Connect with us

Fashion

5 Fakta Limbah Fashion yang Merugikan, Yuk Terapkan “Diet” Baju!

Diterbitkan

pada

Fakta limbah fashion

Foto Ilustrasi (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Seiring perkembangan zaman, tren fashion atau fesyen berkembang begitu cepat. Berubah-ubahnya tren yang sangat cepat membuat industri ini masuk ke dalam industri paling berpolusi di dunia, setelah minyak. Disamping itu, terdapat beragam fakta limbah fashion di balik tren produksi masal dan cepat.

Sebelum teknologi mesin jahit belum berkembang, fashion merupakan sebuah produk yang mahal, karena dijahit dengan tangan dan sangat detail. Lalu semua berubah ketika teknologi berkembang. Pada tahun 1980, teknologi mesin jahit dikembangkan untuk memproduksi produk fast fashion.

Dikutip dari dnktv.uinjkt, Fast fashion adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan desain pakaian yang bergerak cepat dari catwalk ke toko untuk memenuhi tren baru. Koleksinya sering didasarkan pada desain yang disajikan di acara Fashion WeekFast fashion memungkinkan konsumen umum untuk membeli pakaian trendi dengan harga terjangkau.

Meski dianggap sebagai kemajuan, tentu fast fashion juga memiliki dampak negatif, yakni limbah akibat masal dan cepatnya produksi berbagai barang fashion.

Baca juga: Produk Fesyen yang Bersimpati pada Konsumen Akan Dilirik Pasar

Program Director for Sustainable Governance Strategic Kemitraan Dewi Rizki dan Runner Up Pertama Putri Indonesia Bengkulu 2022 Dinda Ayudita membagikan sejumlah fakta limbah fashion yang menarik di balik produksi dan konsumsi industri fast fashion.

Advertisement

Merujuk pada UN Conference of Trade and Development (UNCTD) 2019, limbah industri ini menyumbang sepuluh persen dari emisi karbon yang memengaruhi krisis iklim. Oleh sebab itu, bagi para pegiat fashion perlu menerapkan “diet” baju.

Berikut beberapa fakta limbah fashion yang telah faktualid.com lansir dari keterangan resmi melalui Antara, Sabtu (09/04/2022).

1. Berdampak pada krisis iklim

Fakta limbah fashion

Foto Ilustrasi (Istimewa)

Fakta limbah fashion yang pertama yaitu berdampak pada krisis iklim. Dewi mengatakan emisi karbon yang sangat besar dari industri fashion terjadi pada setiap tahap rantai pasokan fashion dan siklus produk.

Namun, 70 persen emisi karbon berasal dari kegiatan hulu, seperti produksi dan pemrosesan bahan mentah.

Tak hanya tentang bahan, krisis iklim juga termasuk dengan air, bahan kimia, penggundulan hutan, limbah tekstil, serta mikroplastik yang tidak bisa terurai secara alami.

2. Perilaku konsumen ikut berperan

Fakta limbah fashion

Foto Ilustrasi (Istimewa)

Runner Up Pertama Putri Indonesia Bengkulu 2022, Dinda Ayudita, mengatakan dirinya sangat sering, bahkan setiap hari membeli baju baru. Ia juga mengakui pada akhirnya hanya terpakai 1-2 kali saja dan tersimpan rapi di lemari tanpa pernah tersentuh lagi sehingga fakta limbah fashion secara tidak langsung diakibatkan oleh perilaku konsumen.

“Ketika itu saya mulai berpikir ulang tentang kebiasaan membeli baju. Sudah saatnya saya berubah total. Sekarang saya jarang sekali beli baju. Belum tentu setiap satu-dua bulan saya beli baju,” kata Dinda.

Advertisement

Dinda berinisiatif untuk mengajukan diri untuk menjadi duta kampanye Generasi Nol Emisi di media sosial. Kampanye ini digagas oleh The Partnership for Governance Reform atau yang biasa disebut Kemitraan.

Baca juga: Menparekraf Apresiasi Pamekasan Fashion Week Hadirkan Produk Ekraf Unggulan Berkualitas Internasional

Ia turut berbagi tips-tips supaya tidak terus-menerus belanja produk fashion, diantaranya dengan memilih produk dasar dalam warna monokrom, seperti hitam dan cokelat. Dengan begitu, produk dapat sering digunakan di berbagai acara.

“Basic item milik saya adalah jeans, kaus ketat atau tank top, dan sepatu putih. Kalau mati gaya, sepatu putih tidak pernah gagal jadi penolong,” kata Dinda.

3. Limbah fashion bisa ditekan

Fakta limbah fashion

Fakta limbah fashion, bahan sisa menjadi sampah yang menggunung (Foto: Istimewa)

Fakta limbah fashion yang berikutnya yaitu limbah produk fashion dapat ditekan. Guna mengurangi limbah, memang dapat dillakukan dengan tidak menambah koleski atau mengurangi kebiasaan belanja.

Selain itu, hal yang paling sederhana untuk meminimalkan limbah tersebut adalah menyumbangkan pakaian lama yang masih layak pakai kepada mereka yang membutuhkan.

Jika sangat perlu belanja baju, Dewi menyarankan agar memastikan semua diproses secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, misalnya memakai bahan daur ulang dan dibuat dari bahan yang tahan lama.

Advertisement

“Mengurangi sampah fesyen adalah aksi sederhana yang bisa kita lakukan untuk memperlambat perubahan iklim. Jadi, mari menunjukkan rasa cinta pada bumi dengan mengurangi belanja produk fesyen, merawat pakaian dengan baik, dan memodifikasi pakaian lama,” kata Dewi.

4. Fast fashion punya andil besar

Fakta limbah fashion

Foto Ilustrasi (Istimewa)

Salah satu fakta limbah fashion yang cukup menarik adalah fast fashion punya keterlibatan yang cukup besar. Perlu diketahui, fast fashion memiliki berbagai model fashion yang silih berganti dalam waktu singkat. Hal tersebut membuat fast fashion menjadi menjamur berkat harga pakaian yang lebih murah.

Baca juga: Tren Fashion Tahun 80 an yang Kembali Hits Saat Ini

“Karena harganya yang murah dan modelnya sedang tren, banyak anak muda yang tertarik untuk membeli pakaian dari merek-merek fast fashion tersebut,” kata Dewi.

Dahulu rata-rata brand merilis 2 koleksi, yaitu koleksi musim panas dan musim dingin. Berada dengan sekarang, frekuensinya bereda sangat jauh. Tercatat ada merek global yang merilis hingga belasan koleksi per tahun. Bahkan, mengeluarkan hingga lebih dari 40 koleksi.

Memahami ancaman di balik fast fashion, Dinda sendiri selalu memilih model dan warna pakaian yang everlasting, seperti blazer warna hitam yang bisa dipadankan dengan dalaman dan aksesori warna apa pun.

5. Berbagai macam limbah fashion

Fakta limbah fashion yang terakhir adalah terkiat berbagai macam limbah fashion. Dinda membagikan cerita dirinya pernah melihat sampah yang menggunung, yang mana sampah tersebut adalah pakaian.

Advertisement

Sampah tersebut termasuk limbah fashion yang berasal dari sisa kain dari produksi pakaian di pabrik berskala kecil dan besar, serta pakaian tak terpakai yang dibuang.

Sejumlah bahan pakaian tidak mudah terurai secara alami, seperti polyester dan nilon yang membutuhkan waktu terurai antara 20 hingga 200 tahun. Walau begitu, terdapat pula bahan alami seperti kain katun dan linen.

Selain itu, limbah fashion juga termasuk limbah cairan. Industri fashion, kata Dewi, menyumbang dua puluh persen limbah cairan di dunia. Pewarnaan tekstil menjadi polutan air terbesar kedua di dunia karena sisa air dari proses pewarnaan sering kali dibuang ke selokan dan sungai.

Itulah beberapa fakta limbah fashion yang mungkin belum Anda ketahui. Supaya kebiasaan membeli berbagai produk bahan tidak menyebabkan dampak negatif, donasikan baju jarang dikenakan namun masih layak. Tahan juga untuk banyak membeli produk fashion dan jangan terlena melaui diskon yang ditawarkan.***

Baca juga: 7 Trend Celana di Tahun 2022 untuk Pria dan Wanita

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement