Connect with us

Internasional

Terus Menyerang Hizbullah, Israel Setuju untuk Berdialog dengan Lebanon

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Terus Menyerang Hizbullah, Israel Setuju untuk Berdialog dengan Lebanon

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan setuju memulai pembicaraan dengan pemerintah Lebanon tapi bersumpak untuk terus menyerang Hizbullah. (Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah untuk terus menyerang Hizbullah di Lebanon, beberapa jam setelah ia tampaknya membuat konsesi dengan mengatakan negaranya akan memulai pembicaraan dengan pemerintah Lebanon tentang upaya melucuti senjata kelompok paramiliter yang didukung Iran tersebut.

Serangan Israel terhadap Lebanon telah memberikan tekanan besar pada gencatan senjata yang baru berusia dua hari dalam perang AS dan Israel dengan Iran, dan semakin memperumit hubungan tegang antara Washington dan sekutu NATO-nya. Amerika Serikat dan Israel mengatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata, sementara Iran mengatakan bahwa Lebanon termasuk dan beberapa pemimpin negara NATO bersikeras bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari gencatan senjata tersebut.

Baca Juga : Akhirnya Kelompok Houthi Beraksi, Hizbullah dan Iran Tingkatkan Gempuran, Israel dan Amerika Makin Terkurung

“Tidak ada gencatan senjata di Lebanon,” tegas Netanyahu pada hari Kamis.

Perundingan antara Israel dan Lebanon menghadapi rintangan besar, sebagian karena pemerintah tidak memiliki kendali langsung atas Hizbullah, yang menolak untuk dilucuti senjatanya. Bahkan setelah mengatakan Israel akan bergabung dalam perundingan, Netanyahu mengatakan bahwa Israel akan terus menyerang Lebanon dengan kekuatan dan tidak akan berhenti sampai Hizbullah dilucuti senjatanya.

Seorang pejabat senior Hizbullah menolak kemungkinan perundingan antara Israel dan pemerintah Lebanon dengan mengatakan bahwa pemerintah tidak berbicara atas nama kelompok tersebut.

Advertisement

Pada Kamis pagi, militer Israel memperingatkan warga sipil untuk mengungsi dari beberapa wilayah negara itu, termasuk pinggiran selatan Beirut, di mana orang-orang yang mengungsi memadati jalan-jalan menuju utara. Beberapa jam kemudian, pejabat militer Israel mengumumkan bahwa mereka akan melancarkan serangan baru terhadap Hizbullah.

Baca Juga : Hizbullah Pantang Menyerah Hadapi Agresi Amerika dan Israel, Serang Sistem Radar Iron Dome Kiryat Elazar

Militer Israel mengatakan angkatan udaranya telah menyerang infrastruktur kelompok militan yang didukung Iran di Lebanon dan terus mendukung pasukan daratnya yang beroperasi di Lebanon selatan.

Pernyataan itu muncul ketika Teheran mendesak penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah dalam pembicaraan tiga pihak yang dimulai Sabtu sore antara Iran dan AS di Pakistan.

Sebelumnya kantor berita pemerintah Lebanon melaporkan setidaknya tiga orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon selatan. Tidak ada laporan serangan pada siang hari.

Di tengah kampanye Israel di Lebanon, Hezbollah mengatakan para pejuangnya menargetkan infrastruktur militer Israel di permukiman Adamit.Al Jazeera melaporkan.

Advertisement

Kelompok bersenjata Lebanon melepaskan sejumlah besar drone serang dan menembakkan roket ke arah kerumunan tentara dan kendaraan Israel di Metula.

Baca Juga :  Israel Ancam Serang Lebanon jika Hizbullah Ikut Campur dalam Perang Amerika – Iran

Kelompok itu juga mengatakan para pejuangnya menargetkan tank Merkava di kota perbatasan Odaisseh dan tentara Israel di Bint Jbeil.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan negaranya tidak akan menghadiri pembicaraan perdamaian yang dijadwalkan akhir pekan ini di Pakistan jika Lebanon tidak dimasukkan dalam payung gencatan senjata.

Para pemimpin Eropa juga mendesak Israel untuk menghentikan serangannya, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut mengancam akan menggagalkan gencatan senjata yang lebih luas. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengatakan kepada wartawan bahwa tingkat keseriusan Israel dalam melancarkan perang di sana dapat menyebabkan proses perdamaian secara keseluruhan gagal, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa serangan Israel terhadap Lebanon seharusnya tidak terjadi dan bahwa Lebanon harus dimasukkan dalam gencatan senjata.

Jumlah korban tewas akibat serangan udara Israel di Lebanon pada hari Rabu meningkat menjadi 303 orang, menurut kementerian kesehatan Lebanon. Hal itu menjadikannya hari paling mematikan bagi Lebanon sejak perang dimulai.

Advertisement

Baca Juga : Komandan Seniornya Tewas, Hizbullah Langsung Serukan Perlawanan setelah Serangan Mematikan Israel di Lebanon

Setelah sehari relatif tenang di sekitar Teluk Persia, militer Kuwait mengatakan pada Kamis malam bahwa mereka berhasil menangkis serangan pesawat tak berawak yang menargetkan sejumlah fasilitas vital. Militer tidak menyebutkan sumber pesawat tak berawak tersebut.

Status Selat Hormuz, yang harus dilalui seperlima dari minyak dan gas dunia, juga menimbulkan tantangan besar bagi gencatan senjata.

Iran secara efektif telah menutup selat tersebut bagi sebagian besar kapal sejak awal perang.   Saeed Khatibzadeh, wakil menteri luar negeri Iran, menegaskan pada hari Kamis bahwa selat tersebut terbuka untuk semua orang, tetapi ia mengatakan bahwa kapal harus berkoordinasi dengan militer Iran karena kendala teknis, termasuk ranjau.

Ratusan kapal masih terjebak di Teluk pada hari Kamis, dengan hanya segelintir yang berhasil melewatinya. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement