Connect with us

Ekonomi

Pasar Keuangan Merah Total: Sama-sama Tergelincir, IHSG Merosot dan Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Ada Apa?

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah sama-sama tergelincir pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026) sehingga pasar keuangan doemstik memerah. (Ist)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah sama-sama tergelincir pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026) sehingga pasar keuangan doemstik memerah. (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia memerah total setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (15/4/2026).

Padahal, baik IHSG BEI maupun rupiah mengawali perdagangan saham dan valuta asing dengan meyakinkan ketika sama-sama dibuka menguat namun aksi ambil untung dan sikap pasar yang cenderung wait and see, membuat keduanya tergelincir ke zona merah.

Bahkan yang mengkhawatirkan rupiah selain belum mampu bangkit dari zona merah juga harus menerima kenyataan mencetak rekor baru  terlemah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG Parkir di Level 7.623

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 52,36 poin atau 0,68 persen ke posisi 7.623,59. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,37 poin atau 0,57 persen ke posisi 759,95.

Advertisement

Padahal, pada sesi pembukaan perdagangan, indeks sempat mencicipi zona hijau setelah menguat 74,95 poin atau 0,98 persen ke posisi 7.750,90. Kemudian kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 7,90 poin atau 1,03 persen ke posisi 772,22.

Namun akhirnya tertekan oleh aksi jual masif di sesi kedua.

Sepanjang perdagangan, seperti dilansir priskopliputan6, sebanyak 380 saham menguat dan 292 saham melemah serta 149 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 3.164.275 kali dengan volume perdagangan saham 51,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22,6 triliun.

Sektor saham kesehatan turun 2,81%, dan catat penurunan terbesar. Sektor saham infrastruktur melemah 1,33% dan sektor saham consumer siklikal menanjak 1%. Sementara itu, sektor saham energi tergelincir 0,27%, sektor saham basic susut 0,44%, sektor saham keuangan terpangkas 0,64%.

Di sisi lain, sektor saham transportasi melonjak 3,45%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham industri menanjak 1,54%, sektor saham consumer nonsiklikal menguat 0,30%, sektor saham properti bertambah 0,21%, dan sektor saham teknologi melompat 0,57%.

Advertisement

Seperti dilansir Kontan, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengungkapkan pelemahan IHSG antara lain disebabkan oleh aksi profit taking setelah mengalami reli sekitar sepekan terakhir. Selain itu, rupiah juga mengalami pelemahan ke level Rp 17,140 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah penguatan tipis indeks Dolar AS (15/4/2026)

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengemukakan, untuk perdagangan Kamis (16/4/2026), IHSG masih rawan bergerak terkoreksi dengan support 7.593 dan resistance 7.659.

Herditya menerangkan pergerakan indeks esok akan diwarnai oleh sejumlah sentimen, antara lain rilis data makro AS dan juga rilis data GDP China.

Herditya membagikan sejumlah rekomendasi saham untuk dicermati investor, antara lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di target harga Rp 4.070-Rp 4.270, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dengan target harga Rp 1.115-Rp 1.150, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) di level target harga Rp 1.215-Rp 1.245 per saham.

Rupiah Rekor Terlemah

Advertisement

Senada dengan pasar saham, nilai tukar rupiah juga tak berdaya melawan kegagahan dolar AS. Rupiah juga mengawali perdagangan dengan menguat 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.123 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS.

Namun pada penutupan tergelincir ditutup melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.143 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.141 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.135 per dolar AS.

Dengan kurs ini, rupiah kembali mencetak rekor sebagai level penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Rupiah tertekan oleh sikap pasar yang cenderung wait and see terhadap data ekonomi Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik global yang belum sepenuhnya mereda.

Advertisement

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menegaskan bahwa dominasi tekanan global masih menjadi batu sandungan utama bagi penguatan rupiah.

“Tekanan eksternal masih mendominasi, meskipun dolar AS sempat melemah. Optimisme pasar terhadap potensi tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor yang menahan penguatan dolar, namun belum cukup kuat untuk mendorong apresiasi signifikan pada rupiah,” ujar Amru dilansir mediaindonesia.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi perkembangan eskalasi di Timur Tengah. “Ini terjadi setelah pembicaraan gencatan senjata AS-Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan,” ujar Ibrahim.

Dia menyebutkan, dari sisi internal, rupiah melemah setelah Dana Moneter International (IMF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 mencapai 5%. Angka ini lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatatkan kenaikan 5,1%.

Adapun untuk Kamis (16/4/2026), Ibrahim melihat perkembangan eskalasi di Timur Tengah masih mempengaruhi gerak rupiah. Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Kamis (16/4/2026) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.140 – Rp 17.180 per dolar AS. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement