Nasional
Hari Suci Tumpek Uye: Umat Hindu Melepas Satwa dan Menanam Ribuan Pohon untuk Masa Depan Bumi

Umat Hindu melakukan pelepasan satwa, penanaman ribuan pohon, dan pengelolaan sampah rumah ibadah pada rangkaian utama peringatan Hari Suci Tumpek Uye yang digelar umat Hindu di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jumat (6/2/2026). (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: Di bawah naungan kabut tipis Gunung Salak, suasana Pura Parahyangan Agung Jagatkartta tampak berbeda pada Jumat (6/2/2026). Ribuan langkah umat Hindu berkumpul bukan sekadar untuk bersujud, melainkan untuk menjalankan misi besar bagi semesta: Green Dharma Bhakti Pertiwi dalam memperingati Hari Suci Tumpek Uye 2026.
Peringatan Hari Suci Tumpek Uye tahun ini menjadi momentum nyata bagi umat Hindu Indonesia untuk menerjemahkan doa menjadi aksi. Tak tanggung-tanggung, ribuan satwa dilepas dan 15 ribu pohon mulai ditanam di seluruh penjuru Nusantara sebagai bagian dari upaya memulihkan kembali paru-paru bumi.
Baca Juga : Ikrar Kampus Kerukunan, Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa Bali Undang Camaba Muslim
Tumpek Uye secara tradisional dikenal sebagai hari untuk memuliakan hewan melalui pemujaan kepada Sang Hyang Rare Angon (manifestasi Dewa Siwa sebagai pelindung satwa). Namun, tahun ini Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Hindu memberikan sentuhan baru yang lebih hijau.
“Momentum Tumpek Uye ini adalah pemulihan terhadap binatang dan juga tumbuh-tumbuhan,” ujar I Nengah Duija, Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI.
Dikutip dari laman Kemenag, ia menegaskan bahwa melalui konsep Green Dharma, umat Hindu memiliki kewajiban moral untuk menjaga bumi tetap hijau, bersih, dan indah. “Green Dharma adalah kewajiban kita sebagai umat Hindu untuk membuat bumi ini tetap hijau. Ini sejalan dengan arahan Presiden tentang program ASRI, yaitu aman, sehat, resik atau bersih, dan indah,” ujarnya.
Baca Juga : Gubernur Bali Wayan Koster Resmikan Pura Pertama Umat Hindu Dharma di Belanda
Rangkaian acara yang berlangsung khidmat ini mencakup tiga aksi utama yang menyentuh langsung ekosistem:
- Pelepasan Satwa: Ribuan burung dilepaskan serentak di seluruh Indonesia sebagai simbol kembalinya keseimbangan alam.
- Penanaman 15 Ribu Pohon: Langkah nyata untuk memastikan mata air tetap mengalir dan udara tetap segar bagi generasi mendatang.
- Perang Melawan Sampah: Untuk pertama kalinya, dilakukan uji coba alat penghancur sampah di rumah ibadah. Langkah ini diambil agar Pura tetap menjadi tempat yang suci tanpa ternoda oleh tumpukan sampah sisa upacara.
Konsep ini disebut sebagai Ekoteologi. Sebuah ajaran di mana agama tidak hanya berhenti pada ritual di atas altar, tetapi juga turun ke tanah.
Baca Juga : Upcara Ida Bhatara Turun Kabeh, Umat Hindu Sembahyang ke Pura Besakih dijadwalkan Per Kabupaten/Kota
“Aktivitas sederhana seperti menanam pohon dan memelihara mata air akan berdampak besar 20 hingga 30 tahun ke depan,” ungkap Ida Made Pidada, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini akan menjadi agenda rutin setiap enam bulan sekali.
Dengan semangat ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), perayaan Tumpek Uye 2026 mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa spiritualitas dan kelestarian lingkungan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Di Pura Jagatkartta kemarin, umat Hindu membuktikan bahwa menjaga alam adalah bentuk tertinggi dari pengabdian kepada Sang Pencipta. ***














