Kesehatan
Virus Covid-19 Varian XE Dilaporkan Telah Ada di Thailand, Indonesia agar Waspada

Ilustrasi
FAKTUAL-INDONESIA: Varian baru virus Covid-19, yakni Varian XE, ditemukan menginfeksi warga Thailand.
Oleh sebab itu, Indonesia diminta mewaspadainya, setelah Thailand mengidentifikasi kasus pertamanya pada 3 April 2022.
Pasien pertama XE di Thailand dilaporkan mengalami gejala ringan. Kasus pertama ini dilaporkan oleh Pusat Genomik Medis Rumah Sakit Ramathibodi, Thailand.
Tanda-tanda varian baru ini, seperti dilaporkan oleh beberapa ahli kesehatan, tidak jauh berbeda dengan gejala Omicron maupun BA.2. Sebab, varian XE sendiri merupakan mutasi dari gabungan 2 varian virus Omicron BA.1 dengan BA.2.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun melaporkan temuan varian baru Covid-19 yang disebut varian ‘XE’. Varian ‘XE’ ini merupakan rekombinan dari subvarian Omicron BA.1 dan BA.2.
Meskipun tingkat keparahan infeksi yang disebabkan oleh strain tersebut belum dipahami, WHO telah memberi tahu bahwa varian tersebut 10 kali lebih mudah menular daripada BA.2, menjadi tanda bahwa XE termasuk varian yang paling menular di dunia.
Adpun gejala varian XE
1. Demam
2. Sakit tenggorokan
3. Tenggorokan gatal
4. Batuk dan pilek
5. Iritasi dan perubahan warna kulit
6. Gangguan pencernaan
Pada gejala serius, varian XE menyebabkan masalah antara lain penyakit jantung, jantung berdebar, bahkan infeksi varian XE menyebabkan penyakit saraf yang parah.
Varian XE sejauh ini dilaporkan pertama kali di Inggris. Kasusnya di negara tersebut sudah cukup banyak, lebih dari 500 orang teridentifikasi terpapar varian XE.
Varian XE pun dilaporkan di dua negara lain yaitu Thailand dan Taiwan. Sejauh ini ahli masih belum bisa memastikan apakah varian rekombinan ini memang berbahaya untuk manusia atau tidak, karena data analisis yang ada masih sangat terbatas.
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan saat ini sedang memantau varian XE. Namun sampai saat ini belum ada bukti bahwa itu adalah varian yang lebih mengkhawatirkan seperti Alpha, Delta dan Omicron.
“WHO akan terus memantau dan menilai risiko kesehatan masyarakat yang terkait dengan varian rekombinan” dan akan “memberikan pembaruan saat bukti lebih lanjut tersedia,” kata organisasi itu dalam laporan yang diterbitkan 29 Maret.***












