Internasional
Amerika Mengancam, Jika Iran Menolak Kesepakatan, Trump akan Kirim Malapetaka

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih terlibat dalam “percakapan produktif” dengan Iran meskipun Teheran menyatakan telah menolak rencana perdamaian dari AS.
FAKTUAL INDONESIA: Amerika Serikat kembali menunjukkan arogansinya dalam rasa frustasinya karena tidak mampu menaklukkan Iran lewat perang maupun diplomasi untuk mengakhiri perang yang dirancang dan diwujudkan bersama Israel itu.
Dalam keterangannya kepada para wartwan, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan, Presiden AS Donald Trump akan “melepaskan malapetaka” terhadap Iran jika Teheran tidak menerima kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
“Jika Iran gagal menerima kenyataan saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” kata Karoline Leavitt dalam sebuah pengarahan di Washington, Rabu (25/3/2026) waktu setempat atau Kamis dini hari WIB.
“Presiden Trump tidak main-main dan dia siap melepaskan malapetaka,” kata Leavitt. “Iran tidak boleh salah perhitungan lagi,” imbuhnya lagi seperti dilansir AFP.
Dalam bagian lain seperti dilaporkan BBC dalam siaran langsungnya, Leavitt justru bertanya apakah Trump percaya AS harus berperan dalam memilih kepemimpinan baru di Iran. Ketik Reporter Gedung Putih BBC, Bernd Debusmann Jr, bertanya kepada Leavitt apakah presiden masih percaya AS harus berperan dalam memilih kepemimpinan baru Iran.
“Saya pikir presiden jelas percaya AS ingin memiliki seseorang dalam kepemimpinan rezim Iran yang akan menguntungkan” dan akan bekerja sama dengan AS dan “tidak lagi meneriakkan ‘matilah Amerika’. Itu jelas akan bagus,” katanya.
Jurnalis lain bertanya tentang komentar Trump baru-baru ini bahwa perubahan rezim telah tercapai di Iran
“Bukankah begitu?” jawab Leavitt. “Seluruh kepemimpinan mereka telah tewas, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar melihat atau mendengar kabar dari pemimpin baru yang diduga ini, jadi bukankah Anda mengatakan telah terjadi perubahan rezim?
“Telah terjadi perubahan kepemimpinan rezim, seperti yang dikatakan presiden, jadi terima kasih telah mengkonfirmasi bahwa dia benar,” katanya.
15 Poin Kesepakatan
Leavitt kemudian didesak lebih lanjut mengenai dugaan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang yang ditawarkan AS kepada Iran. Ia diminta untuk mengklarifikasi keakuratan informasi terkait ambisi nuklir dan Selat Hormuz dalam rencana tersebut.
“Jika Anda mendengarnya dari Presiden Amerika Serikat, jelas itu benar,” katanya, menjelaskan.
Namun, Leavitt kembali memperingatkan agar tidak mengambil informasi dari sumber anonim dan tidak membahas secara spesifik rencana perdamaian yang dilaporkan tersebut.
Ia kemudian ditanyai tentang kritik bahwa pendekatan Trump telah bergeser dari menuntut agar Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir menjadi pembatasan yang lebih ketat terhadap pengayaan nuklir secara keseluruhan.
Leavitt menjawab bahwa presiden telah “cukup jelas” tentang apa yang ingin dilihatnya dari rezim Iran.
Leavitt mengatakan bahwa setelah ancaman Trump untuk mengebom sumber energi Iran, telah jelas bahwa Iran ingin berbicara.
“Presiden Trump bersedia mendengarkan,” tambah Leavitt, menjelaskan bagaimana Trump telah terlibat selama tiga hari terakhir dalam “percakapan produktif” dengan Iran.
Ia mengatakan bahwa referensi presiden “selalu tentang perdamaian”, tetapi memperingatkan bahwa jika Iran gagal menerima realitas saat ini, Trump akan menyerang “lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya”.
“Presiden Trump tidak menggertak dan dia siap untuk melepaskan malapetaka,” lanjut Leavitt, dan mengatakan bahwa “kesalahan perhitungan” terakhir Iran telah merugikan mereka kepemimpinan, angkatan laut, dan sistem pertahanan udara mereka.
Operasi Militer Gemilang
Leavitt mengatakan operasi ‘lebih cepat dari jadwal’ dan rezim Iran kini mencari ‘jalan keluar’. Upaya militer AS semakin berhasil setiap harinya” dan sedang menurunkan kemampuan Iran untuk menyerang kapal dagang.
“Karena semua alasan ini, kita sangat dekat untuk memenuhi tujuan inti Operasi Epic Fury,” katanya, menambahkan bahwa 25 hari setelah perang dimulai, AS “lebih cepat dari jadwal”.
Ambisi nuklir Iran telah “dihancurkan”, katanya, dan rezim tersebut sedang mencari “jalan keluar”.
Dia mengatakan kampanye di Iran adalah ‘kemenangan militer yang gemilang’
Dia mengklaim AS telah menghantam 9.000 target hingga saat ini, dan bahwa AS “menghancurkan” angkatan laut rezim Iran – termasuk kapal penyebar ranjau.
Leavitt mengatakan ini adalah penghancuran angkatan laut terbesar selama periode tiga minggu sejak Perang Dunia Kedua. ***














