Connect with us

Kesehatan

Varian Baru Covid-19 akan Berlanjut, Vaksin pun Harus Diperbarui

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

FAKTUALid – Virus Corona yang awalnya kita tahu hanya satu, kini memiliki banyak varian.  Ragam varian ini muncul karena virus yang terus bermutasi. Akibatnya, ada banyak perubahan dalam gen yang dimiliki virus tersebut untuk melahirkan varian yang baru.

Mau tidak mau vaksin Covid-19 pun harus diperbarui agar tujuan vaksinasi untuk memperkuat kekebalan tubuh terhadap virus ini terwujud.

Amin Soebandrio dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengatakan, bahwa yang membedakan varian satu dengan varian lain adalah pola mutasi. Contohnya pada varian alfa itu [jumlah] mutasinya lebih sedikit daripada delta. Delta itu bisa sekitar 2x lipatnya dari varian alfa,” jelas Amin saat dihubungi

“Semakin banyak mutasi, semakin banyak perubahan struktur atau fungsi,” ujarnya seperti dikutip dari National Geographic Indonesia , Rabu (23/6/2021).

Mutasi terjadi, ucapnya, ketika virus bereplikasi atau memperbanyak diri. Pada proses itu mereka menyalin materi genetiknya, tetapi pada suatu kondisi yang acak (random), proses penyalinan itu mengalami ‘kesalahan’ yang menjadi mutasi.

Advertisement

Sebenarnya, ketika bereplikasi itu virus Corona memiliki cara untuk memperbaiki dirinya dari kesalahan.

Amin memberi analogi seperti penyuntingan makalah atau skripsi mahasiswa, dalam mendeteksi hasil penelitian itu. Penyunting harus mengetahui letak salah ketik atau kata yang salah untuk dimasukkan dalam kalimat. Tetapi dalam satu waktu, ada kata typo yang tetap lolos dalam paper dan luput dari mata penyunting.

Kesalahan itu mengubah struktur genetik atau fungsinya yang menjadi mekanisme adaptasi terhadap tekanan lingkungan sekitarnya. Sehingga, setelah bermutasi virus mengalami seleksi, seperti teori Darwin, yang mampu bertahan tetap hidup, dan yang gagal akan akan gugur.

“[Penyuntingan] Itu ada mekanismenya sebenarnya [pada virus]. Tapi ada yang tidak sempat diperbaiki, itu yang kemudian menjadi mempengaruhi seleksi untuk kuat dan lemah,” katanya.

Alasan mengapa ‘kesalahan’ genetik pada virus terjadi disebabkan perbedaan gen inangnya, atau manusia yang memiliki macam ras dan etnis. Dari latar belakang genetik itu menyebabkan kepekaan manusia untuk melawan, tetapi virus mencari cara untuk bisa lolos lewat gen yang berbeda-beda.

Advertisement

“Jadi ya misalnya varian delta di negara lain menyebabkan kematian tinggi, atau sakit yang berat, tetapi di Indonesia tidak. Begitu juga yang sudah asli Indonesia terhadap negara lain,” Amin berpendapat. “Itu sangat dipengaruhi hostnya.”

Setidaknya ada empat sifat yang harus diantisipasi dari varian baru Covid-19, yakni penyebarannya yang lebih cepat, sulit didiagnosa, dan kasus yang menjadi lebih berat. Selain itu juga kewaspadaan juga terkait vaksin yang rentan tidak efektif.

Ibarat penyuntingan makalah, virus memperbaiki salah ketik dalam gennya. Tetapi kesalahan tetap ada yang lolos dan menjadi mutasi hingga varian baru.

Lantas bagaimana varian dan mutasi virus terhadap vaksin–mengingat salah satu mekanisme vaksin menggunakan genetika virus?

Berdasarkan studi yang di Afrika Selatan yang menguji dengan varian-varian yang ada, Amin memaparkan, menyebabkan vaksin mengalami penurunan efikasi. Penurunan itu sekitar 10 hingga 20 persen.

Advertisement

“Itu belum menyebabkan efikasi di bawah 50 persen, yang mana disebutkan dalam pedoman WHO. Kalau di atas 50 persen, [vaksin] masih bisa digunakan,” terangnya

Tetapi para ilmuwan di seluruh dunia, khususnya Indonesia harus tetap mengamati apakah sebuah varian baru menjadi dominasi penyebaran atau tidak.

“Kalau misalnya suatu ketika—mudah-mudahan tidak terjadi—variannya mendominasi, tidak bisa vaksinnya mengcover varian tadi, kecuali ada kajian [terhadap varian]” kata Amin.

Amin menyimpulkan, risiko terhadap orang yang telah divaksinasi terkena Covid-19 masih tetap ada. Meskipun kekebalan sudah dimiliki, risiko virus bermutasi untuk menjadi lebih ganas terhadap kekebalannya akan berisiko lebih tinggi.

“Maka, kemungkinan [virus] itu mengatasi kekebalan yang sudah dimiliki bisa terjadi,” tuturnya

Advertisement

“Jadi protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan cuci tangan harus tetap dilakukan. 5M dilakukan masyarakat, dan 3T harus dilakukan pemerintah. Untuk varian manapun, vaksinasi harus berdampingan,” pungkasnya.

Amin mengungkapkan ada empat sifat yang harus diwaspadai dari varian baru Covid-19 ini. Pertama, penyebarannya lebih cepat. Kedua, sulit didiagnosis. Ketiga, kasus yang menjadi lebih berat. “Dan keempat adalah menyebabkan vaksin menjadi tidak efektif,” ucapnya.

Menilik virus Corona yang terus bermutasi, Ketua Tim Vaksinasi COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Iris Rengganis pun mengatakan, suatu saat vaksin Covid-19 mungkin harus diganti.

Ketika varian B117 dari Inggris awalnya masuk Singapura, lalu ke Indonesia, ucapnya, vaksin Covid-19 sekarang masih bisa efektif,

“Artinya, bisa memakai vaksin COVID-19 sekarang. Yang namanya mutasi virus Sars-CoV-2 RNA itu demi mempertahankan hidup si virus,” ujarnya seperti dikutip dari liputan6.com.

Advertisement

Meski begitu, jika mutasi virus Sars-CoV-2 penyebab COVID-19 begitu besar terjadi, ucapnya, efektivitas vaksin yang sudah ada menjadi tidak efektif.

“Apabila mutasi virus Corona sudah besar-besaran, tentu efektivitas vaksin COVID-19 sekarang tidak berguna lagi,” kata Iris.

Tetapi ini terus diteliti peneliti yang mungkin sampai suatu saat vaksinnya harus diganti, seperti influenza. Vaksin influenza, ujarnya, setiap tahun ganti karena virusnya sebagian besar terus bermutasi.

“Jadi, vaksinnya nanti disesuaikan dengan strain virus Sars-CoV-2 yang beredar,” tuturnya.***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement