Connect with us

Ekonomi

Nilai Rupiah Anjlok Hingga Rp 16.200 per Dolar Amerika, Ini Penyebabnya

Diterbitkan

pada

Bank Indonesia akan terus mengawasi perkembangan nilai tukar rupiah. (ist)

FAKTUAL-INDONESIA : Usai libur Lebaran, Selasa (16/4/2024), nilai tukar rupiah anjlok hingga tembus Rp 16.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank Sentral Republik Indonesia memastikan sejumlah skema untuk menjaga nilai tukar rupiah. Apa penyebabnya?

Menyikapi hal ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan bahwa pihaknya akan terus mengawasi perkembangan nilai tukar rupiah melalui sejumlah skema, seperti pasar spot (tunai) atau pembelian secara tunai maupun non delivery forward (NFD).

“Kami akan memastikan nilai tukar akan terjaga, kami lakukan intervensi baik melalui spot maupun non delivery forward [NFD]. Kami jajakan koordinasi dengan pemerintah dengan fiskal bagaimana jaga moneter dan fiskal. Kami pastikan kami di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi,” ujarnya kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (16/4/2024).

Sekadar informasi, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah menuju level Rp16.210,5 setelah libur Lebaran 2024 pada Selasa (16/4/2024).

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 353,50 poin atau 2,23% menuju level Rp16.201,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,14% menuju posisi 106,35.

Advertisement

Adapun mata uang lain di kawasan Asia mayoritas dibuka melemah. Won Korea, semisal, turun 1,09%, diikuti ringgit Malaysia yang melemah 0,25%, dan yen Jepang turun 0,07%. Adapun, baht Thailand melemah 0,31% dan rupee India turun 0,03%.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2024 mencapai US$140,4 miliar, menurun dibandingkan posisi pada akhir Februari 2024 sebesar US$144,0 miliar.

Penurunan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, antisipasi kebutuhan likuiditas valas korporasi dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah seiring dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Meski turun, posisi cadangan devisa tersebut tetap tinggi.

Di samping itu, Bank Indonesia juga menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Terkait hal itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto mengatakan terdapat perkembangan di global yang membuat pelemahan rupiah pasca libur Lebaran. Salah satunya yakni memanasnya konflik Iran-Israel.

Advertisement

“Rilis data fundamental AS makin menunjukkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat seperti data inflasi dan retail sales yang di atas ekspektasi pasar. Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh memanasnya konflik di timur tengah khususnya konflik Iran-Israel,” kata Edi dalam keterangannya, Selasa (16/4/2024).

Perkembangan tersebut menyebabkan makin kuatnya sentimen risk off sehingga mata uang emerging market khususnya Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Indeks dolar (DXY) selama periode libur Lebaran telah menguat signifikan dari 104 menjadi di atas 106, bahkan pagi ini sudah mencapai angka 106,3.

“Selama libur Lebaran, Pasar NDF IDR di offshore juga sudah tembus di atas Rp 16.000 atau sudah di sekitar Rp 16.100, sehingga rupiah dibuka di sekitar angka tersebut (di atas Rp 16.100),” tutur Edi.

Menurut Edi, BI akan melakukan langkah- langkah konkret. Pertama, BI akan menjaga kestabilan Rupiah melalui menjaga keseimbangan supply-demand valas di market melalui triple intervention khususnya di spot dan DNDF.

Kedua, BI akan meningkatkan daya tarik aset Rupiah untuk mendorong capital inflow seperti melalui daya tarik SRBI dan hedging cost. Ketiga, BI tetap koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder terkait seperti pemerintah, Pertamina dan lainnya.***

Advertisement

 

 

 

 

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement