Nasional
Hari Raya Nyepi dan Hari Pertama Ramadhan Bertepatan? Menko PMK: Tidak Ada yang Harus Dirisaukan

Menko PMK Muhadjir Effendy saat mengunjungi Desa Sukojati, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Jumat (8/4/2024).
FAKTUAL INDONESIA: Itu sih biasa, tidak ada yang harus dirisaukan.
Begitu pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy soal perayaan Hari Raya Nyepi bertepatan dengan hari pertama puasa di bulan Ramadhan tahun 2024.
Untuk itu Menko PMK Muhadjir Effendy mengimbau kepada masyarakat agar tetap saling menjaga toleransi.
Terkait pengeras suara selama bulan Ramadhan 2024, Menko PMK Muhadjir juga mengimbau agar penggunaannya dilakukan secara wajar.
“Kalau itu sih biasa, kita kan sudah biasa hidup toleransi, termasuk perbedaan awal puasa nanti kita biasa-biasa saja, tidak ada yang harus dirisaukan,” kata Muhadjir ditemui di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu.
Seperti dipantau dari media online seperti dilaporkan antaranews.com, Menko Muhadjir mengimbau kepada masyarakat agar tetap saling menjaga toleransi. Bagi Muslim, ia menyarankan agar ibadah sholat tarawih dapat dilakukan tanpa pengeras suara. Pun ketika sedang tadarus.
“Harus saling menghormati. Tarawihnya kan juga bisa diam-diam, kan tarawih tidak harus ramai-ramai kan. Saya kira, itu sudah biasa sekarang selama ini, sudah tidak banyak hal-hal yang harus kita persoalkan,” ujarnya.
Misalnya di Bali dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, Muhadjir meminta agar masyarakat saling menghormati satu sama lain.
“Di sana memang mayoritas Hindu. Harus kita hormati sepenuhnya. Sementara agama lain juga tetap melaksanakan ibadah, tapi tidak sampai mengusik yang sedang melaksanakan ibadah Nyepi,” tuturnya.
Terkait pengeras suara, Muhadjir juga mengimbau agar penggunaannya dilakukan secara wajar selama bulan Ramadhan 2024.
“Soal pengeras, saya kira bagus. Tetap digunakan tapi sewajarnya saja,” ucap dia.
Ia pun menegaskan bahwa tak ada larangan menggunakan pengeras suara, karena hal itu memang diperlukan bagi Muslim yang hendak beribadah. Hanya saja, saat tadarus seyogyanya diberikan batasan.
“Tidak dibatasi tadarusnya, tetapi pakai pengerasnya itu loh, jangan terlalu keras-keras, sekadarnya lah gitu. Kan tidak harus adu keras kan? Apalagi berdekatan terus saling keras-kerasan, kan tidak perlu,” tuturnya. ***













