Bambang

Mantan pebulutangkis nasional Sonny Dwi Kuncoro. (ist)

FAKTUALid  – Musashino Forest Sport Plaza, jadi kiprah awal Anthony Sinisuka Ginting di Olimpiade 2020 Tokyo. Peringkat 5 dunia itu, ladeni Gergely Krausz (Hungaria) di Grup J. Meski di jalur berat, peluang Indonesia basuh kerinduan rengkuh medali emas tunggal putra Olimpiade tetap terbuka.

Peraih medali perunggu Olimpiade 200 Athena Sony Dwi Kuncoro menyebut, baik Jonathan Christie maupun Anthony Sinisuka Ginting harus mengendalikan tekanan dalam diri sendiri. Umumnya, di ajang besar, pebulutangkis takut kalah dan di sisi lain sangat ingin menang.

Hal tersebut wajar, tetapi kedua faktor itu harus dicermati secara logis. Ingin menang,  perlu permainan terbaik. “Jangan sebaliknya, lantaran ingin menang, tapi saat tanding tekanan tinggi, malah jadi takut kalah dan hilang mood buat menampilkan permaian terbaik,” kata Sony, saat dihubungi pada Sabtu (24/07/2021).

Di fase grup, menurut Sony yang kini berusia 37 tahun,  Anthonty relatif hadapi lawan mudah. Ia juga bertemu Sergey Sirant dari Rusia. Meski harus waspada, setidaknya Anthony bisa menggenjot mental, cara mengatasi kondisi  saat tertekan.

Dari segi permainan, Anthony mengandalkan speed and power sehingga suka menyerang.  Tak ayal juara China Open 2018 ini harus mimikirkan kondisinya, terkait stamina dan endurance.

“Cara main harus diatur. Jangan terpancing permainan lawan. Usahakan membuat variasi dalam poin-poin tertentu demi atasi tekanan lawan dan tekanan dalam diri sendiri,” tandas Sony,  yang turut membawa Indonesia juara Thomas Cup 2002 di Guangzhou, China.

Akan halnya Jonathan, di grup G ia kantongi kemengan 21-8, 21-18 atas Mahmoud Aram. Terhadap Olimpian Indonersia berperngkat  7 dunia itu, Sony menyebut, perlu lebih meningkatkan permainan agar semakin komplet.

Jonathan punya modal buat melaju. Ia pernah saling mengalahkan dengan pemain level tinggi dunia. “Cuma, kalau mau dicermati, sejak digelar pada 1992, para juara Olimpiade itu rata-rata pemain yang banyak menjuarai event besar. Antara lain Taufik Hidayat, Lin Dan, dan Chen Long,” kata  Sony lagi.

Skuad lain Indonesia yang juga reguk kemenangan adalah ganda campuran Praveen Jordan/Daeva Oktavianti di grup C tumpas Simon Win Hang Leung/Gronya Somerville (Australia) 20-22, 21-17, 21-13.  Di grup A ganda putra, Kevin Sanjaya Sukamulja/Marcus Fernaldi Gideon libas  Ben Lane/Sean Vendy (Inggris) 21-15, 21-11. Di grup D Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan vs Jason Ho-Hsue/Nyl Yakura (Kanada) 21-12, 21-11.

Gresya Polii/Apriyani Rayahu di grup A ganda putri benam Choi Mei Kuan/Lee Meg Yean (Malaysia) 21-14, 21-17.  Greysia/Apriani main kembali pada Senin (26/7/2021). Juara Asian Games 2014 Incheon itu akan ladeni Chloe Birch/Lauren Smith (Inggris). Setelah itu siap hadapi Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang). “Setiap grup, setiap lawan, pasti sulit. Kami akan fokus untuk memberi yang terbaik,” tutur Greysia usai tanding.

Atas kiprah pebulutangkis Indonesia, sejauh ini Susi Susanti menyebut menggembirakan. Peraih emas tunggal putri Olimpiade 1992 Barcelona itu berharap Gregoria Mariska Tunjung yang bertanding Minggu (25/7/2021) saat hadapi  Thet Has Thuzar (Myanmar).

Susi, mantan ketua bidang pembinaan dan prestasi PP PBSI, berharap langkah Gregoria juga laju. Tapi, ia berpesan agar Gregoria mempergunakan kesempatan ini sebaik mungkin. “Ia harus siap lelah, jaga fokus, dan jagan lengah. Bermain maksimal dan berikan yang terbaik buat Indonesia,” jelas Susi.

You may also like

Tinggalkan Komentar