Olahraga
Kabar Gembira untuk Bridge dari Bali Utara, Buleleng Makin Menawan: Bagaimana Jika Banyak Daerah Mengikuti Jejaknya?

Seandainya ada 10 Buleleng di Indonesia, kemudian 50, bahkan 100, saya yakin wajah pembinaan bridge Indonesia akan berubah secara mendasar. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Ada berita yang kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan pesan besar bagi masa depan olahraga bridge Indonesia.
Dari Kabupaten Buleleng, Bali, datang kabar menggembirakan. GABSI Buleleng yang berada di wilayah Bali Utara, kini tidak hanya menggelar pertandingan, tetapi mulai membangun ekosistem bridge di lingkungan pendidikan.
Dalam Kejuaraan Bridge Tingkat Kabupaten Buleleng yang berlangsung Jumat, 7 Agustus 2026 di SMP Negeri 8 Singaraja, peserta tidak lagi didominasi oleh sekolah-sekolah yang selama ini sudah aktif. Pelajar dari berbagai sekolah baru mulai berdatangan, mahasiswa ikut terlibat, dan pembinaan bahkan sudah mulai merambah sampai tingkat sekolah dasar.
Yang lebih menarik, saat ini GABSI Buleleng sudah menjangkau:
- 3 Sekolah Dasar (SD)
- 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP)
- 5 Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK)
- 1 Perguruan Tinggi, dan sedang dalam proses merambah ke perguruan tinggi kedua.
Ini bukan lagi sekadar kegiatan pertandingan. Ini sudah mulai membentuk rantai pembinaan dari SD sampai perguruan tinggi.
## Dari satu sekolah menjadi sebuah ekosistem
Kejuaraan di Buleleng memperlihatkan perubahan yang cukup penting.
Peserta datang dari SMP Negeri 8 Singaraja, SMK Negeri 2 Singaraja, SMA Negeri 2 Banjar, SMA Negeri 1 Singaraja, UWP Pariwisata Singaraja, Universitas Pendidikan Ganesha dan Universitas Udayana.
GABSI Buleleng juga telah melakukan pembinaan di SMPN 1 Gerokgak, SMAN 2 Singaraja, SMAN 3 Singaraja dan SDN 3 Tinga Tinga. Bahkan saat ini sedang dipersiapkan perluasan ke beberapa SD di wilayah Buleleng Barat.
Artinya, bridge mulai bergerak dari sekadar “ada kegiatan bridge di sebuah sekolah” menjadi “ada jaringan sekolah yang memiliki kegiatan bridge.”
Perubahan inilah yang sebenarnya sangat kita butuhkan dalam pembinaan olahraga bridge nasional.
Sebab, kalau hanya satu atau dua sekolah yang aktif, kita mungkin bisa menghasilkan beberapa pemain. Tetapi kalau puluhan sekolah aktif, kita mulai mempunyai basis pembinaan.
Dan kalau basis itu terdapat di banyak kabupaten dan kota, barulah kita mempunyai sistem pembinaan nasional.
## Prestasi pelajar menjadi bukti
Yang menggembirakan, perkembangan tersebut langsung terlihat dalam kompetisi.
Pada kategori Pelajar, pasangan Putu Marcelina Handayani dan Putu Eby Damiyanti dari SMP Negeri 8 Singaraja berhasil menjadi juara pertama dengan skor 75,84%.
Juara kedua diraih pasangan Kadek Vidia Jovantiastra dari SMK Negeri 2 Singaraja dan Ni Kadek Cantika Wirya Pratiwi dari SMA Negeri 2 Banjar dengan skor 67,91%.
Sedangkan juara ketiga diraih pasangan Putu Ariesty Ananda dan Putu Dinda Muliani, juga dari SMP Negeri 8 Singaraja, dengan skor 65,74%.
Hasil ini penting karena menunjukkan bahwa sekolah yang baru mulai terlibat tidak sekadar datang untuk memenuhi jumlah peserta.
Mereka mulai berkompetisi dan mampu bersaing.
Sementara pada kategori Open, pasangan Gede Raditya Manohara, S.Kom. dan Ni Kadek Oppi Swandari, S.Pd. menjadi juara pertama dengan skor 68,10%. Juara kedua diraih pasangan dari klub UNDIKSHA, Gede Arya Suryana Murtika Wangsa dan Ni Putu Puja Parwati Dewi, dengan skor 61,90%.
Ini menunjukkan bahwa pembinaan pelajar dapat berjalan berdampingan dengan pembinaan pemain umum dan senior.
## Buleleng menunjukkan sebuah model
Apa yang dilakukan GABSI Buleleng sebenarnya memberikan sebuah pelajaran penting.
Pembinaan tidak selalu harus dimulai dengan program besar.
Bisa dimulai dari beberapa sekolah.
Kemudian bertambah menjadi beberapa sekolah.
Dari SMP merambah ke SMA/SMK.
Dari sana masuk ke perguruan tinggi.
Dan yang sangat penting, sekarang sudah mulai turun ke SD.
Jika jalur ini terus berjalan, seorang anak bisa mengenal bridge sejak SD, melanjutkan ke SMP, kemudian SMA, dan akhirnya tetap mempunyai lingkungan bridge ketika memasuki perguruan tinggi.
Inilah yang disebut continuity of development atau kesinambungan pembinaan.
Bridge tidak lagi menjadi kegiatan yang muncul sesekali ketika ada kejuaraan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan pendidikan seorang anak.
## Lalu, bagaimana jika ada banyak Buleleng?
Di sinilah kita perlu melihat persoalannya dalam perspektif yang lebih besar.
Buleleng saat ini mempunyai 3 SD, 3 SMP, 5 SMA/K dan 1 perguruan tinggi yang sudah tersentuh pembinaan, dengan target memperluas lagi ke perguruan tinggi kedua.
Bayangkan jika pola seperti ini terjadi di 10 kabupaten/kota.
Kita sudah mempunyai puluhan sekolah yang aktif.
Bayangkan jika menjadi 30 kabupaten/kota.
Jumlah sekolah yang terlibat akan menjadi ratusan.
Dan kalau suatu saat 100 kabupaten/kota mampu membangun jaringan pembinaan seperti Buleleng, kita tidak perlu lagi terlalu khawatir tentang dari mana atlet-atlet junior nasional akan datang.
Mereka sudah tersedia di daerah.
Mereka tinggal dibina, dipantau, diberikan kesempatan bertanding dan dikembangkan sesuai jenjang prestasinya.
Inilah sebabnya keberhasilan sebuah daerah seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa banyak medali yang diperoleh dalam satu kejuaraan.
Yang jauh lebih penting adalah:
Berapa banyak anak yang mulai mengenal bridge?
Berapa banyak sekolah yang mulai membina bridge?
Berapa banyak pelatih yang mulai terlibat?
Berapa banyak pertandingan pelajar yang dapat diselenggarakan?
Dan yang paling penting:
Apakah pembinaan tersebut berkesinambungan?
## Tentu tidak semua daerah harus meniru persis
Setiap daerah mempunyai kondisi yang berbeda.
Ada daerah yang mungkin memiliki lebih banyak sekolah.
Ada yang memiliki perguruan tinggi lebih banyak.
Ada yang memiliki klub bridge yang kuat.
Ada pula daerah yang mungkin harus memulai dari nol.
Karena itu, yang perlu ditiru bukan angka 3 SD, 3 SMP, 5 SMA/K dan 1 perguruan tinggi.
Yang perlu ditiru adalah semangat membangun jaringan pembinaan secara bertahap.
Mulai kecil.
Kemudian berkembang.
Jangan menunggu semuanya sempurna baru bergerak.
## Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah memiliki modal besar
Kalau berbicara mengenai potensi untuk mengembangkan model seperti Buleleng, tentu kita tidak bisa mengabaikan daerah-daerah yang selama ini memang sudah mempunyai tradisi bridge yang kuat.
Jawa Timur, misalnya, mempunyai basis pemain, klub dan kegiatan bridge yang relatif kuat.
Demikian pula Jawa Tengah, yang memiliki banyak kota dengan tradisi olahraga dan lingkungan pendidikan yang cukup potensial.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah daerah-daerah tersebut mampu mengembangkan bridge.
Pertanyaannya adalah:
Bisakah kekuatan yang sudah ada itu diubah menjadi jaringan pembinaan junior yang lebih sistematis?
Dan bukan hanya Jawa Timur atau Jawa Tengah.
Kita mempunyai banyak daerah lain yang sebenarnya memiliki potensi.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dan kemudian konsisten mengembangkannya.
## Dari Buleleng untuk Indonesia
Kita sering berbicara tentang bagaimana meningkatkan prestasi bridge Indonesia di tingkat Asia dan dunia.
Kita juga sering membicarakan kekurangan atlet muda, minimnya pertandingan junior, kurangnya pelatih dan keterbatasan dana.
Semua persoalan tersebut memang nyata.
Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan:
Prestasi nasional pada akhirnya harus dibangun dari daerah.
Tidak mungkin kita terus-menerus berharap lahirnya pemain nasional hanya dari beberapa pusat pembinaan.
Kita membutuhkan banyak kantong pembinaan di seluruh Indonesia.
Buleleng memberikan contoh bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.
Mereka mulai dari sekolah.
Mereka masuk ke berbagai jenjang pendidikan.
Mereka memperluas wilayah pembinaan.
Kemudian mereka mengadakan kompetisi untuk menguji hasil pembinaan tersebut.
Siklusnya sederhana:
Kenalkan → Ajarkan → Latih → Pertandingkan → Evaluasi → Kembangkan.
Kalau siklus ini berjalan di banyak daerah, hasilnya akan luar biasa.
## Jangan hanya mencari juara, bangun sumber pemain
Mungkin inilah perubahan cara berpikir yang perlu kita dorong dalam pembinaan bridge Indonesia.
Jangan hanya bertanya:
> “Siapa juara kejuaraan junior tahun ini?”
Tetapi juga bertanya:
> “Berapa banyak daerah yang tahun ini mulai membina pemain junior?”
Jangan hanya menghitung jumlah medali.
Hitung juga jumlah sekolah yang aktif.
Hitung jumlah pelajar yang bermain.
Hitung jumlah pelatih yang bertambah.
Hitung jumlah klub junior yang tumbuh.
Dan hitung berapa banyak anak yang tetap bermain bridge ketika mereka masuk perguruan tinggi.
Karena dari sanalah calon-calon atlet nasional masa depan akan lahir.
## Buleleng bukan tujuan akhir
Keberhasilan GABSI Buleleng tentu patut diapresiasi.
Tetapi kita jangan berhenti pada apresiasi.
Justru keberhasilan ini harus menjadi pemicu untuk bertanya lebih jauh:
Kalau Buleleng bisa, mengapa tidak daerah lain?
Kalau satu kabupaten bisa membangun jaringan dari SD sampai perguruan tinggi, tentu bukan hal yang mustahil bagi kabupaten dan kota lain untuk melakukan hal serupa sesuai kemampuan masing-masing.
Dan kalau semakin banyak daerah bergerak dengan cara seperti ini, suatu saat kita tidak perlu lagi bertanya:
“Dari mana kita mendapatkan atlet junior untuk tim nasional?”
Karena jawabannya sudah tersebar di seluruh Indonesia.
Mereka ada di sekolah-sekolah.
Mereka ada di klub-klub.
Mereka ada di perguruan tinggi.
Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pembinaan dan kompetisi yang berkesinambungan.
Buleleng telah memberikan sebuah contoh kecil.
Sekarang tinggal menunggu berapa banyak daerah lain yang mau mengikuti.
Seandainya ada 10 Buleleng di Indonesia, kemudian 50, bahkan 100, saya yakin wajah pembinaan bridge Indonesia akan berubah secara mendasar.
Dan mungkin, dari situlah jalan menuju prestasi bridge Indonesia di tingkat Asia dan dunia sebenarnya dimulai. ***














