Ekonomi
Rupiah Senin 29 Juni 2026: Hattrick Menguat ke Level Rp17.851, Esok Masuki Fase Krusial

Nilai tukar (kurs) rupiah mencetak hattrick menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penututpan perdagangan valuta asing Senin (29/6/2026). (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah kembali unjuk gigi di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini. Menutup perdagangan hari Senin (29/6/2026), mata uang Garuda perkasa dengan menguat 71 poin atau melonjak 0,40% ke level Rp17.851 per dolar AS.
Apresiasi ini menjadi angin segar sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang sukses mencatatkan penguatan selama tiga hari perdagangan berturut-turut (hattrick), setelah sempat tertekan ke zona Rp17.900-an akhir pekan lalu.
Pada perdagangan valuta asing hari ini, rupiah sudah melangkah mantap sejak pembukaan ketika dibuka menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.922 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.956 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.962 per dolar AS.
Kenapa Rupiah Perkasa?
Melesatnya performa rupiah hari ini dipicu oleh meredanya tensi global serta bergesernya fokus para pelaku pasar:
- Redanya Ketegangan Global: Isu ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang sempat memanas dilaporkan mulai mendingin karena kedua belah pihak memilih menahan diri.
- Keluarnya Investor dari Safe Haven: Meredanya tensi ini membuat investor global kembali berani melirik aset-aset berisiko di negara berkembang, sehingga permintaan terhadap dolar AS (safe haven) otomatis menyusut.
- Sentimen Regional: Rupiah bergerak selaras dengan mayoritas mata uang utama dunia dan regional yang ikut memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS (DXY).
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang didorong meningkatnya ketidakpastian global.
Menurut Ibrahim, dari sisi eksternal, pasar masih mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran.
Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini seperti dilansir ipotnews, mengemukakan, kondisi pasokan minyak mulai membaik seiring normalisasi arus pelayaran melalui Selat Hormuz, namun situasi keamanan masih rapuh karena serangan yang kembali terjadi selama akhir pekan.
Selain faktor geopolitik, Ibrahim menilai penguatan dolar AS juga didukung pernyataan hawkish sejumlah pejabat bank sentral AS. Di sisi lain, data ekonomi AS turut memberikan dukungan terhadap dolar setelah Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan periode Juni meningkat menjadi 49,5 dari sebelumnya 48,9, melampaui ekspektasi pasar.
Meski demikian, Ibrahim menilai faktor domestik menjadi penopang utama penguatan rupiah. Menurutnya, pelaku pasar saat ini menantikan sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pada awal Juli.
“Pelaku pasar masih menunggu sejumlah indikator ekonomi awal bulan Juli, yakni data neraca perdagangan Indonesia serta tingkat inflasi. Kedua data tersebut diperkirakan menjadi pertimbangan penting dalam membaca kondisi ekonomi nasional dan arah pergerakan rupiah selanjutnya,” ujar Ibrahim.
Selain itu, pelaku pasar juga merespons positif rencana restrukturisasi badan usaha milik negara ( BUMN ) yang akan memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban anggaran pemerintah.
Sentimen positif domestik juga datang dari keputusan pemerintah untuk tidak menerima tawaran bantuan dana sebesar USD30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang dipandang sebagai cerminan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
“Di sektor keuangan, pemerintah juga akan kembali menempatkan dana miliknya di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp281 triliun,” tambah Ibrahim.
Selain itu, pemerintah menyiapkan dana siaga hingga Rp100 triliun yang dapat ditempatkan di perbankan guna memperkuat likuiditas dan meningkatkan kapasitas penyaluran kredit kepada masyarakat.
Proyeksi Selasa Besok
Untuk perdagangan hari Selasa (30/6/2026), pergerakan rupiah diperkirakan akan berada di fase krusial menjelang penutupan kuartal kedua tahun ini.
Para analis memproyeksikan pergerakan esok hari akan dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya pasar sedang bersikap waspada menanti rilis rangkaian data ekonomi penting dari China serta antisipasi data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll) akhir pekan nanti.
Jika sentimen domestik tetap solid dan bursa regional mendukung, rupiah berpotensi melanjutkan tren konsolidasinya. Namun, pelaku pasar diimbau tetap berhati-hati terhadap aksi window dressing (penataan portofolio) institusional menjelang tutup buku semester pertama 2026 yang dapat memicu fluktuasi mendadak.
Rupiah besok diprediksi bergerak stabil di rentang Rp17.820 – Rp17.890 per dolar AS.
Sementara itu Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.860 per dolar AS pada perdagangan Selasa (30/6/2026).
Untuk perdagangan esok hari, Ibrahim memperkirakan pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi domestik menjelang awal Juli, terutama data neraca perdagangan Indonesia dan inflasi. Kedua indikator tersebut diperkirakan menjadi acuan pasar dalam menilai kondisi fundamental ekonomi dan arah pergerakan rupiah. ***














