Olahraga
Okto Bertemu Erick Thohir, Tegaskan Pentingnya Sinergisitas Maksimal Kemenpora, NOC, dan IOCO Menuju Multievent

Ketua Umum Komite Olimpiade (NOC) Indonesia Raja Sapta Oktohari dan Menpora Erick Thohir menghadiri Rakor pertama Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). (NOC Indonesia)
FAKTUAL INDONESIA: Rapat koordinasi (Rakor) pertama Komite Olimpiade (NOC) Indonesia dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di bawah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang baru Erick Thohir, membahas secara khusus langkah strategis persiapan menghadapi tiga multievent yang akan diikuti Indonesia pada tahun 2025.
Dalam Rakor yang berlangsung lebih dari satu jam, Senin (22/9/2025), kedua pihak menegaskan pentingnya sinergisitas yang maksimal antara Kemenpora, NOC Indonesia, dan induk organisasi cabang olahraga (IOCO) agar persiapan menuju multievent olahraga tidak berjalan dengan blueprint yang berbeda.
Rakor di Gedung KOI, Jakarta, yang dihadiri langsung oleh Ketua Umum NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari dan Menpora Erick itu membahas secara khusus langkah strategis persiapan menghadapi tiga multievent yang akan diikuti Indonesia pada tahun 2025.
Baca Juga : Setelah Tugaskan Erick Thohir sebagai Menpora, Presiden Prabowo Tunjuk Dony Oskaria Sebagai Plt Menteri BUMN
Sesuai dengan kalender event yang telah tersusun, Indonesia akan tampil pada Asian Youth Games di Manama, Bahrain 22-31 Oktober 2025, dilanjutkan dengan Islamic Solidarity Games (ISG) di Riyadh, Arab Saudi 7-21 November 2025 dan ditutup dengan SEA Games Thailand 7-19 Desember 2025.
Pertemuan ini menjadi langkah awal konsolidasi bersama menuju SEA Games Thailand 2025 yang tinggal dua bulan lagi. NOC Indonesia dan Kemenpora berkomitmen untuk terus menggelar pertemuan teknis dengan induk cabang olahraga serta stakeholder terkait, agar Kontingen Indonesia tetap bisa menjaga tradisi prestasi di ajang multievent olahraga Asia Tenggara.
Raja Sapta Oktohari menyampaikan apresiasinya atas komitmen Menpora untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi SEA Games Thailand 2025. Ia menegaskan NOC Indonesia siap mendukung langkah Kemenpora, namun menekankan bahwa dukungan anggaran yang realistis harus dipastikan lebih dahulu sebelum membicarakan target medali.
Baca Juga : Sertijab Menpora: Erick Thohir Janji Merangkul dan Mengayomi, Dito Pamit dan Sampaikan Maaf
“Sebelum bicara target, kepastian anggaran harus lebih dulu diputuskan. Kalau hanya Rp10 miliar, tentu effort-nya sangat berat. Kami tidak ingin masyarakat menilai seolah-olah NOC Indonesia tidak bekerja maksimal. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama semua stakeholder, bukan hanya Menpora,” tegas Okto, sapaan karib Raja Sapta Oktohari.
Menyangkut SEA Games Thailand 2025, Menpora Erick menekankan bahwa konsolidasi diperlukan untuk mengantisipasi tantangan yang bakal dihadapi. Khususnya setelah Thailand selaku tuan rumah mengurangi 41 nomor pertandingan dari cabang olahraga yang sebelumnya menyumbang banyak medali emas untuk Kontingen Indonesia di SEA Games Kamboja 2023.
Kontingan Indonesia berpotensi kehilangan 41 medali emas di SEA Games 2025 yang sebelumnya disumbangkan, antara lain, dari cabang olahraga wushu (4 emas), balap sepeda (5 emas), e-sport (2 emas), gulat (2 emas) dan gymnastic (2 emas). Namun, ada potensi tambahan 32 medali emas di SEA Games 2025 dari cabang olahraga, antara lain rowing (4 emas), kano (5 emas), panahan (3 emas), menembak (7emas), woodball (3 emas) dan panjat tebing (4 emas).
Baca Juga : Presiden Prabowo Lantik Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam dan Erick Thohir Menpora
“Jangan sampai Kemenpora punya blueprint berbeda, NOC Indonesia punya blueprint berbeda, yang akhirnya dikorbankan adalah atlet, pelatih, bahkan masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, diskusi bersama NOC Indonesia hari ini memberikan banyak masukan untuk menyatukan langkah kita,” ujar Erick.
Erick juga menyoroti soal ketersediaan anggaran yang masih menjadi tantangan serius. Dari kebutuhan ideal yang biasanya mencapai Rp 45-65 miliar, saat ini baru tersedia Rp10 miliar, sehingga berpotensi membatasi jumlah atlet yang diberangkatkan.
“Kalau sebelumnya Indonesia mengirim sekitar 900 atlet, dengan kondisi anggaran yang baru ada Rp10 miliar, hanya 120 atlet yang bisa diberangkatkan. Tentu ini tidak ideal. Saya akan terus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan agar ada fleksibilitas supaya prestasi kita tidak menurun drastis,” tambah Erick. . ***














