Connect with us

Lifestyle

Usai Jepang Tersingkir di Piala Dunia Qatar, Laksamada Maeda Kembali Dikenang

Avatar

Diterbitkan

pada

Patung Laksamada Maeda saat membantu Indonesia mempersiapkan kemerdekaan.(ist)

FAKTUAL-INDONESIA : Pelajaran sejarah di sekolah mengenang kebaikan hati Laksamada Maeda saat bangsa ini akan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Masih ada yang ingat siapa dia?

Apa pula hubungannya Laksamada Maeda dengan kekalahan Jepang di babak 16 besar Piala Dunia Qatar?

Nah, baru-baru ini, pada 6 Desember, nama Laksamada Maeda sempat menjadi trending topic Twitter Indonesia karena salah satu pemain Timnas Jepang, Maeda Daizen menyumbang gol saat Jepang vs Kroasia di babak 16 besar Piala Dunia Qatar.

Lucunya, lebih dari 2.000 cuitan soal Laksamada Maeda ditulis oleh netizen Indonesia di Twitter.

Saat itu, netizen Indonesia pendukung Timnas Jepang mengungkapkan bahwa pemain Jepang Maeda Daizen mencetak gol untuk Jepang. Nama pemain ini diplesetkan menjadi Laksamada Maeda. Setelah itu, nama Maeda trending di Twitter.

Advertisement

Laksamana Maeda sendiri adalah perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Indonesia pada masa perang Pasifik.

Maeda dikenal sebagai sosok yang bersimpatik pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Maeda punya peran penting untuk Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Rumahnya di Jl. Imam Bonjol, No.1 dijadikan tempat untuk menyusun naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Kemudian, ada netizen yang menyamakan Maeda Daizen dengan Laksamana Maeda. “Yang satu bantu Indonesia merdeka, yg satu memberi hiburan bagi penonton sepak bola,” cuit salah satu netizen.

Siapa Laksamana Maeda?

Advertisement

Laksamana Maeda merupakan perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Hindia Belanda saat Perang Pasifik. Pangkatnya waktu itu yakni laksamana muda.
Ia lahir di Kajiki, Prefektur Kagoshima, Jepang pada 3 Maret 1898 dengan nama Maeda Tadashi. Maeda merupakan putra seorang kepala sekolah. Keluarga besarnya mantan samurai.

Dalam situs resmi Museum Perumusan Naskah Proklamasi dijelaskan soal perjalanan karier Laksamana Muda Maeda. Ia bergabung dengan Angkatan Laut (Kaigun) pada usia 18 tahun.

Kariernya moncer. Pada 1930, Maeda diangkat menjadi Staf Markas Besar Kaigun dengan pangkat letnan.

Jabatan itu membawa pengaruh besar terhadap kepribadian dan cara pandang Maeda. Lalu di awal 1937, ia menjadi ajudan Laksamana Muda Sonosuke Kobayashi dalam kunjungan ke Inggris, mewakili Jepang dalam upacara penobatan Raja George VI.

Setelah itu, ia menjabat sebagai asisten Laksamana Zengo Yoshida dan Laksamana Kiyoshi Hasegawa. Pada 1940, Maeda dikirim ke Belanda sebagai atase Kaigun.

Advertisement

Di Belanda, ia menjalin hubungan erat dan sering berdiskusi dengan para mahasiswa Indonesia yang belajar di sana. Salah satunya Ahmad Soebardjo.

Pada Oktober di tahun yang sama, Maeda ditugaskan ke Batavia untuk misi diplomatik. Ia juga sekaligus menjadi agen spionase bawah tanah.

Perang Pasifik pecah pada Agustus 1942. Maeda diangkat sebagai perwira penghubung Tentara Divisi 16 Angkatan Darat (Rikugun) Jepang yang berpusat di Jakarta dan Kaigun yang berpusat di Makassar.

Seiring adanya Deklarasi Koiso pada Oktober 1944 yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia, Maeda mendirikan ‘Asrama Indonesia Merdeka’. Asrama itu didirikan untuk kaderisasi pemuda-pemuda.

Maeda aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia. Itu berdampak buruk pada dirinya.

Advertisement

Ia ditangkap tentara Sekutu atas tuduhan gagal mempertahankan status quo, lalu dipenjarakan. Awalnya, Maeda dipenjara di Gang Tengah (Glodok), lalu dipindahkan ke Penjara Salemba.

Pascarepatriasi tawanan perang, Maeda diadili di pengadilan militer. Namun ia dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan pada 1947.

Maeda meninggal pada 13 Desember 1977. Ia mengembuskan napas terakhir setelah empat tahun menerima ‘Bintang Jasa Nararya’ dari pemerintah RI.***

 

 

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement