Ekonomi
Rupiah Kamis 20 Agustus 2026: Makin Perkasa Juara Asia Tenggara, Ruang Masih Terbuka

Rupiah melanjutkan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan menguat signifikan pada perdagangan valuta asing Kamis (20/8/2026) sehingga menjadi terkuat di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Mata uang rupiah unjuk kekuatan pada perdagangan hari ini, Kamis (20/8/2026). Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup perkasa dengan penguatan 92 poin atau 0,52% ke level Rp17.748 per dolar Amerika Serikat (AS) dari penutupan sebelumnya.
Sejak pembukaan perdagangan valuta asing di pagi hari, rupiah tetap melangkah di zona hijau meneruskan penguatan sehari sebelumnya, setelah dibuka menguat 30 poin atau 0,17 persen menjadi Rp17.810 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.840 per dolar AS.
Mendapat dorongan sejumlah katalis positif, mata uang Garuda selain tetap betah di zona hijau juga meningkatkan penguatannya sehingga ditutup makin perkasa.
Rupiah juga menguat pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ke level Rp17.779 dari sebelumnya Rp17.844 per dolar AS.
Pencapaian manis ini sekaligus menobatkan rupiah sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia Tenggara pada perdagangan hari ini. Sedangkan untuk kawasan Asia berada di posisi kedua setelah won Korea Selatan yang menguat sebesar 1,25% terhadap dolar AS.
Rupiah menjadi juara Asia Tenggara dengan mengungguli dolar Singapura yang menguat 0,13%, dan baht Thailand 0,02%. Sebaliknya peso Filipina melemah 0,05%, ringgit Malaysia turun 0,06%.
Mata uang Asia lainnya, yen Jepang menguat 0,28%, yuan China 0,09%, dan dolar Taiwan stabil namun rupee India tertekan 0,07%.
Faktor Pendorong Penguatan
Kinerja impresif rupiah tidak terjadi begitu saja. Sejumlah katalis positif turut memberikan angin segar bagi pasar keuangan domestik:
- Dominasi Sentimen Regional: Mayoritas mata uang Asia ikut bergerak di zona hijau, dengan Ringgit Malaysia dan Peso Filipina turut mengekor tren positif penguatan terhadap dolar AS.
- Pelemahan Indeks Dolar AS: Tekanan pada indeks greenback global memberikan ruang napas yang longgar bagi aset-aset di negara berkembang (emerging markets).
- Sentimen Domestik yang Solid: Stabilitas ekonomi makro dalam negeri turut mendongkrak kepercayaan investor asing untuk kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengemukakan, dari sentimen global, Departemen Keuangan AS meningkatkan program pembelian kembali sekuritas jangka panjang untuk mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang dari level tertinggi dalam beberapa tahun.
“Imbal hasil acuan Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps) dan imbal hasil tenor 30 tahun turun hampir sembilan basis poin setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) untuk mendukung likuiditas pada surat berharga pemerintah berjangka waktu lebih panjang,” kata Ibrahim seperti dilansir Metrotv.
Dalam bagian lain Ibrahim menilai penguatan rupiah dipengaruhi respons positif pasar terhadap rencana pemangkasan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada 2027.
“Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM pertalite,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis,
Pengurangan subsidi BBM dinilai menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mengendalikan subsidi. Dengan pemangkasan kuota hingga 58,5 persen, lanjut Ibrahim, masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.
Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar USD75 per barel pada 2027, masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran USD83 per barel.
“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari,” ungkap Ibrahim.
Selain itu, sikap hati-hati investor masih membayangi pasar menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal II yang dijadwalkan pekan ini. Hal tersebut mengingat defisit pada kuartal I sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 akibat kinerja perdagangan yang melemah di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak mentah dunia terus menguat.
Prediksi Pergerakan Jumat, 21 Agustus 2026
Menghadapi perdagangan akhir pekan besok, Jumat (21/8/2026), ruang penguatan rupiah dinilai masih terbuka, meski para analis mengingatkan adanya potensi aksi ambil untung (profit taking).
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.700-Rp17.750 per USD pada perdagangan berikutnya.
- Analisis Teknikal: Rupiah diproyeksikan akan bergerak dinamis di kisaran level 700 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Faktor yang Perlu Dicermati: Pelaku pasar tetap akan memantau rilis data ekonomi global terbaru serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) yang kerap menjadi sentimen penentu arah pasar valas. ***













