Connect with us

Nasional

Kisah Di Balik Patung Jatinegara, Pahlawan Muda Yang Terlupakan Bernadus Runtunuwu

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Kisah Di Balik Patung Jatinegara, Pahlawan Muda Yang Terlupakan Bernadus Runtunuwu

Berdua ayah dan anak Odo Martinus Runtunuwu sang ayah dan putranya Bernardus Runtunuwu telah dibuatkan patung dan letaknya sangat strategis di ujung pertemuan Jalan Jatinegara Barat, Jatinegara Timur, dan Matraman Raya, tepatnya di seberang Gereja GPIB Koinonia di Jakarta.

Oleh : Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Minimnya penulis asal Minahasa membuat seorang pahlawan termuda asal Minahasa seakan-akan terlupakan. Padahal berdua ayah dan anak Odo Martinus Runtunuwu sang ayah dan putranya Bernardus Runtunuwu telah dibuatkan patung dan letaknya sangat strategis.

Tepatnya  di ujung pertemuan Jalan Jatinegara Barat,  Jatinegara Timur, dan Matraman Raya, tepatnya di seberang Gereja GPIB Koinonia di Jakarta.

Baca Juga : Buruh Demo di Kawasan Patung Kuda, Gubernur Pramono Sebut Bukan Terkait UMP Jakarta

Di situ terdapat patung terdiri atas dua laki-laki, yang satu dewasa, satu lagi anak-anak menuju remaja. Bisa jadi tak banyak yang tahu siapa mereka, padahal kedua laki-laki itu adalah pejuang kemerdekaan yang rela berkorban jiwa dan raga. Mereka adalah Odo Martinus Runtunuwu dan anaknya Bernardus Runtunuwu yang diketahui gugur dalam pertempuran di usia 14 tahun. Kedua Bapak dan putranya ini berasal dari Ranowangko Tobariri Minahasa.

Pemerintah membuat patung keduanya di lokasi yang diberi nama “Monumen Perjuangan Jatinegara”. Kabarnya, ayah dan anak tersebut berperang melawan Belanda di daerah Jatinegara yang menjadi barikade pejuang Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), sebuah laskar perjuangan kemerdekaan Indonesia yang anggotanya berasal dari Sulawesi dan Indonesia Timur, di mana ayah dan anak Runtunuwu bergabung.

Monumen Perjuangan Jatinegara diresmikan oleh Gubernur KDKI Cokropranolo pada tanggal  7 Juni 1982. Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) waktu itu dipimpin oleh Alm, Evert Langkay.

Advertisement

Baca Juga : Pramono Bakal Pindahkan Patung Jenderal Sudirman di Perbatasan Jl Sudirman-Thamrin

Kisah Di Balik Patung Jatinegara

Dua patung manusia berbahan perunggu itu berdiri tegak di atas tanah setinggi tiga meter. Posisinya sangat strategis: tepat di jalur tengah antara Jalan Matraman Raya dan pusat perdagangan Jatinegara, tepat di depan Gereja Koinonia.

Menurut arsip-arsip yang saya pernah baca di Perpusnas RI, patung-patung yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo pada 7 Juni 1982 itu telah menelan uang 25 juta rupiah untuk beaya pembuatannya.

Monumen Patung Jatinegara pada dasarnya dibuat untuk mengenang pengorbanan dan perlawanan heroik rakyat Jakarta.

Sejarah mencatat sejak November 1945-Januari 1946, kerap terjadi pertempuran besar antara pemuda Indonesia melawan serdadu Inggris/Belanda di sepanjang jalur Pasar Senen-Kramat Raya-Meester Cornelis (Jatinegara).

Advertisement

Baca Juga : Patung MH Thamrin di Persimpangan Jalan Merdeka Selatan Bakal Dipindah ke Museum

Puncaknya terjadi ketika para serdadu Inggris/Belanda menghancurkan kurang lebih 500 rumah penduduk Jatinegara, membunuh puluhan orang dan menangkap ratusan pemuda Republik pada awal Januari 1946.

Tahun 2012, saya pernah mewawancari mantan seorang pejuang bernama Mat Sanim. Saat itu usianya sudah menginjak delapan puluh delapan tahun. Jadi ketika peristiwa Penyerbuan Jatinegara berlangsung usianya sudah cukup dewasa: 21 tahun.

Menurut Mat Sanim, begitu serdadu Inggris/Belanda datang dari arah Pasar Senen, para pemuda Republik dari berbagai etnis (Betawi, Tionghoa, Sunda, Jawa, Batak, Minahasa, Ambon dll) sudah melakukan penghadangan di sekitar Stasiun Rawabangke dan di bawah viaduct (jembatan kereta api di atas jalan). Pertempuran pun berlangsung hebat dan menimbulkan korban di kedua pihak.

“Jadi kalau pemerintah bikin itu tugu di Meester, ya wajar saja. Memang di situ dulu tempatnya perlawanan paling seru dari pihak kite,” ungkap Mat Sanim.

Baca Juga : Wow! Ada 69 Patung Pikachu dengan Beragam Pose di Central Park

Ketika saya bertanya, siapa dua sosok (lelaki dewasa lengkap dengan pistol dan klewangnya serta seorang bocah kecil berkalung katapel) yang dijadikan simbol untuk patung-patung di atas monument itu, Mat Sanim menyebutnya mereka adalah para pejuang yang terlibat dalam perlawanan itu.

Advertisement

“Gue kagak tau siape nama mereka. Tapi denger-denger, mereka itu bapak dan anak yang sama-sama ikut berjuang saat Meester bezet (diduduki musuh),” ujarnya.

Penjelasan “setengah-setengah “dari Mat Sanim membawa saya kepada rasa penasaran mendalam. Hampir semua eks pejuang Jakarta yang saat itu masih hidup, saya tanya.

Baca Juga : Hati-hati dan Waspada, Ada Patung Polisi di Jalur Tengkorak Gekbrong dan Jalur Utama Puncak Cianjur

Baru dua tahun kemudian ada seorang pejuang tua di wilayah Klender yang memberitahu saya jika bapak-anak itu adalah anggota KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi), satu kelaskaran pimpinan Evert Langkay yang aktif di wilayah Jakarta pada 1945-1946.

Saya lantas berbicara dengan Pak Harry Kawilarang, salah satu penulis buku tentang KRIS. Dia mengiyakan soal itu. Tersebutlah suatu “keluarga gerilya” (meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer) di Jakarta.

Mereka adalah sepasang suami istri anggota KRIS bernama Martinus Runtunuwu dan Getruida Rengkung bersama tujuh putra-putrinya, di antaranya adalah Fritz Runtunuwu, Elsje Runtunuwu dan Bernard Runtunuwu.

Advertisement

Baca Juga : Rakernas V PDIP: Tanpa Presiden Jokowi Sejumlah Menteri Hadir, Megawati Lihat Patung Banteng Berdarah Tertusuk Panah

Layaknya pejuang KRIS lainnya, Martin, Fritz, Elsje dan Bernard terbilang aktif dalam perlawanan di Jakarta. Bahkan Bernard putra bungsu yang usianya masih sangat muda (13 tahun) sudah ikut bersama ayahnya dalam pertempuran di Stasiun Rawabangke dan Viaduct, kendati hanya bersenjata sebuah katapel.

Dikisahkan, Bernard Runtunuwu kemudian ikut bersama satu regu pasukan KRIS pimpinan Decky Pontoan, bertahan di front Karawang. Pada pertengahan Februari 1946, dia gugur di Rawa Buaya saat pasukannya harus berhadapan dengan satu unit tentara Belanda.

Tulisan ini dibuat oleh jurnasil Hendijo di Facebook.

Mengapa tukang bridge bilang terlupakan, karena kalau kita mencari siapa pahlawan termuda di Indonesia tidak ada nama Bernadus Runtunuwu. Padahal ayah dan anak ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement