Internasional
Bos FIFA Berpotensi Langgar Kode Etik: IOC Selidiki Kehadiran Infantino di Pertemuan Board of Peace

IOC akan menyelidiki kehadiran Presiden FIFA Gianni Infantino pada pertemuan perdana Board of Peace di Washington, Jumat (20/2/2026), karena berpotensi langgar kode etik organisasi.
FAKTUAL INDONESIA: Dunia olahraga internasional tengah diguncang isu panas setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, terlihat tampil mencolok dalam pertemuan perdana The Board of Peace bersama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Mar-a-Lago, Jumat (20/2/2026) lalu.
Kehadiran Infantino yang mengenakan atribut politik ini memicu reaksi keras dari Komite Olimpiade Internasional (IOC).
Presiden IOC, Kirsty Coventry, mengaku terkejut dengan kabar tersebut. Dalam konferensi pers di tengah gelaran Olimpiade Milano Cortina, Coventry menegaskan bahwa pihaknya akan segera melakukan penyelidikan mendalam terkait keterlibatan Infantino— yang juga merupakan anggota aktif IOC.
Baca Juga : Inaugural Meeting Board of Peace: Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Kirim 8000 Pasukan Perkuat ISF
Penampilan yang Memancing Kontroversi
Infantino tidak sekadar hadir sebagai tamu. Pemimpin badan sepak bola dunia tersebut tampil di panggung utama bersama jajaran politisi, mengenakan topi merah bertuliskan “USA” dengan angka “45-47”, simbol yang merujuk pada periode kepemimpinan Donald Trump.
Lebih dari sekadar simbol, Infantino juga memamerkan perjanjian kerja sama antara FIFA dan The Board of Peace. Inisiatif ini berfokus pada pembangunan kembali Gaza, termasuk rencana ambisius:
* Pembangunan 50 lapangan mini di area pemukiman dan sekolah.
* Penyediaan 5 lapangan ukuran penuh di berbagai distrik.
* Pembangunan Akademi FIFA berteknologi tinggi.
* Stadion Nasional baru berkapasitas 20.000 kursi.
Baca Juga : Menlu Sugiono Bertemu Sekjen PBB dan Wakil Tetap Palestina di PBB, Bahas Board of Peace – ISF
Piagam Olimpiade di Ujung Tanduk?
Menanggapi hal ini, Kirsty Coventry menyatakan bahwa tindakan tersebut berpotensi melanggar kode etik organisasi.
“Saya tidak menyadari bahwa ada anggota IOC yang berada di posisi sedemikian menonjol dalam acara tersebut,” ujar Coventry. “Sekarang setelah rekan media menyadarkan kami, kami akan segera memeriksa dan menyelidiki dugaan penandatanganan dokumen tersebut.”
Coventry merujuk pada Piagam Olimpiade (The Olympic Charter) yang sangat ketat mengatur perilaku anggotanya:
* Kemandirian: Anggota harus bertindak bebas dari kepentingan komersial dan politik.
* Anti-Intervensi: Anggota dilarang menerima mandat atau instruksi dari pemerintah maupun organisasi mana pun yang dapat mengganggu kebebasan bertindak atau hak suara mereka.
* Netralitas Politik: “Itu satu-satunya cara bagi kami untuk memastikan adanya keadilan di arena pertandingan,” tegas Coventry.
Baca Juga : Prabowo Tegaskan Sikap Indonesia, Jika Tak Untungkan Palestina Bakal Keluar dari Board of Peace
Kedekatan Trump dan Dunia Sepak Bola
Hubungan antara Donald Trump dan Gianni Infantino memang diketahui cukup erat, terlebih dengan status Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2026. Bahkan, pada Desember lalu, FIFA menganugerahi Trump penghargaan perdamaian perdana atas upayanya dalam diplomasi global.
Namun, bagi IOC, garis antara diplomasi olahraga dan afiliasi politik praktis adalah hal yang sakral.
Tantangan besar kini menanti Coventry yang baru terpilih pada 2025 lalu, terutama mengingat Olimpiade Musim Panas 2028 akan diselenggarakan di Los Angeles, AS.
Akankah keanggotaan Infantino di IOC terancam? Investigasi ini akan menjadi ujian pertama bagi ketegasan kepemimpinan Coventry dalam menjaga marwah netralitas Olimpiade di tengah pusaran politik global. ***














