Internasional
Hubungan Jepang – Tiongkok Memanas, Saling Balas di Dewan Keamanan PBB, Konser Pun Tiba-tiba Dibatalkan

Duta Besar Tiongkok untuk PBB Fu Cong (kanan bawah) pada hari Jumat mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang isinya menuduh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) melakukan pelanggaran berat hukum internasional dan norma-norma diplomatik dengan pernyataannya soal Taiwan namun kemudian dibalas lewat surat keberatan oleh Duta Besar Jepang untuk PBB, Kazuyuki Yamazaki (kanan atas), pada hari Senin.
FAKTUAL INDONESIA: Hubungan Jepang dan Tiongkok yang semula panas-panas suam kuku kini makin memanas dengan ditandai saling balas surat bernada keras di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pemicunya masalah yang sangay sensitif untuk Tiongkok yakni Taiwan.
Ketegangan Jepang dan Tiongkok mulai naik ketika Sanae Takaichi, seorang nasionalis konservatif, terpilih menjadi Perdana Menteri wanita pertama Negeri Matahari Terbit bulan lalu. Apalagi kemudian Takaichi dalam pernyataannya di Parlemen, bulan ini, Takaichi melontarkan serangan China terhadap Taiwan dapat memicu respons militer dari Tokyo.
Baca Juga : Australia Open 2025: Redam Pasangan Jepang, Febriana/Meilysa Buat All Indonesian Finals di Ganda Putri
Hal itu langsung mendapat reaksi keras dari Tiongkok. Duta Besar Tiongkok untuk PBB Fu Cong pada hari Jumat mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres .
Fu menuduh Takaichi melakukan “pelanggaran berat hukum internasional” dan norma-norma diplomatik dengan pernyataannya soal Taiwan itu.
Surat Fu merupakan kritik terkuat Tiongkok terhadap Takaichi yang merujuk pada ketegangan bilateral terburuk antara Tiongkok dan Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
Tiongkok mengatakan pernyataan Takaichi telah “sangat merusak” kerja sama perdagangan, sementara konser musisi Jepang di Tiongkok pun tiba-tiba dibatalkan.
Jepang balik membalas dengan menolak surat Tiongkok kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menuduh Tokyo mengancam intervensi bersenjata atas Taiwan sebagai “tidak sesuai dengan fakta dan tidak berdasar”.
Baca Juga : Presiden Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Tuntaskan Rangkaian KTT APEC 2025 di Republik Korea
Duta Besar Jepang untuk PBB, Kazuyuki Yamazaki, pada hari Senin dalam suratnya yang juga ditujukan kepada Guterres, mengatakan kebijakan dasar Jepang adalah “pertahanan pasif.”
“Oleh karena itu, pernyataan Tiongkok bahwa Jepang akan menggunakan hak membela diri bahkan tanpa adanya serangan bersenjata adalah keliru,” ujarnya.
Pada hari Selasa, Takaichi mengatakan dia telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump dalam panggilan telepon pertama mereka sejak keretakan diplomatik dengan China, dan bahwa pemimpin AS tersebut telah mengatakan kepadanya bahwa dia dapat menghubunginya kapan saja.
Takaichi juga mengatakan Trump menjelaskan kepadanya keadaan terkini hubungan AS-Tiongkok, termasuk panggilan teleponnya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada hari Senin.
Baca Juga : Usai Hadiri Serangkaian Acara di ASEAN, Prabowo akan Hadiri KTT APEC di Korea Selatan
Trump belum berkomentar secara terbuka mengenai pertikaian antara Jepang – sekutu keamanan utama AS – dan negara adikuasa saingannya China, suatu keheningan yang menurut para analis akan mengkhawatirkan beberapa pejabat di Tokyo.
Tiongkok mengklaim Taiwan, yang terletak lebih dari 100 km (60 mil) dari wilayah Jepang, dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk menguasainya. Pemerintah pulau itu menolak klaim Beijing dan mengatakan hanya rakyat Taiwan yang dapat menentukan masa depan mereka. ***














