Connect with us

Nasional

HAKORDIA 2025, Menag Nasaruddin: Korupsi adalah Musuh Bersama, Musuh Kemanusiaan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

HAKORDIA 2025, Menag Nasaruddin: Korupsi adalah Musuh Bersama, Musuh Kemanusiaan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kolaborasi bersama penyusunan Buku Pendidikan Antikorupsi Lintas Agama pada Puncak Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025 di Kantor Gubernur DIY, Selasa (9/12/2025). (Kemenag)

FAKTUAL INDONESIA: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa korupsi tidak mengenal batas golongan. Menag Nasaruddin menyebut korupsi sebagai musuh kemanusiaan yang harus diperangi melalui pendekatan struktural sekaligus moral.

“Pada hakikatnya, semua agama mengajarkan integritas. Korupsi adalah musuh bersama, musuh kemanusiaan,” kata Nasaruddin pada peluncuran Seri Buku Pendidikan Antikorupsi lintas agama pada Puncak Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025 di Kantor Gubernur DIY, Selasa (9/12/2025).

Enam buku yang diluncurkan Kementerian Agama (Kemenag) bersama Direktorat Pembinaan Peran Serta Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), merangkum perspektif agama-agama di Indonesia dalam menumbuhkan nilai integritas dan memberantas korupsi.

Baca Juga : Menag Nasaruddin Sampaikan MHQ Disabilitas Netra Pernyataan Penting tentang Inklusivitas Dalam Pembinaan Al-Qur’an

Peluncuran buku dilaksanakan dengan mengusung tema nasional HAKORDIA “Satukan Aksi, Basmi Korupsi”. Hadir mendampingi Menag, Staf Ahli Menag Adiyarto Sumardjono dan para pejabat eselon I Kementerian Agama, serta pimpinan kementerian/lembaga Kabinet Merah Putih dan pemerintah daerah.

Dalam paparannya, Nasaruddin menjelaskan bahwa pendidikan antikorupsi di Indonesia harus disampaikan dengan berbagai pendekatan—politik, hukum, budaya, dan khususnya pendekatan agama. Bahasa agama, menurutnya, adalah medium yang paling efektif untuk menanamkan nilai integritas dan membangun batasan moral kolektif.

Advertisement

“Dengan bahasa agama, kita membatasi diri dengan konsep pahala dan dosa. Inilah bahasa yang paling efektif untuk membentuk nilai-nilai luhur di masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga : Puncak HGN 2025: Menag Nasaruddin Usulkan BSU Guru Non ASN ke Kemenkeu dan Umumkan Kemenag Peduli

Nasaruddin  menjelaskan bahwa pembangunan budaya antikorupsi harus dimulai dari pemahaman (logos) yang kemudian diwujudkan dalam tindakan (ethos). Enam buku ini disusun untuk memperkuat pemahaman teologis tentang integritas serta mendorong masyarakat menjadikannya perilaku sehari-hari.

“Kami mengumpulkan pemikiran dari setiap agama. Semoga buku yang kita launching hari ini dapat menyentuh lubuk hati masyarakat dan menjadi landasan hidup tanpa korupsi,” tambahnya.

Atas kontribusi tersebut, Kemenag menerima piagam penghargaan dari KPK sebagai bentuk apresiasi terhadap kolaborasi penyusunan Buku Keagamaan Antikorupsi.

Pada kesempatan yang sama, Forum Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag meraih penghargaan terbaik kedua kategori Kementerian/Lembaga dalam ajang Forum PAKSI–API Berdaya. Penghargaan diberikan atas kontribusi GTK Madrasah dalam memperkuat pendidikan integritas dan penyuluhan antikorupsi di dunia pendidikan.

Advertisement

Baca Juga : Menag Nasaruddin Tegaskan Tidak Mungkin Seseorang Mengaku Beriman Secara Utuh jika Masih Merusak Lingkungan

Judul Buku Pendidikan Antikorupsi Lintas Agama:

  • Jalan Dhamma Jalan Anti Korupsi: Cara Menjadi Buddhis Berintegritas dan Berani Menolak Korupsi
  • Hidup Satya: Berani Menolak Korupsi (Hindu)
  • Integritas & Antikorupsi: Perspektif Islam dalam Pemberantasan Korupsi
  • Integritas dan Iman: Peran Gereja Katolik dalam Pemberantasan Korupsi
  • Peran Gereja dalam Mewujudkan Bangsa Tanpa Korupsi (Kristen)

Kebajikan sebagai Landasan Antikorupsi dalam Perspektif Khonghucu. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement